TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Samarinda terus mengembangkan program ketahanan pangan dengan memberdayakan warga binaan untuk mengelola sektor pertanian, perikanan, hingga peternakan secara mandiri.
Kepala Rutan Samarinda, Rachmad Tri Raharjo, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pembinaan warga binaan sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan pangan dari luar.
Menurutnya, salah satu kebutuhan terbesar di dapur Rutan Samarinda adalah telur.
Dalam siklus menu makanan selama 10 hari, telur digunakan sebanyak empat kali sehingga menjadi salah satu komoditas yang cukup banyak dikonsumsi.
Baca juga: Rutan Samarinda Overkapasitas Hampir Tiga Kali Lipat, Dihuni 1.267 Warga Binaan
"Kebutuhan telur di dalam cukup tinggi. Harapan kami ke depan ketika kandang ayam petelur sudah berjalan dan produksinya stabil, kami tidak perlu lagi mengambil pasokan dari distributor atau supplier luar," ujar Rachmad kepada Tribunkaltim.co, baru-bari saja.
Ia menjelaskan, konsep yang dikembangkan adalah memanfaatkan hasil produksi yang dikelola sendiri oleh warga binaan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam Rutan Samarinda.
Selain telur, Rutan Samarinda juga mulai mengembangkan berbagai jenis tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, sawi, dan kangkung.
Saat ini terdapat dua unit greenhouse yang telah beroperasi.
Baca juga: Razia Mendadak di Rutan Kelas I Samarinda, Petugas Sita Vape dan Kompor Rakitan
Masing-masing digunakan untuk budidaya cabai dan tomat, sementara tanaman sayuran lain seperti sawi dan kangkung sebelumnya telah memasuki masa panen.
"Greenhouse ada dua titik. Satu untuk cabai dan satu lagi untuk tomat. Kemarin kami juga sudah panen sawi dan kangkung," katanya.
Tidak hanya sektor pertanian, Rutan Samarinda juga mengembangkan budidaya perikanan sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
Hasil panen ikan nantinya dijual kepada penyedia bahan makanan yang menjadi mitra Rutan Samarinda.
Baca juga: 6 Warga Binaan Rutan Kelas I Samarinda Dapat Amnesti Presiden, Dilepas demi Kemanusiaan
Menariknya, hasil produksi tersebut kemudian kembali disalurkan ke dalam rutan sebagai bahan konsumsi warga binaan.
"Ikan diproduksi dan dikelola oleh warga binaan. Saat panen dijual ke pemborong bahan makanan, lalu disuplai kembali ke dalam rutan. Jadi siklusnya berputar di dalam," jelas Rachmad.
Menurutnya, pola tersebut menciptakan sistem yang saling mendukung antara pembinaan warga binaan dan pemenuhan kebutuhan pangan di lingkungan Rutan Samarinda.
Rachmad menegaskan seluruh kegiatan pertanian, perikanan, maupun peternakan dikelola langsung oleh warga binaan yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan mengikuti program asimilasi.
Baca juga: Rutan Samarinda Berikan Remisi Idul Fitri 2026 kepada 644 WBP, 7 Orang Langsung Bebas
Selain bertujuan mendukung ketahanan pangan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.
"Harapannya ketika mereka bebas nanti, paling tidak sudah memiliki bekal dasar untuk bercocok tanam, beternak maupun mengelola usaha produktif lainnya," ujarnya.
Ia menyebut program tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang saat ini mendorong seluruh unit pemasyarakatan untuk aktif mendukung program ketahanan pangan nasional.
"Program ketahanan pangan sedang menjadi fokus pemerintah. Karena itu kami terus berupaya mendukung melalui pemberdayaan warga binaan agar lebih produktif dan mandiri," pungkasnya. (TribunKaltim.co/Muhammad Farikhin)