BANGKAPOS.COM-- Jauh sebelum namanya dikenal jutaan pembaca melalui novel Laskar Pelangi, Muslimah Hafsari telah lebih dulu menorehkan kisah pengabdian di sebuah sekolah sederhana di Desa Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
Dengan gaji hanya sekitar Rp7.000 per bulan bahkan terkadang tanpa menerima upah sama sekali ia memilih tetap bertahan mengajar demi masa depan anak-anak di kampungnya.
Muslimah Hafsari atau yang akrab disapa Bu Mus lahir di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, pada 27 Februari 1952.
Ia merupakan putri dari K.A. Abdul Hamid dan Salma Syarif serta anak keempat dari tujuh bersaudara.
Dalam kehidupan pribadinya, Bu Mus menikah dengan Hazali Ali, seorang pegawai PN Timah, dan dikaruniai tiga orang anak.
Perjalanan hidup Bu Mus sebagai pendidik dimulai ketika usianya baru menginjak 17 tahun.
Setelah lulus dari Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Muhammadiyah pada usia 16 tahun, ia memilih mengabdikan diri di SD Muhammadiyah Gantung, sekolah yang turut dirintis oleh keluarganya.
Di sekolah sederhana itulah Bu Mus mendidik anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana dengan fasilitas belajar yang sangat terbatas.
Kisah perjuangannya bahkan diabadikan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi.
Salah satu adegan yang paling dikenang adalah ketika Bu Mus tetap datang mengajar di tengah hujan deras hanya dengan membawa pelepah daun pisang sebagai pelindung.
Sesampainya di sekolah, ia mendapati murid-muridnya berkumpul di sudut kelas karena khawatir bangunan sekolah akan roboh diterpa hujan.
Meski demikian, semangat belajar tidak pernah padam.
Pada masa-masa awal mengajar, Bu Mus hanya menerima honor sekitar Rp7.000 setiap bulan.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia tidak memperoleh gaji sama sekali.
Namun kondisi tersebut tidak pernah membuatnya meninggalkan profesi guru.
Baginya, mengajar merupakan panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah.
Pengabdiannya berlanjut ketika diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1986.
Ia kemudian mengajar di SD Negeri 1 Desa Lintang sebelum dipindahkan ke SD Negeri 6 Gantung hingga memasuki masa pensiun.
Baca juga: Video: Bu Muslimah Tutup Usia, Anak Almarhumah Kisah Detik Terakhir Guru Inspiratif Laskar Pelangi
Nama Bu Mus mulai dikenal luas setelah Andrea Hirata menjadikannya tokoh utama dalam novel Laskar Pelangi, karya yang kemudian menjadi salah satu buku terlaris di Indonesia dan diadaptasi ke layar lebar.
Melalui tokoh Bu Mus, Andrea menggambarkan seorang guru yang bukan hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, keberanian, dan mimpi kepada murid-muridnya.
Banyak murid Bu Mus yang kemudian berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga menjadi profesional di berbagai bidang.
Andrea Hirata sendiri tumbuh menjadi penulis ternama yang mengangkat nama Belitung ke tingkat nasional maupun internasional.
Bu Mus selalu meyakini bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik muridnya.
Menurutnya, guru sejati adalah mereka yang mampu mengajarkan kehidupan.
"Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Guru yang berhasil adalah guru yang mampu menyampaikan pelajaran kehidupan kepada siswanya." ucapnya
Ia juga percaya setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga seorang guru harus mampu menjadi pribadi yang bijaksana.
Bagi Bu Mus, murid yang pendiam, aktif, nakal maupun lambat memahami pelajaran merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran, bukan dengan amarah.
Baca juga: Kabar Duka, Bu Muslimah, Guru Inspiratif Laskar Pelangi Meninggal Dunia, Jejak Pengabdiannya Abadi
Atas dedikasinya di dunia pendidikan, Bu Mus menerima berbagai penghargaan, di antaranya Satyalancana Pendidikan dan Satyalancana Pembangunan dari pemerintah.
Meski kisah hidupnya telah diangkat menjadi novel laris, film layar lebar, hingga menginspirasi jutaan orang, Bu Mus tetap dikenal sebagai pribadi sederhana.
Ia bahkan meninggalkan pesan yang terus dikenang banyak orang.
"Kalau kita sudah tinggi, tidak usah disanjung-sanjung, nanti jatuh ke buminya lebih tinggi lagi." ujarnya
Kalimat sederhana itu menjadi cerminan kepribadian Muslimah Hafsari seorang guru yang memilih hidup dalam kesederhanaan, tetapi meninggalkan warisan besar bagi dunia pendidikan Indonesia.
Dedikasinya membuktikan bahwa seorang guru dengan hati yang tulus mampu mengubah kehidupan banyak orang, bahkan menginspirasi sebuah karya yang dikenang lintas generasi.
Suasana duka mendalam menyelimuti sebuah kediaman di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Sabtu (27/6/2026). Lantunan yasin menggema dari dalam rumah tersebut.
Tokoh pendidikan legendaris yang menginspirasi novel dan film Laskar Pelangi, Bu Muslimah Hafsari binti A. Kadir, meninggal dunia di usia 74 Tahun.
Kabar kepergian perempuan yang dikenal Bu Mus ini menyisakan kesedihan tidak hanya bagi keluarga besar, melainkan juga bagi seluruh masyarakat di Belitung Timur.
Di rumah duka yang mulai didatangi pelayat, putra almarhumah, Uun (45) duduk dengan raut senyum, tapi di satu sisi seperti menahan tangis.
Uun tentunya merasakan duka yang teramat dalam setelah terjaga semalaman mengawal detak jantung sang ibu.
Kepada Posbelitung.co, Uun secara perlahan menceritakan kronologi dan detik-detik terakhir sebelum sang bunda mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Muhammad Zein, Manggar.
Uun menceritakan bahwa kondisi kesehatan ibundanya sebenarnya sudah mulai menurun drastis sejak Jumat (26/6/2026) malam, sekitar pukul 21.00 WIB.
Melihat kondisi tubuh Bu Mus yang kian melemah, pihak keluarga bersama tim medis langsung memutuskan untuk memindahkan almarhumah ke ruang perawatan intensif atau ICU.
"Kejadian awal drop-nya itu sebenarnya semalam sekitar jam 9 malam. Kondisinya terus menurun, sehingga langsung dibawa dan dirawat di ruang ICU," ujar Uun.
Memasuki waktu dini hari, tepatnya pada Sabtu pukul 02.30 WIB, kesehatan Bu Mus menunjukkan tanda-tanda kritis. Kondisi tubuhnya kembali mengalami penurunan yang sangat drastis.
Keluarga yang terus mendampingi di sisi ranjang rumah sakit hanya bisa pasrah dan terus memanjatkan doa di tengah kepanikan ruang ICU yang sunyi.
Tepat satu jam berselang, perjuangan perempuan yang mendedikasikan hidupnya pendidikan anak-anak kurang mampu itu akhirnya selesai.
"Jam 02.30 subuh itu mulai turun lagi, drop lagi kondisinya. Kemudian tepat pada pukul 03.30 WIB, Ibu sudah enggak ada lagi (meninggal dunia)," ucap Uun.
Sebelum dinyatakan wafat pada Sabtu subuh, Bu Mus rupanya sudah menjalani perawatan yang cukup intensif. Uun menyebut ibunya telah terbaring di rumah sakit selama kurang lebih tiga minggu terakhir.
Selama masa perawatan tersebut, Uun mengatakan pihak keluarga dibantu tim dokter telah melakukan berbagai ikhtiar dan upaya pengobatan medis secara maksimal demi kesembuhan almarhumah.
"Kalau dirawat di rumah sakit itu totalnya sudah sekitar tiga minggu. Sebenarnya beliau ini ada mengalami gejala seperti tumor di tubuhnya," katanya.
Upaya operasi pun sudah pernah ditempuh oleh tim medis sebagai jalan keluar untuk mengangkat penyakit tersebut, namun takdir berkata lain.
"Kami dari pihak keluarga tentu sudah berikhtiar dan melakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan Ibu selama di rumah sakit," ungkapnya.
Uun juga menceritakan bahwa tidak ada tanda-tanda berupa perubahan perilaku yang mencolok dari ibundanya, baik sebelum maupun sesudah kondisi fisiknya drop semalam.
Menurutnya, Bu Mus tetap menunjukkan ketenangan dan bersikap seperti biasa di ranjang rumah sakit, sama sekali tidak mengeluhkan rasa sakit yang berlebih di depan anak-anaknya.
Setelah disemayamkan dan dimandikan di rumah duka, jenazah Bu Mus langsung dibawa ke Masjid Baitul Muttaqien, Desa Gantung untuk disalatkan oleh ratusan pelayat yang memadati area Gantung sekitar pukul 08.00 WIB.
Langkah kaki para pelayat kemudian mengiringi keranda jenazah Bu Mus menuju peristirahatan terakhirnya di TPU Cempaka, Desa Gantung.
Prosesi pemakaman berlangsung penuh haru, di mana jasad sang guru itu dimasukkan ke liang lahat sekitar pukul 08.30 WIB.
"Tadi pagi sekitar jam 8-an sudah disalatkan, dan Alhamdulillah prosesi pemakaman di Cempaka sudah selesai semua tadi sekitar jam 08.30 WIB," tutup Uun mengakhiri pembicaraan.
(Bangkapos.com/Zulkodri/Kautsar Fakhri Nugraha)