TRIBUNNEWS.COM - Investigasi Wall Street Journal (WSJ) mengungkap bahwa pangkalan Naval Support Activity (NSA) milik Amerika Serikat (AS) di Bahrain mengalami kerusakan signifikan akibat serangan Iran yang berlangsung antara akhir Februari hingga Juni.
Temuan tersebut disebut belum pernah diakui secara terbuka oleh Pentagon.
Berdasarkan analisis citra satelit, rekaman media sosial, serta wawancara dengan personel militer AS aktif maupun pensiunan, WSJ melaporkan bahwa markas komando pangkalan, sedikitnya 12 bangunan lain serta dua terminal komunikasi satelit termasuk di antara fasilitas yang terdampak serangan.
Laporan menyebut kerusakan terjadi di seluruh area utama pangkalan, mulai dari zona operasi kapal, kawasan administrasi hingga bangunan tambahan yang disewa Angkatan Laut AS.
Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang mengawasi operasi militer di kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dilaporkan tidak dapat digunakan, mengutip Al Mayadeen, Jumat (26/6/2026).
Fasilitas lain yang disebut mengalami kerusakan meliputi pusat pelatihan keamanan angkatan laut, gudang manajemen darurat, tangki air, ruang makan, serta barak yang mampu menampung sekitar 450 personel.
WSJ juga melaporkan bahwa bangunan tambahan yang dikelola perusahaan Bahrain, Banz Group, dan digunakan oleh Task Force 59, satuan pengawasan drone dan kecerdasan buatan Angkatan Laut AS, mengalami kerusakan paling parah bersama sejumlah gudang di sekitarnya.
Selain itu, dua terminal komunikasi satelit yang masing-masing diperkirakan bernilai sekitar US$20 juta dilaporkan hancur pada tahap awal serangan balasan Iran, bersamaan dengan fasilitas manajemen komunikasi.
Menurut estimasi WSJ yang mengacu pada model biaya Departemen Pertahanan AS dan dokumen pengadaan pemerintah, biaya pembangunan kembali fasilitas konstruksi di NSA Bahrain diperkirakan mencapai sekitar US$400 juta.
Angka tersebut hanya mencakup biaya konstruksi dan belum memasukkan pengeluaran lain, yakni pembersihan puing maupun rehabilitasi fasilitas.
Laporan itu juga menyebut serangan Iran tidak hanya menyasar Bahrain, tetapi sedikitnya 20 lokasi militer dan diplomatik AS di kawasan selama periode yang sama.
Mengutip Center for Strategic and International Studies (CSIS), WSJ menyebut total biaya perang diperkirakan mendekati US$40 miliar, termasuk kerusakan pangkalan militer senilai US$2,2 miliar hingga US$5,1 miliar.
Estimasi tersebut lebih tinggi dibandingkan angka US$29 miliar yang sebelumnya disampaikan Pentagon, yang menurut kesaksian pejabat keuangan Pentagon, Jay Hurst, tidak memasukkan kerusakan instalasi militer AS.
Investigasi tersebut juga menyebut Washington menekan penyedia citra satelit komersial pada April untuk membatasi akses terhadap gambar yang memperlihatkan tingkat kerusakan pangkalan.
Menurut para pejabat, langkah itu dilakukan untuk melindungi keselamatan personel AS, namun dinilai turut membatasi informasi mengenai skala kerusakan yang terjadi.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan belum memberikan estimasi resmi mengenai biaya kerusakan ketika dimintai keterangan oleh anggota parlemen.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)