Dibatasi Hanya Rp 300.000, Sopir Truk Antre Beli Solar hingga 7 Jam di Lumajang 
Haorrahman June 26, 2026 06:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Antrean truk untuk membeli solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengular hingga mencapai 200 meter. Bahkan sopir truk harus menunggu hingga 7 jam. Selain antre, pembelian solar juga dibatasi hanya Rp 300.000.

Seperti yang terlihat di SPBU Sukodono, Jumat (26/6/2026). Antrean truk mengular hingga sekitar 200 meter dan meluber ke Jalan Soekarno-Hatta. Antrean ini membuat arus lalu lintas di kawasan itu tersendat.

Riko, sopir truk pengangkut tebu asal Kecamatan Padang, mengaku harus menunggu selama dua jam untuk mendapatkan solar.

"Mulai pukul 12.30 WIB, sampai 14.30 WIB baru dapat solar," ujarnya.

Menurut Riko, selain antrean yang panjang, pembelian bio solar juga dibatasi maksimal Rp300 ribu untuk setiap kendaraan. Kebijakan tersebut diterapkan agar seluruh kendaraan yang mengantre tetap memperoleh pasokan.

"Rp 300 ribu pengisian solar, tidak sampai full tank truk. Bahkan tidak cukup untuk perjalanan pulang pergi Lumajang-Banyuwangi," katanya.

Baca juga: Dugaan Penimbunan 1.000 Liter Solar Hasil OTT Bupati Lumajang, Tak Penuhi Unsur Pidana

Ia menyebut kondisi serupa telah berlangsung sekitar satu pekan terakhir dan berdampak langsung terhadap pekerjaannya.

"Pengiriman tebu ke pabrik lebih lama, waktunya habis untuk ngantre BBM," ucapnya.

Sebagai sopir yang rutin mengirim tebu ke pabrik gula di Lamongan, Banyuwangi, Blitar, dan Malang, Riko mengaku kini harus mencari SPBU yang masih memiliki stok solar di sepanjang perjalanan.

"Nanti habis dari Banyuwangi, ngisi lagi saat sampai di Jember kalau ada. Kalau susah ya terpaksa ngantre lagi," tuturnya.

Baca juga: Kelanjutan Penimbunan Solar 1.000 Liter di Lumajang Simpang Siur, Polisi Tegaskan Masih Berjalan

Antre Tujuh Jam

Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Tempursari. Sejumlah sopir truk mengaku mulai mengantre sejak pukul 03.00 WIB dan hingga pukul 10.00 WIB masih belum mendapatkan solar.

Rohim, salah seorang sopir truk, mengatakan ketidakpastian stok membuat para pengemudi hanya bisa menunggu.

"Sampai sekarang belum dapat. Ini saya nanti kalau habis tidak dikasih tahu. Mulai kemarin sudah kayak gini," katanya.

Baca juga: Harga Solar Dex Naik, Harga Pasir Lumajang juga Ikut Naik hingga 30 Persen

Distribusi Terlambat

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Pemkab Lumajang, Aksanul Iman, menjelaskan antrean panjang dipicu meningkatnya permintaan BBM subsidi secara bersamaan di berbagai wilayah Jawa Timur.

"Ada permintaan yang tinggi se-Jawa Timur, khususnya pertalite dan biosolar, sehingga Pertamina harus mengatur jadwalnya," ujarnya.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Pertamina, keterlambatan distribusi juga dipengaruhi terbatasnya armada pengangkut BBM.

"Ada keterbatasan armada dari Pertamina sehingga ada keterlambatan pengiriman, tapi kuotanya aman," ungkap Aksan.

Selain itu, tidak beroperasinya dua SPBU di wilayah Pasirian dan Lumajang turut memperparah antrean di SPBU lain yang masih melayani pengisian BBM subsidi.

Meski demikian, Pemkab belum dapat memastikan kapan kondisi distribusi akan kembali normal.

"Pertamina belum bisa memastikan kapan kondisi seperti ini akan berakhir karena memang ada keterbatasan armada sehingga distribusi terhambat," tambahnya.

Baca juga: Kasus Penyelewengan Solar Subsidi di Jember, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Sopir Truk Rugi

Kelangkaan solar juga dirasakan Wahyudi, sopir truk pasir asal Kecamatan Pasirian. Ia terpaksa menempuh puluhan kilometer menuju SPBU Sukodono setelah tidak menemukan stok solar di SPBU Pasirian.

"Kosong di sana, jadi cari ke sini. Barusan saya di sana sudah habis. Sekarang baru sampai di sini, antre panjang juga," ujarnya.

Akibat sulit memperoleh solar, Wahyudi mengaku sudah dua hari tidak dapat bekerja karena bahan bakar di tangki truknya hampir habis.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat dirinya kehilangan pendapatan sekitar Rp400 ribu.

"Sudah dua hari ini tidak ngangkut. Biasanya sehari bisa dapat Rp200 ribu, ini sudah dua hari berarti ada Rp400 ribu pendapatan hilang gara-gara antre solar," katanya.

Wahyudi berharap distribusi BBM subsidi di Lumajang segera kembali normal agar aktivitas angkutan barang, khususnya truk pasir, dapat berjalan seperti biasa.

"Kalau ini pengisian solar lancar, mudah-mudahan lancar juga pengiriman sopir," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.