SURYA.CO.ID, SURABAYA - Aliansi masyarakat yang mengatasnamakan 'Warga Surabaya Turun Jalan 031 Melawan' mendadak menghitamkan kawasan Jalan Gubernur Suryo depan Gedung Negara Grahadi lewat aksi demonstrasi, Jumat (26/6/2026) sore.
Tiba sekitar pukul 16.30 WIB, massa aksi yang kompak mengenakan baju serba hitam dan bermasker hitam terus melakukan orasi menyuarakan kritik pada pemerintah.
Suasana di sekitar lokasi pun sempat memanas akibat riuhnya orasi kritik tajam yang dilayangkan kepada pemerintah.
Massa aksi juga sempat terlibat adu mulut dengan pengguna jalan lantaran berupaya menerobos sisi badan jalan di tengah aksi demonstrasi.
Baca juga: Aksi Demo Mahasiswa di Surabaya Berlanjut, Tuntutan Tetap Hentikan Program Prioritas Pemerintah
Memanfaatkan momentum itu, massa aksi turut mengajak masyarakat untuk ikut bersuara.
Dengan membawa poster, massa aksi mengajak kendaraan yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai bentuk protes.
Sontak banyak pengendara yang ikut membunyikan klakson sehingga semakin meramaikan aksi demo sore ini.
Melengkapi suara kritis mereka, massa aksi juga turut menjabarkan poster besar bergambar Presiden Prabowo di jembatan penyeberangan orang di Jalan Gubernur Suryo.
“Petugas berbaju coklat di belakang pagar itu punya dapur MBG seribu lebih. MBG adalah korupsi sistemik yang diciptakan pemerintah yang hanya berorientasi pada kenyangnya perut mereka sendiri,” kata salah seorang orator.
Baca juga: Demo Di Depan DPRD Surabaya, Mahasiswa Tuntut Perbaikan Ekonomi dan Evaluasi MBG
Septia Rahma, Jubir Front Anti Kapitalisme menegaskan bahwa aksi hari ini adalah perpanjangan dari perlawanan Kota Surabaya.
“Seperti yang kita lihat per hari ini apa-apa mahal. Terus bahan pokok juga naik. Itu juga yang dikeluhkan oleh saya selaku pengusaha UMKM juga, yang merasa bahwa memang banyak sekali bahan pokok yang naik. Yang kemudian dikeluhkan oleh customer-customer saya. Itu representasi dari saya sendiri selaku pedagang kecil,” tegasnya.
Untuk itu, aksi ini adalah bentuk aksi untuk memperpanjang nafas perlawanan yang ada di Kota Surabaya.
Ia menyebut ada beberapa tuntutan dengan hal paling krusial adalah turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Tuntutan pembubaran komando teritorial dan hentikan keterlibatan TNI dalam ranah sipil juga diteriakkan karena sampai saat ini masyarakat seolah tidak diberikan ruang yang aman.
“Ke mana-mana selalu ada pengawasan. Selalu ada CCTV yang akan siap untuk menerkam kita, untuk menjadikan kita tahanan politik-tahanan politik yang selanjutnya,” tegas Septia Rahma.
Aksi kali itu diikuti oleh gabungan berbagai elemen masyarakat sipil Kota Pahlawan yang merasa kecewa dengan kondisi negara saat ini.
“Yang hari ini aksi ada beberapa elemen masyarakat mulai dari kelompok mahasiswa, buruh, bahkan kelompok pengangguran yang sampai sekarang belum mendapatkan lapangan pekerjaan yang dijanjikan oleh Wakil Presiden Gibran yaitu 19 juta lapangan pekerjaan,” tegas Septia Rahma Jubir Front Anti Kapitalisme.
Baca juga: Anggota DPRD Surabaya dari Partai Gerindra Diajak Duduk Bersila di Aspal Dengar Tuntutan Mahasiswa