Pertalite dan Solar Langka di Ponorogo, Pertamina Terapkan Strategi 'Double Alih Suplai'
Sudarma Adi June 26, 2026 06:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO — Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mendadak sepi melompong akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar pada Jumat (26/6/2026).

Kondisi ini membuat para pengendara kelimpungan dan memaksa sebagian besar di antaranya berburu sisa stok hingga ke pinggiran kota.

Krisis pasokan BBM subsidi ini disinyalir terjadi sebagai dampak domino pasca-kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang kini menyentuh angka Rp16.250 per liter.

Perbedaan disparitas harga yang mencolok membuat masyarakat berbondong-bondong mengalihkan konsumsi kendaraan mereka ke produk subsidi.

Baca juga: Sulitnya Cari BBM Pertalite dan Solar di Sejumlah SPBU Ponorogo, Warga pun Kelimpungan

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat pagi sekitar pukul 09.30 WIB, pemandangan kontras terlihat di beberapa titik pengisian. Di SPBU Keniten (Jalan Arif Rahman Hakim) dan SPBU Jeruksing (Jalan Ir Juanda), jalur pengisian Pertalite dan Solar tampak dipasangi banner bertuliskan “BBM Dalam Pengiriman”. 

Akibatnya, area SPBU sepi dari aktivitas kendaraan yang biasanya mengantre panjang.

Sementara itu, di SPBU Pasar Pon (Jalan Batoro Katong), kekosongan hanya terjadi pada komoditas Pertalite, sedangkan Solar terpantau masih tersedia hingga memicu antrean mengular dari deretan truk.

Pemandangan paling ekstrem terlihat di SPBU Sinduro (Jalan Ahmad Yani); karena menjadi salah satu dari sedikit tempat yang masih menyediakan Pertalite, antrean kendaraan roda dua di lokasi ini meluber hingga memakan bahu jalan raya.

"Daripada motor saya mogok dan tidak bisa bekerja, lebih baik saya ikut antre panjang di sini. Sekarang kalau beli Pertamax terasa sekali borosnya di dompet. Beli Pertamax satu liter harganya Rp16.250, kalau dibelikan Pertalite yang harganya Rp10.000 bisa dapat hampir 1,6 liter," keluh Yeyek Sayekti, salah seorang warga pengguna Honda Beat saat ditemui di lokasi antrean SPBU Sinduro, Jumat (26/6/2026).

Yeyek menambahkan, jika kondisi SPBU di dalam kota benar-benar lumpuh tanpa stok, ia terpaksa membeli bensin di tingkat pengecer atau Pertamini dengan harga Rp12.000 hingga Rp13.000 per botol.

Penjelasan Pertamina: Serapan Kuota Ponorogo Nyaris Habis

Merespons jeritan konsumen di lapangan, PT Pertamina Patra Niaga angkat bicara. Pihaknya mengakui terjadi lonjakan konsumsi yang luar biasa masif di tengah masyarakat sepanjang bulan Juni ini.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membeberkan data kuota bahwa per Juni 2026, alokasi Pertalite khusus untuk Kabupaten Ponorogo dipatok sebesar 35.905 Kilo Liter (KL). Namun, realisasi penyaluran di lapangan hingga tanggal 26 Juni telah menyedot angka 35.736 KL.

"Artinya, per hari ini sekitar 95 persen dari total kuota bulanan Pertalite di Ponorogo telah tersalurkan. Sementara untuk produk Biosolar di lingkup Jawa Timur secara umum, realisasinya bahkan sudah menembus di atas 100 persen dari kuota berjalan," terang Ahad dalam keterangannya tertulisnya.

Strategi 'Double Alih Suplai' dan Prioritas Tangki Pengirim

Guna mengurai antrean panjang dan menormalkan kembali distribusi energi, Pertamina mengklaim telah mengaktifkan status mitigasi darurat berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.

Pertamina memaksimalkan operasional armada mobil tangki dengan memberlakukan skala prioritas pengiriman. Armada tangki difokuskan penuh untuk menyuplai wilayah-wilayah yang mencatatkan tingkat hambatan pasokan terparah serta demand (permintaan) tertinggi di lapangan.

"Per hari ini (26/6), kami menerapkan mitigasi tambahan melalui skema double alih suplai. Jadi, pasokan BBM muatan yang dikirimkan ke Ponorogo akan ditambah dengan mengambil stok dari Terminal BBM (supply point) terdekat lainnya. Kami berharap rentetan langkah taktis ini bisa segera mempercepat normalisasi pelayanan di seluruh SPBU," pungkas Ahad Rahedi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.