Momen Prabowo Bertanya ke 2.600 Guru Besar Kenapa Indonesia Belum Punya Industri Otomotif Sendiri
Torik Aqua June 27, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Presiden Prabowo Subianto mengkritisi perkembangan industri manufaktur nasional yang dinilai belum mampu menghasilkan kendaraan bermotor buatan sendiri secara mandiri.

Padahal Indonesia sudah 81 merdeka. 

Pandangan tersebut ia sampaikan saat berbicara di depan ribuan pimpinan perguruan tinggi dan guru besar dalam forum Sarasehan Kebangsaan di Jakarta.

Selain sektor otomotif, Prabowo turut menyoroti sejumlah persoalan strategis lain, seperti ketergantungan impor gandum dan produktivitas kelapa sawit.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung percepatan program hilirisasi industri.

Baca juga: Prabowo Kini Didesak BEM UI Membuktikan Siapa yang Bayar Demo Mahasiswa, Singgung Transparansi

Pernyataan tersebut disampaikan langsung di hadapan 2.600 pimpinan perguruan tinggi dan guru besar dalam acara Sarasehan Kebangsaan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).

Prabowo mempertanyakan minimnya inovasi industri manufaktur otomotif nasional kepada ribuan sivitas akademika yang bergelar doktor.

Ia menyoroti tingginya angka konsumsi kendaraan roda dua di Indonesia yang tidak dibarengi dengan keberadaan fasilitas produksi mandiri buatan anak bangsa.

"Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri? Saya berdiri di depan saudara-saudara. Kalian yang Ph.D. Kenapa kita tidak punya. Kita beli motor 10 juta motor tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia?" kata Prabowo.

Prabowo juga menantang para pakar dari berbagai universitas terkait masalah ketahanan pangan.

Ia mempertanyakan ketergantungan Indonesia pada impor gandum serta ketertinggalan produktivitas kelapa sawit dibandingkan negara tetangga.

Bagi Prabowo, negara yang ingin maju harus bisa memanfaatkan dan menggerakkan potensi kampus.

Karena itu, ia banyak menempatkan para akademisi di posisi kunci pemerintahan agar berbagai permasalahan teknis negara dapat diselesaikan secara saintifik.

"Saya datang saya minta orang-orang terpintar, tanya Pak Brian, tanya Profesor Sigit, saya tanya profesor-profesor IPB kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor gandum? Saya tanya. Kenapa kelapa sawit per hektare di Malaysia produktivitasnya lebih dari kita? Kenapa?" tegasnya.

Prabowo Minta Siapkan SDM untuk Topang Program Hilirisasi

Sarasehan bertajuk “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia” diikuti rektor, direktur universitas/perguruan tinggi, Ketua Perguruan Tinggi, dosen, peneliti, dan mitra kolaborasi perguruan tinggi.

Mendikti Saintek Brian Yuliarto mengatakan sarasehan diikuti 2.600 peserta.

“Setelah seluruh sesi selesai kami akan merumuskan peran dan fungsi perguruan tinggi untuk membantu program nasional,” kata Brian.

Sebelum acara, Menteri Brian Yuliarto sempat menggelar rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (25/6/2026) malam.

Brian mengatakan rapat tersebut membahas masalah hilirisasi industri.

Presiden ingin program hilirisasi dipercepat.

“Intinya adalah bagaimana percepatan ya, industri hilirisasi yang diminta Bapak Presiden bersama Danantara ya,” kata Brian di Istana.

Percepatan hilirisasi tersebut dilakukan di sejumlah sektor, mulai dari industri farmasi, mobil nasional, dan motor nasional.

Brian bilang, Presiden meminta kementeriannya menyiapkan SDM lulusan perguruan tinggi untuk kebutuhan hilirisasi industri.

“Kami diminta memastikan SDM-SDM, lulusan-lulusan perguruan tinggi kita itu nantinya betul-betul bisa memenuhi apa? Bisa memenuhi kebutuhan SDM untuk pengembangan industri hilirisasi yang memang tidak sedikit itu kan ya,” katanya.

Presiden minta agar hilirisasi industri yang dipercepat tidak sampai kekurangan SDM atau SDM yang dihasilkan perguruan tinggi tidak sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

“Misalkan kita butuh banyak tenaga ahli kelistrikan, ternyata lulusannya nggak sesuai. Jadi, kita diminta menghitung itu, memastikan ini bisa memenuhi industrialisasi yang ada,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.