TRIBUNNEWS.COM - Istidraj adalah keadaan ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan dunia, seperti harta, jabatan, kesehatan, atau kemudahan hidup, padahal ia tetap melakukan maksiat dan semakin jauh dari Allah SWT.
Menurut Kementerian Agama, kenikmatan tersebut bukanlah tanda keberkahan, melainkan bisa menjadi cara Allah membiarkannya terlena hingga akhirnya mendapat azab tanpa disadari.
Secara bahasa, istidraj berasal dari kata istadraja-yastadriju-istidrājan yang berakar dari kata daraja, yang berarti tangga, meningkat, atau berlangsung sedikit demi sedikit.
Sementara secara istilah, istidraj adalah pemberian kenikmatan materi yang terus bertambah, tetapi kenikmatan batin dan kedekatan kepada Allah justru semakin berkurang.
Orang yang mengalami istidraj dibiarkan mengikuti hawa nafsu dan terus berbuat maksiat hingga semakin jauh dari jalan yang benar.
Ketika ia merasa hidupnya baik-baik saja, azab Allah dapat datang secara tiba-tiba tanpa diduga.
Hal ini disebutkan dalam Alquran Surat Al-'Araf ayat 182-183.
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh” (QS. Al-‘Araf [7]: 182-183).
Allah ﷻ berfirman, “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Q.S. al-Qalam [68]: 44)
Dalam hadis disebutkan bahwa ketika seseorang terlena dengan istidraj maka ia tidak akan mengetahui kapan dan bagaimana Allah SWT akan membalas perbuatan dosanya.
Baca juga: Doa Niat Umroh, Bekal Penting Sebelum Menunaikan Ibadah ke Baitullah
“Dari Uqbah ibn Amir dari Nabi saw, beliau bersabda: ‘Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka melanggar perintah-Nya, maka itulah yang disebut istidraj.” Kemudian beliau membaca firman Allah surat al-An`am ayat 44: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (HR. Ahmad)
Kementerian Agama menjelaskan bahwa agar tidak terjerumus ke dalam istidraj, Muslim harus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, bersyukur atas setiap nikmat, menjauhi maksiat dan segera bertaubat, dll.
Mengutip laman Kementerian Agama Riau, berikut doa yang dapat dibaca agar terhindar dari istidraj.
Allahumma innii a'uudzu bika an akuuna mustadrajaa.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menjadi mustadraj (orang yang ditarik secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan)."
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min jahdil-balā’, wa darakisy-syaqā’, wa sū’il-qaḍā’, wa syamātatil-a‘dā’.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keadaan yang berat, kesengsaraan yang hebat, buruknya takdir, dan kegembiraan musuh atas bencana yang menimpaku.”
Cara paling mudah membedakan nikmat yang merupakan karunia Allah dengan istidraj adalah melihat tingkat ketakwaan seseorang.
Jika nikmat membuat seseorang semakin taat beribadah, bersyukur, dan semakin dekat kepada Allah, maka nikmat tersebut dapat menjadi tanda kemurahan Allah.
Sebaliknya, jika nikmat justru membuat seseorang semakin lalai beribadah, terus bermaksiat, dan menjauh dari Allah, maka kondisi tersebut patut diwaspadai sebagai istidraj.
Menurut Kementerian Agama RI, beberapa tanda yang perlu diwaspadai sebagai ciri istidraj antara lain:
Untuk menghindari istidraj, setiap Muslim dianjurkan selalu bersyukur, memperbanyak ibadah, muhasabah diri, bersedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)