Isu Keretakan di Gedung Putih Mencuat, Beda Pendapat Soal Iran-Israel jadi Pemicu
Garudea Prabawati June 26, 2026 07:19 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kesolidan di kabinet Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump makin dipertanyakan.

Pasalnya, para pembantu Trump mulai berbeda pendapat pasca-penandatanganan kesepakatan damai antara AS dengan Iran.

Dua figur paling berpengaruh dalam kebijakan luar negeri AS saat ini, Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, terlihat menunjukkan sikap kontras mengenai konflik Timur Tengah.

Terlebih saat mengaitkan isu manuver militer Israel beberapa waktu ini di Iran dan Lebanon.

Mengutip Reuters, perbedaan dimulai ketika Vance melontarkan pernyataan mengejutkan perihal sikap Israel.

Tanpa basa-basi, Vance mengecam kelompok garis keras di Israel yang menentang draf perdamaian AS-Iran.

Vance bahkan secara terbuka menyoroti aksi militer Israel yang membombardir infrastruktur sipil di Beirut, Lebanon.

Meskipun Israel berdalih serangan tersebut bertujuan melumpuhkan basis Hizbullah, Vance menilai tindakan tersebut tidak proporsional dan justru berisiko menyabotase koridor damai yang sedang dirintis susah payah oleh Washington.

Sikap akomodatif Vance semakin terlihat saat ia terbang ke Swiss untuk bernegosiasi dengan delegasi Iran.

Dengan nada optimistis, politikus muda berlatar belakang anti-intervensionisme militer ini melempar gagasan agar negara-negara kaya di Teluk Arab ikut patungan mendanai rekonstruksi pascaperang di Iran.

Tak hanya itu, Vance membeberkan bahwa Pentagon telah mengundang perwira intelijen Iran ke Qatar untuk bertindak sebagai penghubung komunikasi guna mencegah salah paham militer.

Baca juga: Selat Hormuz Memanas! AS dan Negara Teluk Kompak Tolak Usulan Iran Patok Tarif di Jalur Energi Dunia

Berbeda dengan Vance, Rubio memilih jalan untuk menenangkan para sekutu utama AS di Teluk.

Vance berbicara dengan para syekh Arab yang cemas dan curiga bahwa kesepakatan AS-Iran terlalu banyak memberi angin segar serta keuntungan sepihak bagi Teheran.

Di depan para pemimpin Teluk, Rubio secara diplomatis mementahkan wacana rekonstruksi Iran yang digaungkan oleh Vance.

"Urusan pendanaan rekonstruksi itu masih sangat jauh di depan," tegas Rubio pada Selasa (23/6/2026).

Rubio menggarisbawahi bahwa kesepakatan damai dengan Iran tidak boleh longgar.

Aturan mainnya harus kokoh dan mengikat demi menjamin keselamatan aset serta keamanan nasional AS beserta sekutu regionalnya, termasuk pertahanan Israel dari proksi-proksi Iran.

Tensi Iran Vs Israel Masih Panas

Hubungan antara Iran dengan Israel hingga saat ini masih panas, meski AS mulai melunakkan diri dari konflik.

Terbaru, Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran melayangkan peringatan keras terhadap pergerakan pesawat militer Israel.

Mereka menduga pesawat militer Israel memanfaatkan wilayah udara negara-negara tetangga untuk mendekati wilayah Iran.

Pernyataan tegas ini dirilis oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya melalui lembaga penyiaran resmi pemerintah Iran, IRIB.

Baca juga: Iran Marah, Trump Klaim Uang Teheran Bakal Dipakai Borong Produk AS

Pihak militer Iran menilai bahwa manuver jet tempur atau aset udara sekutu Barat tersebut dapat memicu eskalasi konflik yang lebih fatal.

"Pergerakan dan kehadiran 'tentara teroris rezim Zionis' di langit beberapa negara tetangga yang mengarah ke Iran adalah tindakan yang sangat berbahaya dan menjadi ancaman langsung bagi kedaulatan negara kami," bunyi pernyataan resmi Markas Besar Khatam al-Anbiya, dikutip dari Anadolu.

Meski mengeluarkan ancaman serius, pihak militer Teheran memilih untuk merahasiakan identitas negara yang dimaksud.

Dalam rilis tersebut, tidak disebutkan secara spesifik negara tetangga mana saja yang telah memberikan izin atau kecolongan atas wilayah udaranya yang dilintasi oleh armada militer Israel.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.