Rupiah Langsung Ditutup Menguat Imbas Anggaran MBG Akan Dipangkas, Pasar Merespons Positif
Rita Noor Shobah June 26, 2026 07:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (26/6/2026) sore ditutup menguat setelah sempat tertekan mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Level psikologis adalah batas angka tertentu yang dianggap penting oleh pelaku pasar karena dapat memengaruhi sentimen dan arah pergerakan harga.

Penguatan rupiah kali ini ditopang oleh rencana pemerintah memperketat kebijakan fiskal serta intervensi aktif Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing.

Baca juga: Penutupan Perdagangan Hari Ini, Nilai Tukar Rupiah Nyaris Sentuh Rp 18.000 per Dollar AS

Kebijakan fiskal adalah strategi pemerintah dalam mengatur penerimaan dan pengeluaran negara untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Imbas Anggaran MBG Dipangkas

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah ditutup menguat 21 poin ke level Rp 17.922 per dolar AS.

“Pasar merespon positif terhadap pemerintah yang mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran lebih lanjut untuk program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga stabilitas fiskal,” tutur Ibrahim melalui keterangan resmi, Jumat (26/6/2026).

Pagu anggaran program tersebut telah dipangkas dari rencana awal Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun, kemudian kembali disesuaikan menjadi sekitar Rp 228,38 triliun.

Pemerintah juga masih mengkaji opsi pemangkasan tambahan hingga Rp 50 triliun.

Baca juga: Harga Obat Berpotensi Naik saat Rupiah Tertekan, Ini Penjelasan Menkes soal Komponen Biaya

Peran Bank Indonesia

Di sisi lain, BI juga terus memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam volatilitas rupiah.

"Apabila pelemahan masih berlanjut maka strategi yang dilakukan BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan 100 basis poin (bps) hanya dalam waktu dua bulan."

"Sedangkan yang dibutuhkan pasar saat ini adalah jangkar ekspektasi yang jelas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama serta didukung koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal," jelas Ibrahim.

Komunikasi kebijakan BI juga harus terus diperkuat agar pasar tetap yakin terhadap komitmen bank sentral menjaga stabilitas rupiah.

Baca juga: Hujan Tak Surutkan Aksi HMI Samarinda, Ancam Akan Kembali dan Kejar DPRD Kaltim Bahas BBM dan Rupiah

"Dari sisi komunikasi, BI perlu terus menegaskan konsistensi arah kebijakan, kecukupan cadangan devisa dan instrumen stabilisasi, serta komitmen untuk menjaga agar pelemahan rupiah tidak berujung pada lonjakan inflasi maupun gangguan stabilitas sistem keuangan," ungkapnya.

Untuk perdagangan Senin pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.920 - Rp 17.960 per dolar AS. Sementara dalam sepekan ke depan, nilai tukar diproyeksikan berada pada rentang Rp 17.880 hingga Rp 18.100 per dolar AS. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.