Ketika Sekolah Menjadi Rumah Terakhir, Kisah Bunga Menemukan Harapan di Sekolah Rakyat
Nila June 27, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Tawa anak-anak memenuhi aula Sekolah Rakyat Dasar 02 Surakarta, Jumat (19/6/2026).

Libur semester tinggal sehari lagi. Pagi itu, mereka tak lagi disibukkan dengan buku pelajaran. 

Anak-anak berlatih tari, menyanyi, dan menyiapkan berbagai penampilan untuk pentas seni yang akan digelar keesokan harinya, bertepatan dengan pembagian rapor sebelum memasuki masa liburan.

Di antara riuhnya latihan, seorang anak perempuan tampak mengikuti setiap gerakan dengan penuh semangat.

Sesekali ia tertawa bersama teman-temannya, lalu kembali memperhatikan arahan guru.

Tak banyak yang tahu, di balik senyum itu tersimpan perjalanan hidup yang begitu berat.

Sebut saja Bunga. Namanya disamarkan untuk melindungi identitasnya karena ibunya tengah menjalani hukuman pidana.

Saat ditemui Tribunnews di sela-sela latihan pentas seni, Bunga tampak tak canggung bercengkerama dengan teman-temannya.

Sulit membayangkan, beberapa bulan lalu ia justru harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan satu-satunya tempat bergantung.

Sejak kecil, Bunga tumbuh tanpa kehadiran sang ayah.

Ia hanya tinggal berdua bersama ibunya di sebuah kamar kos sederhana di kawasan Sumber, Kota Surakarta.

Meski hidup dalam keterbatasan, kebersamaan dengan sang ibu membuatnya tetap merasa memiliki rumah.

Namun keadaan berubah drastis ketika ibunya tersangkut kasus kriminal dan harus menjalani masa pembinaan di rumah tahanan.

Dalam waktu singkat, Bunga kehilangan satu-satunya orang yang selama ini merawatnya.

Tanpa ayah. Tanpa keluarga yang dapat mengasuh. Tanpa tempat untuk pulang.

Melihat kondisi tersebut, Kementerian Sosial melalui Dinas Sosial Kota Surakarta melakukan asesmen.

Demi memastikan hak-haknya sebagai anak tetap terpenuhi, Bunga kemudian ditempatkan di Sekolah Rakyat Dasar 02 Surakarta.

"Awalnya saya sedih. Saya bingung harus tinggal dengan siapa," ujar Bunga saat ditemui Tribunnews, Jumat (19/6/2026).

Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di Sekolah Rakyat, Bunga tidak hanya memperoleh pendidikan formal.

Ia juga tinggal di asrama bersama anak-anak lain yang memiliki latar belakang kehidupan berbeda.

Seluruh kebutuhan dasar, mulai dari tempat tinggal, makan, perlengkapan sekolah, hingga pendampingan sehari-hari dipenuhi agar mereka dapat tumbuh dan belajar dengan baik.

Namun proses beradaptasi tidak berlangsung mudah.

Wali Asrama Putri Sekolah Rakyat Dasar 02 Surakarta, Dewanggi Latifa Puspa masih mengingat betul kondisi Bunga saat pertama kali datang.

"Saat pertama datang, Bunga lebih banyak diam dan sering murung," kata Dewa sapaan akrab Dewanggi.

Menurutnya, Bunga masih sulit menerima kenyataan harus berpisah dengan ibunya yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga.

"Dia masih berat berpisah dengan ibunya," lanjutnya.

Sebagai wali asrama, Dewa dan para pengasuh berusaha memberikan pendampingan, bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi tempat anak-anak bercerita.

Mereka bahkan beberapa kali mengantar Bunga mengunjungi ibunya di rumah tahanan agar hubungan keduanya tetap terjalin.

"Kami beberapa kali mengantarnya bertemu ibunya di rumah tahanan," ujar Dewa.

Pendampingan itu perlahan membuahkan hasil.

Anak yang dulu lebih banyak menyendiri kini mulai membuka diri.

Ia aktif mengikuti kegiatan sekolah, bergaul dengan teman-temannya, hingga ikut berlatih untuk pentas seni menjelang pembagian rapor.

"Sekarang Bunga sudah jauh lebih ceria," tutur Dewa.

Ia menilai perubahan itu terlihat dari keseharian Bunga yang mulai menikmati proses belajar maupun aktivitas di asrama.

"Dia aktif belajar, mau bergaul, dan ikut berbagai kegiatan sekolah," katanya.

Bagi Dewa, setiap anak yang datang ke Sekolah Rakyat membutuhkan satu hal yang sama: rasa diterima.

"Kami ingin anak-anak di sini tetap merasa punya keluarga," ujarnya.

Bunga pun kini mulai menatap masa depan dengan lebih optimistis.

"Sekarang saya senang di sini. Banyak teman dan gurunya baik," katanya sambil tersenyum.

Ia mengaku menikmati hari-harinya di sekolah, termasuk mengikuti latihan pentas seni bersama teman-temannya.

"Saya senang ikut latihan pentas seni," ujarnya.

Di balik senyum itu, Bunga masih menyimpan harapan sederhana.

"Nanti kalau ibu sudah pulang, saya ingin membuat ibu bangga," ucapnya lirih.

Bagi sebagian anak, libur sekolah identik dengan pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.

Namun bagi Bunga, asrama Sekolah Rakyat adalah tempat ia kembali.

Di sanalah ia menemukan keluarga baru.

Kisah Bunga menjadi potret nyata bahwa Program Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan ruang kelas. Program ini menjadi wujud kehadiran negara bagi anak-anak yang kehilangan tempat bergantung akibat kemiskinan, keterlantaran, maupun persoalan sosial.

Melalui pendidikan, pengasuhan, dan pendampingan, Sekolah Rakyat memberi kesempatan kepada anak-anak seperti Bunga untuk tetap tumbuh, belajar, dan merajut cita-cita.

Riuh latihan pentas seni kembali terdengar dari aula sekolah. Guru memanggil nama Bunga untuk kembali bergabung bersama teman-temannya. Dengan langkah ringan, ia berlari menuju barisan.

Esok hari, ia akan tampil di atas panggung.

Mungkin tak semua orang mengetahui kisah pilu yang pernah ia lalui.

Namun di Sekolah Rakyat, seorang anak yang hampir kehilangan segalanya kembali menemukan harapan.

Sebab bagi Bunga, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar.

Sekolah Rakyat telah menjadi rumah.(Tribunnews/Alfin Wahyu Yulianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.