Detik-detik Rumah Warga Benhil Ambruk Akibat Longsor di Bantaran Sungai Ciliwung
Dwi Rizki June 26, 2026 09:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Satu rumah warga ambruk hingga rata dengan tanah akibat tanah longsor yang terjadi di Jalan Administrasi I, RT 001/RW 07, Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026) pagi.

Selain menghancurkan satu bangunan, longsor juga merusak sebagian rumah di sebelahnya. 

Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) kini melakukan penanganan darurat dengan memasang bronjong untuk mencegah longsor meluas.

Pantauan Wartakotalive.com pada Jumat pukul 14.00 WIB menunjukkan rumah dua lantai bercat hijau yang berada tepat di tepi Kali Ciliwung itu telah rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing-puing.

Bangunan tersebut ambruk ke arah bantaran kali. Lokasi kejadian kini dipasangi garis polisi berwarna kuning agar warga tidak mendekat.

Di sekitar area longsor juga terlihat tumpukan sampah liar yang ikut terbawa bersama dinding kali.

Bau menyengat tercium dari gundukan sampah di samping rumah.

Tak jauh dari lokasi, sebuah alat berat ekskavator yang sebelumnya digunakan untuk pengerukan kali masih terparkir.

Baca juga: Halangi Jurnalis, Ketum IJTI Kecam Manajemen Apartemen Saladin Depok

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Pusat, Adrian Mara Maulana, mengatakan hasil identifikasi sementara menunjukkan longsor dipicu oleh beberapa faktor.

"Berdasarkan identifikasi sementara, kejadian tersebut dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya adalah abrasi. Kemudian titik kejadian berada di daerah pertemuan antara Kanal Banjir Barat (KBB) dengan Kali Krukut. Selain itu bangunan yang amblas juga berada di area sempadan sungai, sehingga rawan longsor," ujar Adrian kepada Wartakotalive.com, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, Suku Dinas SDA Jakarta Pusat telah bergerak melakukan penanganan sejak Jumat siang untuk mencegah dampak longsor semakin meluas.
"Adapun saat ini segera dilakukan penanganan sementara dengan memasang bronjong agar longsor tidak meluas ke titik lainnya," katanya.

Cerita Pemilik Rumah

Pemilik rumah, Ali Nugroho (44), mengatakan keluarganya sebenarnya telah mengungsi beberapa hari sebelum rumah tersebut ambruk.

Keputusan itu diambil setelah muncul tanda-tanda pergeseran tanah sejak pertengahan Juni.

"Pada tanggal 19 Juli (Jumat) pagi itu sudah mulai ada pergeseran tanah. Dari hari itu keluarga sudah saya ungsikan. Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB semuanya sudah keluar dari rumah," kata Ali saat ditemui Wartakotalive.com di lokasi, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, rumah yang ditempati ibunya bersama seorang saudaranya itu mulai menunjukkan gejala retak dan miring setelah proyek pengerukan Kali Ciliwung dilakukan di sekitar lokasi sekitar sebulan terakhir.

Ali menduga pengerukan kali yang membuat kontur tanah berubah menjadi salah satu penyebab longsor.

Selain itu, ia juga menyoroti aktivitas truk pengangkut sampah yang setiap hari melintas dan membuang muatan di lokasi pembuangan sampah liar yang berada persis di samping rumahnya.

"Mungkin karena normalisasi kali terlalu dalam atau bagaimana. Setelah beberapa hari ada pergeseran tanah. Ditambah di atas ada tumpukan sampah dan tiap hari truk-truk yang berat itu masuk. Bebannya besar sehingga tanah turun," ujarnya.

Ia menjelaskan, tanda-tanda longsor sebenarnya sudah muncul sejak malam 18 Juni. Keesokan paginya tanah mulai bergeser sehingga ia melaporkan kondisi tersebut kepada pengurus RT, RW, hingga lurah setempat.

"Pak Lurah dan Pak RW sudah mengetahui sejak tanggal 19. Kami juga sudah menyampaikan kondisi ini. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari instansi terkait yang menangani masalah teknis tanah," ucapnya.

Beruntung, saat rumah benar-benar ambruk pada Jumat pagi tidak ada penghuni yang berada di dalam bangunan.

Ali mengatakan ibunya telah mengungsi ke rumah keluarga yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian.

"Alhamdulillah tidak ada korban karena semua sudah mengungsi lebih dulu," katanya.

Meski sebagian barang berhasil diselamatkan, Ali mengaku masih banyak harta bendanya yang tertinggal di lantai dua rumah karena kondisi bangunan sudah terlalu miring dan membahayakan untuk dimasuki.

"Barang yang di lantai atas seperti lemari tidak sempat diselamatkan karena kami takut rumahnya roboh sewaktu-waktu," ujarnya.

Secara keseluruhan terdapat dua rumah yang terdampak, namun satu rumah mengalami kerusakan sebagian.

Usai kejadian, sejumlah pejabat setempat, termasuk lurah beserta staf dan pengurus wilayah, telah meninjau lokasi. Namun hingga kini, menurut Ali, belum ada kepastian mengenai langkah penanganan maupun bantuan yang akan diberikan.

Ia berharap ada tanggung jawab dari pihak terkait apabila nantinya terbukti longsor dipicu oleh aktivitas proyek maupun faktor lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Saya berharap harus ada ganti rugi. Nilainya belum bisa ditaksir, tapi rumah ini sudah kami bangun sejak 2004 dan selesai menjadi rumah dua lantai pada 2006," tuturnya.

Ali juga menyoroti keberadaan tempat pembuangan sampah liar di samping rumahnya. 

Menurutnya, tumpukan sampah beberapa waktu terakhir semakin menggunung karena pengangkutan sampah tidak dilakukan setiap hari setelah adanya gangguan operasional di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

"Ini bukan TPS resmi, masih pembuangan liar. Sampah sering menumpuk sampai berhari-hari. Ditambah truk-truk besar yang keluar masuk, menurut saya itu juga ikut memperparah kondisi tanah," katanya.

Saat ini, lokasi longsor masih dipasangi garis polisi, sementara warga sekitar diminta waspada terhadap potensi pergerakan tanah susulan di kawasan bantaran Kali Ciliwung tersebut. (m27)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.