Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
Amanah berskala nasional tersebut dimanfaatkannya untuk meningkatkan literasi digital sekaligus mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi ratusan mahasiswa di Nusa Tenggara Timur.
Dalam agenda penutup itu, Arleen memfokuskan edukasi pada literasi keamanan siber atau cybersecurity, khususnya dalam membangun pola pikir kritis mahasiswa untuk mengenali ancaman manipulasi konten hingga penipuan berbasis AI.
Keberhasilan agenda tersebut melengkapi lima rangkaian kegiatan edukatif yang telah dijalankan Arleen secara maraton sejak Mei 2026. Seluruh program digital itu diikuti lebih dari 100 mahasiswa lintas program studi di Undana.
Rangkaian program tersebut meliputi Gemini Hangout, sesi diskusi tentang perkembangan teknologi AI dan dampaknya terhadap dunia kerja masa depan.
Ada pula Gemini and MBTI Find Your Path, sesi pemetaan jalur karier masa depan yang disesuaikan dengan hobi dan kepribadian mahasiswa.
Selanjutnya Gemini AI Brand Builder, pelatihan promosi produk mulai dari pembuatan video, lirik lagu, hingga foto katalog bisnis dengan bantuan AI.
Program lainnya yakni Gemini Creative Universe, yang mengajarkan pembuatan situs web, aplikasi, gim, hingga buku cerita digital hanya dengan perintah teks atau prompting tanpa harus menguasai bahasa pemrograman.
Program tersebut mendapat respons positif dari kalangan mahasiswa. Salah satunya datang dari William John Ratingu, mahasiswa semester enam Prodi Administrasi Bisnis Undana.
Ia mengaku memperoleh wawasan baru terkait perlindungan digital yang sangat aplikatif setelah mengikuti kelas keamanan siber.
“Kami dididik untuk langsung mengetahui dan membedakan mana konten atau iklan manipulatif yang dibuat oleh AI dan mana yang asli. Melalui sesi ini, kami belajar membangun sistem proteksi pada perangkat kami sendiri,” kata William.
Kelancaran seluruh rangkaian program berskala nasional di lingkungan kampus ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pihak program studi yang memfasilitasi ruang laboratorium komputer serta kestabilan jaringan internet selama kegiatan berlangsung.
Selama ini, AI kerap dianggap sebagai teknologi yang rumit atau bahkan memicu kekhawatiran akan berkurangnya lapangan kerja tradisional. Namun melalui pendekatan edukasi yang inklusif, mahasiswa Undana didorong untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.
Mereka diarahkan menjadi kreator yang mampu melahirkan aplikasi, situs web, hingga materi pemasaran digital tanpa hambatan kode pemrograman atau no-code development.
Dengan bekal literasi AI dan keamanan siber tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah di era digital. (uan)