Laporan Wartawan TribunJatim.com, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG — Menghasilkan data statistik yang akurat dan valid bukanlah perkara mudah.
Di balik deretan angka indikator ekonomi makro, ada cerita perjuangan bertaruh nyawa dari para petugas pelaporan lapangan (PPL) yang bersiaga di wilayah rawan bencana alam.
Potret dedikasi tinggi tersebut melekat pada diri Hendra Setyantoro (31). Pria yang berprofesi sebagai mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang ini nekat menerjang hamparan daerah aliran lahar (DAS) aktif Gunung Semeru di Sungai Regoyo demi mencacah unit usaha di Dusun Sumberlangsep, Desa Jogosari, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jumat (26/6/2026).
Langkah kaki Hendra diiringi aroma belerang yang menyengat di sepanjang jalur yang dihimpit sisa-sisa batu raksasa muntahan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Semua itu ia lakoni demi menyukseskan program Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang menyasar klaster pertambangan material.
Hendra tak menampik jika rasa cemas kerap menyelimuti benaknya setiap kali melintasi jalur maut tersebut. Namun, tanggung jawab profesi mengalahkan rasa takutnya.
Baca juga: Berhari-hari Ngantre Solar, Sopir Truk Pasir di Lumajang Kehilangan Penghasilan Rp 400 Ribu
"Kalau ditanya apakah merasa was-was dan khawatir, jawabannya pasti iya. Kawasan Sumberlangsep ini masih masuk zona rawan bencana. Tapi karena memang tidak ada akses jalan alternatif lain untuk sampai ke rumah responden, saya terpaksa harus lewat jalur aliran lahar ini," ungkap Hendra sembari membenarkan rompi hitam BPS miliknya, Jumat (26/6/2026).
Demi mengantisipasi risiko terjebak banjir lahar dingin, pemuda ini mengandalkan strategi manajemen waktu yang jitu. Ia selalu memulai perjalanan di fajar buta. "Paling tidak saya harus berangkat lebih pagi sekali. Sebab di kawasan lereng, hujan lebat sering mendadak turun di sore hari, dan itu sangat berbahaya jika banjir lahar datang tiba-tiba," sambungnya.
Tantangan berat Hendra rupanya tidak hanya datang dari kondisi alam. Sektor sosial juga menguji kesabarannya. Tidak semua pemilik unit usaha di lereng Semeru menyambut hangat kedatangan petugas negara. Banyak di antara mereka yang menaruh curiga dan menutup diri saat hendak diwawancarai.
"Kadang saya harus bolak-balik 2 sampai 3 kali ke satu rumah yang sama karena sering kucing-kucingan dengan pemiliknya. Kuncinya ya harus tetap tersenyum dan bersikap ramah agar mereka mau menerima kehadiran kita," cetus Hendra.
Bagi Hendra, beban target menginput data 10-12 koresponden per hari adalah misi moral. Ia sadar betul data yang ia kumpulkan bernilai krusial bagi masa depan kesejahteraan warga itu sendiri.
"Kalau petugas datanya asal-asalan atau ngawur karena malas ke lapangan, yang rugi ya masyarakat sendiri nanti saat kebijakan diturunkan. Rasa capek saya langsung hilang kalau membayangkan data ini nanti jadi jembatan bantuan pemerintah tepat sasaran ke orang yang benar-benar membutuhkan," ucapnya tulus.
Sebagai informasi, BPS Lumajang telah menerjunkan sebanyak 1.161 petugas Sensus Ekonomi terlatih sejak 10 Juni 2026 lalu. Ribuan petugas tersebut disebar ke seluruh pelosok kecamatan untuk melakukan pendataan komprehensif mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 mendatang.
Kepala BPS Lumajang, Mochammad Sonhaji, menerangkan bahwa fokus utama dari Sensus Ekonomi 2026 kali ini adalah memetakan seluruh aktivitas ekonomi masyarakat secara riil, termasuk bisnis berskala domestik yang kerap luput dari pemantauan atau dinilai "tak kasat mata".
“Kami ingin melacak potensi ekonomi baru di tataran rumah tangga. Ada kemungkinan di dalam rumah tangga itu berjalan usaha produktif tersembunyi yang tidak kasat mata, seperti jasa konstruksi mandiri atau toko-toko online (e-commerce). Kita harapkan semua sektor ini bisa terekam bersih di SE 2026 untuk arah kebijakan ekonomi nasional yang lebih baik,” pungkas Sonhaji.