POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepergian Bu Muslimah Hafsari binti A. Kadir atau Bu Mus, tokoh legendaris novel dan film Laskar Pelangi meninggalkan kenangan mendalam di hati tiga anak kandungnya.
Bagi publik, Bu Mus adalah simbol seorang guru yang mampu mendobrak keterbatasan fasilitas lewat dedikasi mengajar di SD Muhammadiyah yang reot dalam kisah Laskar Pelangi.
Namun di dalam ruang tengah rumahnya di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Sabtu (27/6/2026), Bu Mus dikenal sebagai seorang ibu yang bersahaja dan penuh kasih sayang.
Baca juga: Breaking News: Bu Mus Tokoh Legendaris Laskar Pelangi Meninggal Dunia
Duduk di hadapan Posbelitung.co, Uun (45), satu di antara anak almarhumah, mencoba mengingat kembali bagaimana prinsip mendidik yang diterapkan sang ibu di dalam internal keluarga.
Di mata ketiga anaknya, karakter Bu Mus di dalam rumah tangga sama sekali tak berbeda dengan apa yang digambarkan masyarakat tentang ketulusannya di dunia pendidikan.
"Kalau Ibu di mata kami anak-anaknya, beliau itu memang orang yang penuh dengan kasih sayang. Hubungan kami sangat dekat," ujar Uun.
Sebagai wanita yang menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya sebagai guru, insting mengajar Bu Mus tidak pernah luntur, bahkan saat berada di rumahnya.
Uun mengatakan ibundanya adalah sosok yang tidak pernah lelah memotivasi dan membakar semangat anak-anaknya untuk urusan mengejar ilmu pengetahuan.
Satu wejangan dari Bu Mus yang paling membekas di benak anak-anaknya adalah tentang harga diri sebuah pendidikan dan pentingnya sekolah setinggi-tingginya.
"Beliau itu kan memang seorang pendidik. Jadi, kami anak-anaknya itu selalu diberi motivasi terus sama beliau, terutama soal sekolah," katanya.
Bu Mus selalu menekankan kepada anak-anaknya agar tidak minder atau berkecil hati dengan latar belakang kehidupan yang sederhana yang dijalani mereka.
Almarhumah ingin anak-anaknya memiliki kemampuan yang sejajar dengan orang-orang yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi di kota-kota besar.
"Pesan Ibu yang selalu kami ingat itu, jangan sampai kita tidak sekolah tinggi seperti orang lain. Kita harus bisa sama dan menyamai orang-orang yang berpendidikan juga," ungkap Uun.
Disiplin dan motivasi kuat dari Bu Mus itulah yang akhirnya membentuk karakter mandiri dan tangguh di dalam diri ketiga anak kandungnya hingga mereka tumbuh dewasa.
Bu Mus sendiri meninggalkan tiga orang anak dari pernikahannya, yang terdiri dari dua orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan.
"Kami ini bertiga bersaudara. Yang pertama laki-laki, anak kedua laki-laki, dan anak yang ketiga perempuan," rincinya.
Kini, suara lembut dari perempuan tersebut telah senyap. Langkah kakinya tidak akan lagi terlihat menyusuri pekarangan rumahnya.
Perpisahan terakhir telah diberikan di TPU Cempaka pagi tadi, namun petuah Bu Mus akan tetap hidup di hati anak-anaknya serta seluruh generasi Belitung Timur. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)