Penulis : Muhammad Isnaini
(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Meskipun riuh rendah perayaan Hari Ayah Sedunia baru saja berlalu pada tanggal 21 Juni 2026, gema dari momen refleksi tersebut seharusnya tidak ikut memudar bersama bergantinya tanggal.
Di tengah lini masa yang kini mulai kembali dipadati oleh rutinitas harian dan tren-tren baru, tulisan ini hadir bukan untuk memperpanjang euforia seremonial, melainkan untuk menjaga agar esensi dari penghormatan terhadap sosok ayah tetap hidup di dalam sanubari kita.
Menunda sejenak ingatan kita pada momentum kemarin justru memberikan kita ruang yang lebih tenang—bebas dari distorsi pameran visual di media sosial—untuk benar-benar menyelami esensi terdalam dari kepemimpinan seorang ayah: sebuah perjuangan sunyi yang tidak pernah meminta panggung.
Ada sebuah ruang kosong yang sering kali luput dari perhatian kita di dalam rumah. Ruang itu bukan sudut kamar yang sepi atau gudang yang berdebu, melainkan sebuah ruang emosional di mana seorang ayah menyimpan segala lelah, kecemasan, dan cintanya.
Berbeda dengan ibu yang dianugerahi kemampuan alami untuk mengartikulasikan kasih sayang lewat pelukan hangat dan untaian doa yang terdengar jelas di telinga, ayah sering kali mengadopsi bahasa yang sama sekali berbeda.
Ayah adalah makhluk yang berbahasa lewat tindakan, menenun kasih sayang dari peluh yang menetes, dan menyatakan cinta melalui kepastian bahwa esok hari anak-anaknya bisa makan dengan tenang dan bersekolah dengan layak.
Dunia sering kali salah menilai kesunyian ini. Di era modern yang menuntut segala hal diungkapkan secara verbal dan dipamerkan di jejaring digital, ketidakpandainan seorang ayah dalam berkata-kata kadang dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian atau jarak emosional.
Padahal, jika kita bersedia melihat lebih dekat, melampaui retorika kata-kata manis yang tak pernah mampir di bibirnya, kita akan menemukan sebuah monumen perjuangan yang dibangun dalam diam.
Ayah tidak selalu pandai berkata, tetapi seluruh hidupnya adalah sebuah pembuktian tentang apa artinya berjuang tanpa menuntut tepuk tangan.
Sejak kita kecil, kita mungkin terbiasa dengan dialog-dialog pendek yang kaku bersama ayah. Pertanyaan seperti "Sudah makan?" atau "Bagaimana sekolahnya?" sering kali menjadi batas akhir dari usaha mereka untuk membuka percakapan.
Banyak ayah yang gagap ketika harus menghadapi anak yang sedang menangis, atau bingung menempatkan diri saat anak remajanya mulai mengalami patah hati pertama.
Mereka tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk menenangkan badai emosional yang sedang berkecamuk di dalam rumah. Namun, kegagapan verbal ini dibayar tuntas oleh bahasa tubuh mereka yang luar biasa tangguh.
Ketika atap rumah bocor di tengah malam saat hujan deras, ayah adalah orang pertama yang memanjat genting tanpa mengeluh. Ketika biaya pendidikan tiba-tiba membengkak, ayah adalah orang yang diam-diam bekerja lembur hingga larut malam, atau mencari pinjaman ke sana kemari tanpa pernah membiarkan anak-anaknya tahu betapa berat beban yang sedang dipikulnya.
Bagi seorang ayah, komunikasi terbaik bukanlah untaian kalimat puitis, melainkan sebuah kepastian bahwa seluruh anggota keluarganya terlindungi dari kerasnya badai kehidupan.
Ketidakpandainan berkata-kata ini sebenarnya adalah bentuk pengorbanan ego. Ayah memilih untuk mengesampingkan kebutuhan emosional pribadinya demi memastikan fungsi-fungsi mendasar di dalam keluarga berjalan dengan baik.
Mereka merelakan diri menjadi sosok yang tampak tangguh dan tak tersentuh, bahkan kadang dianggap dingin, hanya agar anak-anaknya merasa memiliki sandaran yang kokoh dan tidak goyah oleh badai apa pun.
Salah satu pemandangan paling menyentuh dari seorang ayah adalah momen ketika ia baru saja pulang bekerja.
Perhatikan bagaimana ia membuka pintu rumah: dengan guratan lelah yang mendalam di wajahnya, pakaian yang mungkin sudah kusut oleh debu jalanan, dan bahu yang sedikit membungkuk menahan beban hari itu. Namun, begitu matanya menangkap kehadiran anak-anaknya, ada sebuah transformasi instan yang dipaksakan terjadi.
Lelah itu ditelannya bulat-bulat, digantikan oleh senyum tipis yang dipaksakan agar rumah tidak ikut merasakan ketegangan yang ia bawa dari luar.
Di dunia kerja, seorang ayah mungkin harus menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Ia mungkin harus menahan ego di hadapan atasan yang semena-mena, menghadapi persaingan bisnis yang kejam, atau bertaruh nyawa di jalanan demi membawa pulang beberapa lembar rupiah.
Semua tekanan, penghinaan, dan keletihan itu disaring dengan sangat ketat di dalam kepalanya. Tidak ada satu pun dari hal-hal negatif tersebut yang boleh melewati ambang pintu rumah.
Seorang ayah sejati bertindak seperti perisai. Ia membiarkan dirinya dihantam oleh berbagai tombak kesulitan di luar sana, sementara anak dan istrinya tetap aman berada di balik punggungnya.
Sunyi yang ia pilih saat tiba di rumah bukanlah karena ia tidak ingin berbagi cerita, melainkan karena ia tidak ingin menularkan kecemasan kepada orang-orang yang dicintainya. Ia lebih memilih dituduh sebagai pendiam daripada harus melihat wajah anak-anaknya ikut muram memikirkan beban orang dewasa.
Jika kita menengok kembali lembaran memori masa kecil kita, kita akan menyadari bahwa banyak momen krusial dalam hidup kita yang dikawal oleh perjuangan diam-diam seorang ayah.
Siapa yang memegangi bagian belakang sepeda kita saat kita pertama kali belajar mengendarainya, lalu melepaskannya dengan penuh kekhawatiran tanpa kita sabari?
Siapa yang berdiri paling belakang saat kita merayakan kelulusan, menatap kita dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan, namun memilih tidak ikut berfoto di depan karena merasa pakaiannya kurang pantas?
Ayah adalah arsitek di balik layar dari kesuksesan kita. Ketika kita berhasil meraih impian, pujian sering kali mengalir kepada kita atau kepada ibu yang selalu mendampingi dengan doa-doanya yang lembut.
Ayah sering kali tersisih dari panggung perayaan tersebut. Ia mungkin hanya duduk di pojok ruangan sambil tersesap kopi harinya, menikmati keberhasilan anaknya dalam kesendirian yang damai.
Ia tidak butuh namanya dipanggil, ia tidak butuh diakui secara publik; baginya, melihat anaknya melangkah lebih jauh daripada jarak yang pernah ia tempuh dalam hidupnya sudah merupakan upah tertinggi dari segala perjuangan diam-diamnya.
Tragedi dari hubungan ayah dan anak sering kali adalah keterlambatan kita dalam menyadari hal ini. Kita sering kali baru memahami arti dari setiap keheningan ayah justru ketika kita sendiri telah menjadi orang tua, atau bahkan ketika sosoknya sudah tidak ada lagi di dunia ini dan yang tersisa hanyalah bayang-bayang kursinya yang kosong di ruang tamu.
Merayakan Sunyi, Memaknai Arti Kehadiran
Melalui refleksi yang lahir tepat setelah Hari Ayah kemarin, saya ingin mengajak kita semua untuk mengubah cara kita memandang kesunyian seorang ayah.
Jangan mengukur cinta seorang ayah dari seberapa sering ia mengucapkan kata "Aku sayang kamu," karena bagi mereka, kalimat itu terlalu ringkih untuk mewakili beratnya tanggung jawab yang mereka emban.
Ukurlah cintanya dari setiap tetes keringatnya yang mengering di baju kerjanya, dari sepasang sepatunya yang sudah usang namun tak kunjung diganti demi membelikan kita sepatu baru, dan dari setiap malam di mana ia terjaga untuk memastikan semua pintu rumah sudah terkunci dengan aman.
Mendidik diri kita untuk memahami bahasa diam seorang ayah adalah sebuah bentuk kedewasaan emosional.
Kita perlu belajar membaca arti dari tatapan matanya yang lelah, arti dari deheman kecilnya saat kita meminta sesuatu, atau arti dari pelukan kaku yang jarang ia berikan namun terasa begitu erat ketika terjadi.
Di balik semua keterbatasan verbal itu, ada sebuah samudra cinta yang sangat dalam dan tak bertepi.
Sebagai anak, tugas kita bukan menuntut ayah untuk menjadi sosok yang pandai berkata-kata atau bersikap romantis layaknya tokoh-tokoh di dalam film.
Tugas kita adalah menjadi pendengar yang baik bagi kesunyiannya. Duduklah di sampingnya meskipun tidak ada sepatah kata pun yang terucap, buatkan ia secangkir kopi hangat di sore hari, atau sekadar tepuk pundaknya yang mulai merapuh dan katakan bahwa kita tahu ia telah berjuang dengan sangat luar biasa. Karena terkadang, bagi seorang ayah yang telah menghabiskan seluruh hidupnya berjuang dalam diam, sebuah pengakuan sederhana bahwa perjuangannya terlihat dan dihargai adalah oase terbesar yang mampu menyembuhkan segala rasa lelahnya. (*)