TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah sejumlah SPBU di Kota Pekanbaru, Riau, dan Kota Medan, Sumatra Utara, dilaporkan kehabisan stok Biosolar dalam beberapa hari terakhir, PT Pertamina Patra Niaga memastikan tidak terjadi pengurangan kuota maupun gangguan pasokan BBM subsidi di wilayah Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut).
Perseroan menyatakan penyaluran justru ditingkatkan untuk mengimbangi lonjakan konsumsi.
Dalam keterangan resmi yang diterima Tribunnews.com pukul 23.07 WIB pada Jumat (26/6/2026), Pertamina menyebut meningkatnya kebutuhan Biosolar dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan kepadatan kendaraan di sejumlah SPBU, terutama pada jam-jam tertentu.
Misalnya di Provinsi Riau, tingginya aktivitas angkutan barang dan logistik yang melintasi jalur strategis Pulau Sumatera mendorong kenaikan konsumsi Biosolar.
Sementara di Sumatra Barat dan Sumatra Utara, peningkatan kebutuhan juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi BBM.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina mengklaim telah meningkatkan volume penyaluran Biosolar di sejumlah wilayah.
"Di Pekanbaru, penyaluran Biosolar pada bulan Juni ditingkatkan sekitar 6 persen dibandingkan rata-rata penyaluran bulan sebelumnya. Sementara di Sumatra Barat, penyaluran Biosolar ditingkatkan hingga sekitar 10 persen di atas rata-rata penyaluran normal. Adapun di wilayah Sibolga, rata-rata penyaluran Biosolar telah dioptimalkan hingga sekitar 21,7 persen dibandingkan kondisi normal guna memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat," tulis Pertamina dalam keterangan resminya.
Stok Biosolar di Regional Sumbagut dipastikan dalam kondisi aman. Optimalisasi distribusi dilakukan melalui penguatan pasokan dari terminal BBM, penambahan armada mobil tangki, serta pengaturan pola penyaluran sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan pengelola SPBU, pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, BPH Migas dan aparat penegak hukum untuk mengatur pelayanan di SPBU yang mengalami lonjakan antrean, termasuk menerapkan sistem marshalling.
Perusahaan juga meminta seluruh SPBU aktif memantau kondisi stok dan segera melaporkan apabila terjadi lonjakan konsumsi agar penyaluran tambahan dapat dilakukan secepatnya.
Di sisi pengawasan, Pertamina memperkuat pengendalian distribusi BBM subsidi melalui digitalisasi SPBU, pemantauan CCTV, analisis transaksi, serta evaluasi operasional secara berkala.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun, Kenapa Harga BBM di SPBU Tidak Langsung Menyesuaikan? Ini Kata Ekonom
Apabila ditemukan indikasi penyimpangan, perusahaan akan melakukan penelusuran bersama instansi terkait dan memberikan sanksi kepada SPBU sesuai ketentuan.
Pertamina mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai dengan kebutuhan dan menggunakan Biosolar subsidi sesuai peruntukannya agar penyaluran tetap tepat sasaran.
Masyarakat yang menemukan dugaan penyimpangan distribusi BBM subsidi juga diminta melaporkannya melalui Pertamina Contact Center 135.
Sementara itu, stok BBM bersubsidi jenis Biosolar dilaporkan kosong di Sejumlah SPBU di Kota Pekanbaru, salah satunya di SPBU Jalan Sembilang, Kecamatan Rumbai.
Di SPBU itu, BBM bersubsidi jenis Pertalite juga kosong. Oleh karena itu, tidak ada lagi pemandangan antrean kendaraan yang kerap terlihat.
Berdasarkan pengamatan Tribun Pekanbaru, pada Jumat (26/6/2026) sekitar jam 13.00 WIB, seluruh jalur pengisian BBM bersubsidi kosong.
Seorang petugas SPBU berkata Pertalite sedang dalam proses bongkar dan bakal rampung satu jam ke depan. Dia mengimbu pengendara supaya membeli Pertamax saja yang sudah tersedia jika enggan menunggu.
"Tapi kalau untuk Biosolar gak tahu kapan masuknya, mungkin nanti sore jam lima," ujarnya.
Dia menyebut stok Biosolar sudah habis sejak pagi hari. Meski demikian, stoknya bakal diisi terus setiap hari, tetapi waktunya tidak bisa dipastikan.
Baca juga: KPK Dalami Pengadaan ATG dan Mesin EDC dalam Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina Senilai Rp3,6 T
Andi, seorang pengguna mobil diesel, mengaku harus berbalik arah setelah tahu stok Biosolar habis. Dia memilih kembali lagi ke SPBU pada sore hari ketimba harus mengisi Dexlite dengan harga Rp 24 ribu.
"Dexlite kemahalan, lagian ini juga mobil tua, enggak perlu BBM yang bagus," katanya.
Dia Andi berharap solar bisa segera tiba karena banyak kendaraan niaga yang memerlukannya.