TRIBUNNEWS.COM - Venezuela kembali diguncang gempa setelah gempa kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 melanda negara tersebut pada Rabu malam waktu setempat.
Kini, berdasarkan data gempa real-time dari situs U.S. Geological Survey (USGS), gempa berkekuatan magnitudo 4,7 terjadi pada Jumat malam waktu setempat atau Sabtu (27/6/2026) pukul 05.16 WIB.
Pusat gempa berada 54 km di utara El Limon dengan kedalaman 10 km.
Menurut Did You Feel It? (DYFI), gempa ini berada pada Level IV.
Did You Feel It? (DYFI) adalah sistem laporan gempa USGS berbasis partisipasi publik yang mengumpulkan pengalaman masyarakat yang merasakan gempa untuk membuat peta intensitas guncangan secara cepat.
DYFI kemudian mengonversi laporan publik tersebut ke dalam Modified Mercalli Intensity (MMI) untuk menghasilkan peta intensitas guncangan.
MMI terdiri dari 12 tingkatan (I–XII), mulai dari tidak terasa sama sekali hingga kehancuran total.
Baca juga: 4 Gempa Besar Terjadi di Beberapa Tempat di Dunia dalam Waktu 8 Jam, Apakah Berkaitan? Ini Kata Ahli
Berikut tingkatan intensitas DYFI berdasarkan Skala MMI:
Belum ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa akibat gempa terbaru ini.
Saat ini, Venezuela masih berjuang untuk pulih dari dua gempa besar sebelumnya.
Mengutip The New York Times, sedikitnya 920 orang tewas, kata Jorge Rodriguez, pemimpin Majelis Nasional, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat waktu setempat.
Sementara itu, sedikitnya 3.300 orang lainnya terluka.
Ia menambahkan sekitar 1.400 bangunan mengalami kerusakan, termasuk 13 rumah sakit.
Rumah sakit kewalahan menangani korban luka dan korban meninggal.
Sebuah rumah sakit di La Guaira, negara bagian yang paling parah terdampak, beroperasi tanpa air mengalir sehingga staf terpaksa mencuci tangan dan membersihkan lantai yang berlumuran darah menggunakan air yang disimpan serta cairan infus, kata seorang dokter.
Dengan minimnya alat berat untuk membersihkan puing-puing dan terbatasnya persediaan medis bagi para korban luka, banyak penyintas harus berjuang sendiri.
Beberapa orang menggali tumpukan batu bata dan semen dengan tangan kosong sambil saling membisikkan agar mendengarkan tanda-tanda kehidupan serta berdoa agar bantuan dapat menjangkau mereka yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Sementara itu, yang lain mengangkut peralatan dan bantuan menggunakan sepeda motor serta mobil dari Caracas.
Lambatnya respons pemerintah meningkatkan tekanan terhadap Presiden Delcy Rodriguez dan Presiden Trump, yang mendukungnya sebagai pemimpin Venezuela setelah pasukan Amerika Serikat menangkap diktator lama negara itu, Nicolas Maduro.
Amerika Serikat telah mengirim seorang mayor jenderal Korps Marinir untuk memimpin operasi bantuan militer AS yang mencakup dua kapal, pesawat kargo berat untuk mengangkut bantuan, serta helikopter.
Namun, masih belum jelas seberapa besar pemerintahan Trump pada akhirnya akan membantu Venezuela.
Sebelumnya, Trump pada Januari mengatakan bahwa negara itu akan "dikelola" oleh Amerika Serikat selama bertahun-tahun dan dibangun kembali.
Pada Jumat malam, Rodriguez, yang menghadapi meningkatnya ketidakpuasan publik, mengatakan melalui media sosial bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Menurutnya, keduanya kembali menegaskan dukungan Amerika Serikat.
Ia menambahkan bahwa mereka berkomitmen mengirimkan petugas penyelamat, peralatan khusus, dukungan untuk tempat penampungan sementara, dan bantuan kemanusiaan bagi keluarga yang terdampak.
Banyak penyintas bahkan tidak memiliki tempat yang aman untuk beristirahat karena lebih dari 300 gempa susulan di wilayah utara terus mengguncang sisa-sisa apartemen dan gedung perkantoran.
Dihadapkan pada pilihan antara berlindung di bangunan yang tidak stabil atau tidur di alun-alun maupun di pinggir jalan raya, banyak warga memilih tetap berada di luar.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)