Catatan Seorang Jurnalis: Oranye di Timur
Dewangga Ardhiananta June 26, 2026 06:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Indonesia timur berubah jadi Oranye setiap kali timnas Belanda main di pertandingan Sepakbola Piala Dunia 2026.

Di Ambon, nonton bareng pertandingan Belanda vs Swedia digelar di Lapangan Merdeka, Minggu (21/6/2026).

Noreng kali ini istimewa karena dihadiri Dubes Belanda untuk Indonesia Marc Gerrit.

Usai noreng, puluhan ribu warga gelar konvoi keliling kota sambil membawa bendera merah putih biru.

Kemenangan Belanda 5-1 atas Swedia dirayakan bak pesta.

Orang menari, menyanyi, berdansa dan ada yang nyalakan flare.

Suasananya tak kalah dengan di Belanda sekalipun.

Antusiasme orang Ambon mendukung Belanda kian tinggi karena sosok Tijani Reinders.

Nyong Ambon ini jadi pilar di lini tengah tim Oranje.

Dan kemeriahan Ambon tiba juga di Belanda.

Kondisi di Papua sebelas dua belas.

Pendukung berkonvoi tiap kali timnas Belanda selesai bertanding.

Bahkan ada yang lebih ekstrem.

Di medsos beredar video sekelompok warga yang berpakaian oranye tengah gelar upacara penaikkan bendera Belanda dengan iringan lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus van Nassau.

Nah di Manado mungkin tak semeriah Ambon dan Papua.

Fans Oranje yang masih malu malu berkonvoi memilih memasang bendera raksasa, lebih besar dari negara lain; seperti yang nampak di pesisir pantai Kelurahan Sindulang Satu, Kecamatan Tuminting.

Pertanyaan yang mencuat, mengapa orang Indonesia Timur cenderung mendukung Belanda secara membabi buta di tiap perhelatan bola.

Jawabannya adalah sejarah dan kultur.

Mungkin ini buah devide et impera Belanda yang memberikan keistimewaan kepada suatu suku dan menindas suku lain.

Belasan tahun lalu, saya pernah ketemu seorang yang sudah sangat lanjut.

Saya mewawancarainya tentang keadaan di masa lampau.

Jawabannya mengejutkan saya.

"Saya dan orang tua saya punya perasaan bahwa kami merasa tidak pernah dijajah oleh Belanda, orang Belanda datang di sini dan mereka memajukan peradaban, membangun gereja, sekolah dan berbagai keahlian," kata dia.

Bahkan, kata dia, Minahasa saling dekatnya dengan Belanda pernah hendak diangkat jadi twelfth provencenya (Provinsi Kedua Belas) Belanda.

Ia tak ragu menyebut zaman kejayaan Minahasa adalah di masa Belanda. Saat itu banyak orang Minahasa terdidik.

"Mereka jadi perintis pendidikan, militer dan dokter, saat Kartini hanya bisa menyurat dengan rekannya di Belanda, perempuan Minahasa sudah bisa baca, tulis, sekolah bahkan jadi anggota Volskraad," kata dia.

"Bahkan banyak orang Minahasa dulu mengetahui setidaknya dua bahasa asing, selain bahasa Belanda," kata dia.

Ia menilai, peruntungan Minahasa justru berubah setelah Indonesia merdeka.

Apalagi di zaman Orde Baru.

"Sistemnya sentralistik, Jawa sentris, pembangunan di Indonesia Timur sangat tertinggal, bahkan orang Minahasa jadi warga kelas dua," kata dia.

Pernah orang Minahasa jaya lagi.

Di masa cengkih.

"Tapi kemudian ada BPPC hingga harga cengkih jatuh," katanya.

Saya hanya menulis perkataan orang tua itu.

Tidak dalam posisi membenarkan.

Mungkinkah euforia Belanda di Indonesia timur hanya karena kedekatan sejarah antara Ambon, Papua dan Minahasa dengan Belanda?.

Atau itu sebenarnya tanda bahwa ada ketimpangan yang musti diatasi?.

Jika hipotesis yang kedua itu yang benar (saya harap tidak demikian), berarti ada kepedihan setelah lama jadi warga kelas dua dan Piala Dunia 2026 jadi panggung untuk protes meskipun secara tak sadar dengan mengibarkan bendera Belanda.

Mungkin ini sebuah imbauan.

Tolong jangan jadikan NKRI hanya mitos.

Tapi gulirkan pembangunan secara merata, agar kami yang di timur bisa merasa jadi orang Indonesia.

(TribunManado.co.id/Art)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.