Sekolah Rakyat Banyumas Harapan Nur Mauliza Jadi Ilmuwan, Darsito Tak Risau Lagi Pikirkan Biaya
rika irawati June 26, 2026 08:26 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Darsito (42) tak henti menatap putri semata wayangnya, Nur Mauliza (13), yang tengah unjuk keterampilan baris-berbaris di lapangan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas, Jumat (19/6/2026).

Berdiri di tepi lapangan bersama sejumlah orangtua lain, Darsito terlihat bangga.

Tangan kirinya yang menggenggam gawai diarahkan ke lapangan untuk mengabadikan momen.

Sedangkan tangan kanannya, sesekali menyeka sudut mata yang basah.

Pagi itu, Darsito bersama orangtua 50 siswa lain datang dalam acara open house dan pengambilan rapor siswa SRMP 13 Banyumas di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

"Saya bangga melihat putri saya bisa belajar di Sekolah Rakyat."

"Dia juga belajar baris-berbaris dan pencak silat," kata pria asal Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, itu.

Enam tahun lalu, setelah sang istri meninggal dunia, Darsito membesarkan putrinya seorang diri.

Dia menjadi tulang punggung keluarga sekaligus sosok ibu bagi Nur Mauliza.

Saat kepergian sang istri, putrinya baru berumur 7 tahun, masih duduk di kelas 2 SD.

"Istri saya meninggal dunia saat Nur masih kecil saat itu, karena sakit paru-paru," ungkapnya. 

Baca juga: Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Banyumas, Segera Beroperasi

Untuk menghidupi keluarga, Darsito bekerja serabutan.

Terkadang dia menjadi kuli sawah, tukang cangkul.

Namun, paling sering, dia menjadi pemetik kelapa.

Upah memetik kelapa hanya Rp750 per buah.

Paling banyak, dalam sehari, dia mengantongi pendapatan Rp50 ribu.

"Jadi, saya sangat bersyukur anak bisa masuk Sekolah Rakyat."

"Semua kebutuhan benar-benar terpenuhi, dari seragam, makan, dan sistemnya adalah asrama," ujarnya. 

Darsito optimistis, masa depan anaknya akan lebih baik darinya yang hanya pekerja serabutan. 

Selain mendapat ilmu pengetahuan dan keterampilan, putrinya menjadi sosok lebih percaya diri dan bersemangat setelah belajar di SRMP 13 Banyumas. 

Nur Mauliza menjadi berani tampil di depan umum.

"Saya sangat berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, jika tidak ada Sekolah Rakyat, mungkin saya kesusahan memenuhi kebutuhan sekolah anak," katanya.

SOLUSI PENDIDIKAN - Darsito tersenyum sembari mengelus kepala putrinya, Nur Mauliza (13), seusai kegiatan open house dan pengambilan rapor kenaikan kelas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Senin (19/6/2026). Di tahun pertama pembukaan, Sekolah Rakyat Banyumas menerima 50 siswa dari keluarga miskin.
SOLUSI PENDIDIKAN - Darsito tersenyum sembari mengelus kepala putrinya, Nur Mauliza (13), seusai kegiatan open house dan pengambilan rapor kenaikan kelas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Senin (19/6/2026). Di tahun pertama pembukaan, Sekolah Rakyat Banyumas menerima 50 siswa dari keluarga miskin. (Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad)

Sementara, bagi Nur Mauliza, belajar di Sekolah Rakyat memberi pengalaman baru.

Sistem asrama atau boarding school yang diterapkan memberinya tantangan.

Dia belajar mengatur waktu dan bertemu banyak teman di asrama.

"Pertama ke sini, awalnya malu dengan teman-teman lain. Tapi, lama kelamaan jadi akrab semua," katanya.

Nur menceritakan rutinitasnya di asrama, mulai dari bangun tidur, salat subuh, mengaji, olahraga pagi, sarapan, apel, sekolah, ekstrakulikuler, mengaji sore, belajar, dan tidur lagi.

Saat hari libur, kegiatan sekolah diganti bersih-bersih asrama atau kegiatan keasramaan.

Untuk ekstrakurikuler, Nur memilih kegiatan baris-berbaris, pencak silat, English Club, dan Pramuka. 

"Saya punya cita-cita menjadi ilmuwan atau TNI. Semoga, saya bisa meraih cita-cita itu," harapnya sembari tersenyum.

Sempat Dibayangi Putus Sekolah

Perasaan haru juga dirasakan Siti Rohimah (39), wali murid dari siswa kembar bernama Ahmad Hamdani (Dani) dan Ahmad Rabbani (Bani).

Air matanya seketika menetes saat dua remaja berumur 13 tahun itu tampil dalam paduan suara menyanyikan lagu Ibu, ciptaaan Haddad Alwi.

Rohimah sangat bersyukur kedua remaja tersebut bisa bersekolah di SRMP 13 Banyumas. 

"Alhamdulillah, sudah tidak ada beban. Anak jadi bisa melanjutkan sekolah."

"Misal tidak ada Sekolah Rakyat, mungkin anak saya tidak bisa sekolah," kata Rohimah, warga Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. 

Rohimah bercerita, Dani dan Bani sebenarnya bukan anak kandung.

Keduanya adalah keponakan, anak dari kakak Rohimah.

Namun, mulai diasuh Rohimah karena sang ibu meninggal dunia.

Sementara, ayah kedua remaja itu bekerja di luar Jawa tetapi tidak pernah pulang.

"Semula mereka ikut embah, tapi saya tidak tega."

"Akhirnya, saya yang merawat mereka sejak kelas 2 SD," ungkapnya.

Baca juga: Kabar Baik dari Sekolah Rakyat Banyumas, Tidak Ada Siswa yang Mundur

Dani dan Bani punya seorang kakak, namun terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya dan kini memilih bekerja.

Rohimah sendiri sehari-hari bekerja sebagai pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan empek-empek di depan SDN Kebumen di Baturraden. 

Pendapatan hariannya hanya sekitar Rp100 ribu.

Rohimah tak bisa membayangkan jika harus membiayai kedua remaja itu masuk sekolah umum.

Beruntung, dia terdaftar sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial RI.

"Awal mulanya Dani dan Bani masuk SR karena terdaftar sebagai PKH."

"Ada pendamping survei ke rumah, lalu mengusulkan anak-anak masuk Sekolah Rakyat," ujarnya. 

Rohimah bersyukur, kebutuhan Dani dan Bani selama di Sekolah Rayat terpenuhi dan gratis, mulai dari seragam, buku, hingga makan.

Dia tidak tahu harus bagaimana jika tidak mendapatkan bantuan tersebut. 

Sebab, di sekolah negeri pun tetap harus mengeluarkan biaya untuk seragam dan buku.

"Perasaan saya bangga sekali. Apalagi setelah melihat anak-anak berani tampil di panggung," jelasnya. 

Dani pun mengungkap kebahagiaannya bisa melanjutkan pendidikan di SRMP 13 Banyumas.

Dia tak bisa membayangkan jika bersekolah di sekolah umum.

Lantaran beban biaya, mungkin Dani dan Bani tak bisa melanjutkan atau bahkan mengalami putus sekolah.

Kini, menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, Dani bisa bertemu banyak teman. 

Dia juga aktif dalam kegiatan pencak silat dan PMR.

"Saya punya cita-cita ingin jadi polisi atau gamer."

"Mudah-mudahan itu bisa tercapai melalui Sekolah Rakyat," harapnya.

Membangun Karakter Anak Didik

TUNJUKKAN KETERAMPILAN - Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Banyumas unjuk keterampilan baris-berbaris di lapangan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Senin (19/6/2026). Selain baris-berbaris, siswa bisa mengikuti ekstra kurikuler di antaranya pencaksilat dan Pramuka.
TUNJUKKAN KETERAMPILAN - Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Banyumas unjuk keterampilan baris-berbaris di lapangan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Senin (19/6/2026). Selain baris-berbaris, siswa bisa mengikuti ekstra kurikuler di antaranya pencaksilat dan Pramuka. (Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad)

Di tahun pertama berdiri, Sekolah Rakyat Banyumas baru memiliki jenjang setingkat SMP.

Ada 50 anak dari keluarga miskin kategori desil satu dan desil dua yang menjadi siswa.

Dalam keseharian, mereka didampingi 12 guru dan 30 tenaga kependidikan yang dibagi tugas sebagai wali asuh dan wali asrama.

Proses pendampingan selama satu tahun inilah yang turut membangun kepercayaan diri pasar siswa hingga berani unjuk keterampilan di acara open house dan pembagian rapor yang dihadiri orangtua dan wali murid.

"Satu wali asuh bertanggung jawab terhadap 10 anak."

"Tugasnya menjadi orang tua saat anak-anak di asrama," ujar Afrida, satu di antara wali asuh di SRMP 13 Banyumas, Minggu (21/6/2026).

Satu tahun menjadi wali asuh, Afrida mengamati kepribadian masing-masing anak asuhnya.

Menurutnya, latar belakang kondisi ekonomi para siswa membentuk mereka menjadi pribadi minder.

Secara karakter, kebanyakan belum terbentuk.

Sehingga, di tahun pertama, wali asuh mengajarkan delapan karakter Anak Indonesia Hebat untuk membangun kulitas pribadi mereka.

Delapan karakter tersebut di antaranya tidur cukup, olahraga, juga menjaga kebersihan.

Dia cukup kaget saat pendidikan karakter ini diterapkan, anak-anak tersebut tidak terbiasa.

"Di awal, kami fokus ke hal-hal yang basic. Kami mengajari mereka menerima kondisinya di asrama, seperti jauh dari orangtua dan tidak pegang handphone sama sekali," ungkapnya. 

Baca juga: Geliat PKBM di Banyumas di Tengah Banyaknya Anak Tidak Sekolah di Banyumas

Komunikasi menjadi satu di antara tantangan yang dihadapi siswa di awal masuk asrama.

Mereka malu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan, termasuk kepada wali asuh.

Tetapi secara perlahan, keberanian membuka diri itu diajarkan wali asuh.

Setiap malam, dalam sesi curhat, mereka dibiasakan mengungkapkan isi hati untuk mendapatkan tanggapan dan validasi.

"Sampai detik ini, kami masih terus berproses."

"Sekarang, banyak anak yang merasa lebih percaya diri menyampaikan pendapatnya."

"Oh, ternyata enak ya bu ketika ngobrol langsung," ungkap Afrida menceritakan tanggapan anak asuhnya.

Afrida mengatakan, wali asuh bertanggung jawab mendampingi semua kegiatan anak didik dari bangun tidur sampai tidur lagi. 

Misalnya, saat pagi dan sore hari, ada kegiatan mengaji dan setoran hafalan Alquran.

Kemudian, bersama wali asrama mengadakan kegiatan vokasi atau keterampilan tambahan, seperti tata boga, ecoprint, dan menanam sayuran pokcoy, kangkung serta cabai di green house atau rumah kaca.

"Alhamdulillah, sedikit demi sedikit karakter mereka mulai terbentuk."

"Mereka sudah bisa bangun pagi tanpa harus dibangunkan," katanya. 

Memutus Rantai Kemiskinan 

Keberadaan Sekolah Rakyat tak sekadar menyediakan pendidikan dan tempat tinggal bagi anak dari keluarga miskin.

Lebih dari itu, program ini juga bertujuan memutus mata rantai kemiskinan.

"Prinsip utama Sekolah Rakyat ini untuk memutus mata rantai kemiskinan, sehingga kemiskinan yang mereka alami tidak berlanjut ke generasi selanjutnya," jelas Siti Isbandiyah, kepala SRMP 13 Banyumas, Jumat (19/6/2026).

Isbandiyah tak pernah membayangkan sebelumnya gambaran kemiskinan yang mungkin terjadi di Banyumas, hingga melihat langsung kondisi siswa SRMP 13 Banyumas.

Satu pekan menjadi kepala sekolah, perempuan yang akrab disapa Bu Is itu dibuat menangis setiap hari.

Isbandiyah bercerita, selama puluhan tahun berdinas di dunia pendidikan, dia terbiasa melihat calon siswa dan orangtua yang bersemangat menyekolahkan buah hati karena kemampuan secara finansial.

Namun, di Sekolah Rakyat berbeda.

Kebahagiaan sekolah di SRMP 13 Banyumas yang terpancar di mata siswa dan orangtua itu lebih kepada rasa syukur mendapat kemewahan fasilitas.

"Saya didera perasaan yang membuat tidak bisa ngomong, kok kaya dongeng, seperti bukan kenyataan."

"Saya belum pernah melihat kondisi kemiskinan yang seperti ini," katanya. 

Baca juga: Renungan Suci hingga Pawai Obor Jadi Puncak Peringatan HANI 2026 di Banyumas

Isbandiyah mengungkapkan, orangtua dari 50 anak didiknya mayoritas bekerja sebagai buruh serabutan, bahkan terkadang tidak punya pekerjaan. 

Kondisi siswa ada yang yatim piatu, dirawat saudara, juga orangtua penyandang disabilitas. 

Mereka juga mendapat perhatian dari pemerintah berupa bantuan sosial yang diserahkan Kementerian Sosial RI.

Ada juga peserta program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan bantuan usaha seperti modal atau gerobak.

"Sehingga, Sekolah Rakyat ini tidak dengan sistem pendaftaran, tapi acuannya adalah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang bisa masuk adalah keluarga kategori desil satu dan desil dua," jelasnya. 

Makin Mantap Melayani di Sekolah Rakyat

ASRAMA SISWA - Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Siti Isbandiyah (jas merah marun), menunjukkan asrama tempat tinggal peserta didiknya, Senin (19/6/2026). Sekolah Rakyat Banyumas menyediakan asrama bagi 50 siswa angkatan pertama, serta asrama bagi guru dan tenaga pendidik.
ASRAMA SISWA - Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kabupaten Banyumas, Siti Isbandiyah (jas merah marun), menunjukkan asrama tempat tinggal peserta didiknya, Senin (19/6/2026). Sekolah Rakyat Banyumas menyediakan asrama bagi 50 siswa angkatan pertama, serta asrama bagi guru dan tenaga pendidik. (Tribun Banyumas/Fajar Bahruddin Achmad)

Isbandiyah, sebelum menjadi Kepala SMPR 13 Banyumas, memiliki sepak terjang dan karier mentereng.

Pengalaman terakhirnya adalah memimpin dua sekolah favorit di Banyumas, yaitu SMAN 1 dan SMAN 2 Purwokerto.

Kemudian, sebelum SRMP 13 Banyumas beroperasi, namanya masuk dalam daftar kandidat yang diusulkan menjadi pemimpin sekolah. 

Setelah terpilih, sebenarnya, dia memiliki hak untuk menolak.

Namun, Isbandiyah memantapkan hati dan tekad untuk melahirkan generasi emas dari masyarakat berekonomi tidak mampu.

"Insyaallah, lolos sebagai kepala sekolah rakyat ini saya ikhlas."

"Saya yakin, pengalaman memimpin sekolah favorit sebelumnya adalah cara Allah agar bisa diimplementasikan di Sekolah Rakyat."

"Karena siswa Sekolah Rakyat inilah yang sesungguhnya harus diopeni (dijaga) secara serius," ungkapnya. 

Kondisi yang menohok perasaan Isbandiyah adalah saat dia menanyakan cita-cita siswa SRMP 13 Banyumas. 

Hampir semua siswa kebingungan dan tidak percaya diri menyampaikan harapan mereka.

Bahkan, satu di antara siswa menjawab ingin menjadi tukang cilok keliling. 

"Astagfirullah, (jawaban itu) tidak terlintas di pikirin saya. Biasanya, minimal ingin jadi satpam, tentara, polisi, atau guru."

"Saya jawab begini, 'gak apa-apa nak, tapi jadilah kamu juragan cilok yang punya restauran cilok dan semua orang ingin mencicipi'," ceritanya.

Tak hanya penguatan materi pelajaran, Isbandiyah ingin membangun karakter dan membangkitkan kepercayaan anak didiknya di SRMP 13 Banyumas. 

Dia menekankan, semua harapan dan cita-cita itu bisa diraih dengan dimulai dari ibadah, berinteraksi dengan teman, mengembangkan bakat minat, hingga empati terhadap lingkungan. 

Termasuk, ada kegiatan membuka cakrawala berpikir, bahwa dunia ini tidak sesempit rumah atau lingkungan.

"Kami juga melakukan kerjasama dengan beberapa instansi dan komunitas untuk menghadirkan kebaruan-kebaruan dalam proses pemikiran mereka," jelasnya. 

Tekan Angka Anak Tidak Sekolah

Kehadiran Sekolah Rakyat di Kabupaten Banyumas, membantu Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam upaya mengatasi permasalahan anak tidak sekolah (ATS).

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri mengungkapkan, data awal, tercatat ada 15.458 anak tidak sekolah di Banyumas.

Namun, dari verifikasi terhadap anak usia 5-18 tahun, jumlah tersebut berkurang menjadi 7.178 anak.

Semua data tersebut masuk dalam Sistem Informasi Penanganan Anak Tidak Sekolah (Sipatas) Banyumas.

"Harapan kami, Dinas Pendidikan bisa bersinergi dengan Sekolah Rakyat untuk mengatasi permasalahan anak tidak sekolah sehingga menghasilkan keluaran yang benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat secara langsung," jelasnya, Jumat (19/6/2026).

Menurut Widodo, dari verifikasi di lapangan, ada beragam faktor yang memicu ATS di Banyumas, di antaranya pindah domisili, kurangnya minat belajar, pengaruh lingkungan, hingga pernikahan dini.

Dalam upaya menekan angka ATS, Pemkab Banyumas pun melakukan sejumlah pendekatan.

"Bisa kembali ke pendidikan formal atau mengikuti pendidikan nonformal atau kesetaraan," jelasnya. 

Baca juga: Ada Peran 40 PKBM, Jumlah Anak Tidak Sekolah di Banyumas Turun Drastis. Tinggal 13 Ribu Anak

Dengan kehadiran Sekolah Rakyat, upaya menekan masalah ATS karena faktor ekonomi bisa menjadi solusi.

Informasi yang dia dapat, tahun 2026 ini, Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) akan mulai beroperasi di Kabupaten Banyumas.

Ini berarti, Sekolah Rakyat akan menerima murid baru mulai jenjang SD, SMP, dan SMA.

Dengan kuota, 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.

Kebermanfaatan Sekolah Rakyat sebagai upaya menekan angka anak tidak sekolah juga mendapat apresiasi dari Komisi 4 DPRD Kabupaten Banyumas. 

Anggota Komisi 4 DPRD Banyumas, Andik Pegiarto mengungkapkan, Pemkab Banyumas bisa bersinergi dengan Sekolah Rakyat dalam mengatasi persoalan pendidikan ini.

Dia menilai, setidaknya, Sekolah Rakyat akan mengakomodir masyarakat kurang sejahtera di desil satu dan desil dua untuk mendapat akses pendidikan.

Sekaligus, dalam mengatasi ribuan anak tidak sekolah. 

"Ini perlu didorong dan mendapatkan perhatian. Tujuannya agar anak-anak dari masyarakat kurang sejahtera bisa mendapatkan pendidikan gratis," ungkapnya, Selasa (23/6/2026).

Saat ini, Sekolah Rakyat Terpadu di Banyumas dibangun di Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang.

Berdiri di atas lahan seluas 6,7 hektare, Sekolah Rakyat Terpadu Banyumas akan memiliki luas bangunan mencapai 2,6 meter persegi.

Sekolah ini diharapkan bisa melayani pendidikan anak dari keluarga miskin mulai tahun ajaran 2026/2027. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.