TRIBUNTRENDS.COM - Ratusan ribu kemasan minyak goreng MinyaKita ukuran 2 liter produksi PT Kusuma Mukti Remaja (MKR), Karanganyar, Jawa Tengah, resmi ditarik dari peredaran setelah muncul keluhan dari masyarakat.
Produk yang sebelumnya didistribusikan dalam program bantuan pangan Bulog itu menjadi sorotan lantaran dilaporkan mengeluarkan aroma tidak sedap menyerupai minyak tanah hingga solar.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak perusahaan langsung melakukan penarikan seluruh produk yang diduga bermasalah untuk mencegah keluhan serupa muncul di masyarakat.
Sebagai bentuk tanggung jawab, seluruh minyak goreng yang ditarik diganti dengan produk baru sehingga masyarakat tetap dapat menerima bantuan pangan sesuai ketentuan.
Sementara itu, minyak goreng yang telah ditarik dari peredaran tidak akan dijual kembali kepada masyarakat.
Perusahaan memastikan produk tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan Bio Solar sehingga tidak lagi beredar di pasaran.
Baca juga: Minyak Goreng Bantuan di Karanganyar Bermasalah, Bau Solar, Terlanjur Pakai, Minta Bulog Menukarnya
Direktur PT Kusuma Mukti Remaja (MKR), Joko Mukti Wijaya, mengatakan pihaknya bergerak cepat begitu menerima informasi mengenai keluhan dari masyarakat.
Menurutnya, penggantian produk dilakukan sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas minyak goreng yang diterima masyarakat.
"Mendapatkan ada keluhan dari masyarakat, langsung kami tukar dengan yang baru," kata Joko, Jumat (26/6/2026).
Ia menegaskan langkah penarikan dan penggantian produk dilakukan sesegera mungkin agar masyarakat tidak lagi menerima minyak goreng yang menimbulkan keluhan.
Kasus ini sekaligus menjadi perhatian dalam proses distribusi minyak goreng bantuan pangan agar kualitas produk tetap terjaga hingga sampai ke tangan penerima.
Dengan seluruh produk yang bermasalah telah ditarik, perusahaan berharap kepercayaan masyarakat terhadap program distribusi minyak goreng dapat kembali pulih.
Langkah cepat tersebut juga diharapkan mampu meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat beredarnya produk yang dikeluhkan warga.
Perusahaan memastikan penggantian dilakukan secara menyeluruh terhadap minyak goreng yang terindikasi bermasalah, sehingga masyarakat memperoleh produk yang layak digunakan.
Joko menjelaskan, minyak goreng yang bermasalah didistribusikan ke beberapa wilayah di Jawa Tengah.
Di Kabupaten Karanganyar tercatat sebanyak 42.664 kemasan, Kabupaten Wonogiri 68.288 kemasan, dan Kabupaten Klaten 71.648 kemasan.
Sementara itu, satu wilayah lain yang juga terdampak adalah Kabupaten Tegal. Namun, jumlah pasti kemasan yang beredar di daerah tersebut masih dalam proses pendataan.
"Semua migor yang bermasalah sudah kami tarik 100 persen," kata dia.
Joko menegaskan minyak goreng yang telah ditarik tidak dibuang begitu saja.
Produk tersebut akan dijual sebagai minyak jelantah untuk kebutuhan industri Bio Solar.
"Yang kita tarik kita jual sebagai minyak jelantah untuk keperluan Bio Solar," ungkap dia.
Meski demikian, langkah tersebut tidak menutup kerugian yang harus ditanggung perusahaan.
PT MKR tetap mengganti seluruh minyak goreng yang bermasalah sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat.
"Tetap mengalami kerugian tapi bentuk tanggungjawab./ Indikasi bermasalah sekitar 100 ton yang sudah kita tarik 300 ton," kata dia.
Terkait penyebab munculnya bau minyak tanah dan solar pada minyak goreng, Joko menduga kemungkinan terjadi kontaminasi selama proses penyimpanan maupun pengangkutan.
Ia juga tidak menampik adanya dugaan kontaminasi saat distribusi bahan baku.
Namun demikian, pihaknya belum ingin menyimpulkan penyebab pasti sebelum hasil uji laboratorium keluar.
"Kami masih menunggu hasil investigasi hasil lab sekira 1 - 2 Minggu, kami tidak mau menduga-duga dan menunggu hasil lab," ungkap dia.
(TribunTrends/TribunSolo)