TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan perguruan tinggi turut berperan dalam sejumlah program strategis nasional.
Program tersebut mulai dari pengembangan genom pertanian, teknologi pengolahan sampah, Giant Sea Wall, hingga industri semikonduktor nasional.
"Di bawah koordinasi Menteri Pertanian, dilaksanakan pengembangan genom pertanian dan pengembangan varietas unggul terhadap produk yang masih impor untuk menggantikan atau mensubstitusi impor," kata Brian saat pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2026).
Kolaborasi riset, kata Brian, juga dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertahanan, dan BRIN mengembangkan teknologi pengolahan sampah.
Sementara di bawah koordinasi Kementerian ESDM, perguruan tinggi menjalankan riset bensin sawit, pengembangan kompor listrik, serta kajian implementasi pembangkit listrik berkapasitas 100 gigawatt.
Lalu bersama Kementerian Kesehatan, kampus dilibatkan dalam berbagai riset vaksin TBC serta penguatan industri farmasi dan alat kesehatan nasional.
Baca juga: Daftar Peringkat Perguruan Tinggi Peraih Pendanaan PKM 2026, UGM Teratas dan Unpad Masuk 10 Besar
Brian menambahkan, kolaborasi juga dilakukan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui riset industri garam dan kapal nelayan listrik.
Adapun bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, sejumlah kampus mengembangkan konsep desain kawasan dan hunian vertikal.
"Kemudian di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah serta Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, peneliti dari berbagai kampus terlibat juga dalam program Giant Sea Wall," ujarnya.
Acara ini dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Selain itu, hadir pula Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menko PMK Pratikno, Wamenkomdigi Angga Raka Prabowo.
Penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan 2026 diikuti lebih dari 2.600 peserta yang terdiri atas 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen, ilmuwan, dan peneliti, termasuk sekitar 300 peneliti dari BRIN.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan lebih dari 635 mitra kolaborasi perguruan tinggi dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.