Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Di tengah pesatnya digitalisasi layanan kesehatan, mahasiswa semester IV Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan mengembangkan berbagai sistem digital, seperti pendaftaran pasien online untuk mengurangi antrean di Lab Komputer Poltekkes Kesuma Bangsa.
Baca juga: Kuliah Prodi Perjalanan Wisata Polinela Mahasiswa Belajar Praktik Menjadi Tour Leader
Politeknik Kesehatan tersebut berlokasi di Jalan Imam Bonjol No.3, Gedong Air, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung, Lampung, kode pos 35118.
Ketua Program Studi D4 Manajemen Informasi Kesehatan Poltekkes Kesuma Bangsa, Ika Sudirahayu menjelaskan bahwa Manajemen Informasi Kesehatan merupakan pengembangan dari disiplin ilmu rekam medis yang kini telah bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan layanan kesehatan modern.
"Kalau dulu dikenal sebagai rekam medis, sekarang paradigma baru berubah menjadi Manajemen Informasi Kesehatan. Di dalamnya memadukan ilmu kesehatan dengan teknologi informasi sehingga mampu mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan efisien," ujar Ika saat ditemui di ruangannya, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, mahasiswa D4 MIK mendapatkan pembelajaran yang cukup unik karena menggabungkan dua bidang ilmu sekaligus.
Selain mempelajari sistem informasi dan teknologi digital, mahasiswa juga dibekali berbagai mata kuliah kesehatan yang umumnya dipelajari pada program studi kesehatan lainnya.
Mata kuliah tersebut meliputi anatomi tubuh manusia, patofisiologi, farmakologi, terminologi medis, hingga ilmu penyakit.
Dengan bekal tersebut, lulusan MIK diharapkan mampu memahami berbagai aspek pelayanan kesehatan secara komprehensif.
"Kami belajar banyak mata kuliah kesehatan yang hampir mirip dengan dokter dan perawat. Bedanya, mahasiswa MIK juga mendapatkan tambahan ilmu manajemen dan teknologi informasi sehingga nantinya mampu menjadi manajer informasi kesehatan yang profesional," jelasnya.
Salah satu kompetensi utama yang menjadi ciri khas lulusan MIK adalah kemampuan melakukan coding diagnosis dan tindakan medis.
Coding merupakan proses menerjemahkan diagnosis penyakit maupun prosedur tindakan medis ke dalam kode internasional menggunakan standar ICD-10 dan ICD-9-CM yang digunakan secara global.
Ika menjelaskan, coding memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan saat ini, terutama terkait mekanisme pembayaran layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
"Rumah sakit tidak dapat melakukan klaim pembayaran kepada BPJS apabila diagnosis dan tindakan medis yang diberikan dokter belum diterjemahkan ke dalam kode ICD. Karena itu, profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam sistem pelayanan kesehatan," katanya.
Selain kemampuan coding, mahasiswa juga mempelajari terminologi medis atau bahasa medis internasional yang digunakan oleh tenaga kesehatan di berbagai negara.
Kompetensi ini membuat lulusan memiliki kemampuan komunikasi profesional yang sesuai standar dunia kesehatan global.
Mahasiswa yang memilih program studi ini akan menempuh seluruh proses pendidikan secara khusus di bidang Manajemen Informasi Kesehatan sejak semester awal hingga lulus.
Tak hanya mencetak tenaga rekam medis, Prodi D4 MIK juga menghasilkan lulusan dengan berbagai kompetensi profesional.
Di antaranya sebagai manajer informasi kesehatan yang bertugas mengelola unit rekam medis di rumah sakit, puskesmas, maupun klinik.
Selain itu, lulusan juga dapat berkarier sebagai analis rekam kesehatan elektronik yang berperan dalam pengelolaan data kesehatan berbasis digital, auditor coding klinis yang bertanggung jawab terhadap akurasi kode diagnosis dan tindakan medis, hingga pengembang sistem informasi kesehatan.
"Di era digital health transformation seperti sekarang, kebutuhan tenaga yang mampu mengelola informasi kesehatan semakin besar. Karena itu lulusan MIK memiliki peluang kerja yang sangat luas," ungkap Ika.
Saat semester akhir, mahasiswa sudah mampu merancang sistem yang mendukung pelayanan kesehatan modern.
Misalnya sistem pendaftaran pasien secara digital yang dapat mengurangi antrean di fasilitas kesehatan, sistem pengolahan data rumah sakit yang menghasilkan informasi secara cepat dan akurat, hingga sistem coding diagnosis yang membantu proses klaim layanan kesehatan.
"Kami tidak menciptakan alat kesehatan, tetapi menciptakan sistem yang membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih akurat. Itulah kontribusi lulusan Manajemen Informasi Kesehatan dalam mendukung transformasi layanan kesehatan di Indonesia," tutup Ika.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)