SURYA.CO.ID – Ini lah profil lima kerajaan adat besar di Provinsi Lampung yang memberikan gelar kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Mereka adalah:
Baca juga: Sosok Kombes Abrianto Pardede yang Siap Ladeni Gugatan Praperadilan Roy Suryo di Kasus Ijazah Jokowi
Prosesi penganugerahan sakral ini berlangsung khidmat dengan nuansa budaya yang kental di kawasan cagar budaya Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung.
Sejak pagi, kawasan Jalan Minak Sangaji dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan prosesi adat yang digelar lima kerajaan adat Lampung.
Meski prosesi berlangsung tertutup dan sarat nilai sakral, warga tetap bertahan di luar area acara hanya untuk melihat Jokowi dari kejauhan.
Teriakan "Pak Jokowi... Pak Jokowi..." berkali-kali menggema saat iring-iringan kendaraan memasuki kompleks Kedaton Keagungan.
Suara petasan turut mengiringi kedatangan Jokowi yang mengenakan pakaian adat Lampung sebelum menerima gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa".
Salah seorang warga, Rohani, mengaku sudah berada di lokasi sejak pukul 07.00 WIB agar tidak kehilangan momen bersejarah tersebut.
"Saya datang dari pagi sekitar jam tujuh. Memang sengaja ingin melihat langsung Pak Jokowi dan prosesi pemberian gelar adat ini. Selama ini hanya lihat di televisi," kata Rohani.
Meski tidak diizinkan memasuki area utama karena prosesi bersifat sakral, ia mengaku tetap puas bisa melihat Jokowi dari dekat.
"Kami memang tidak boleh masuk karena acaranya sakral. Tidak apa-apa, yang penting bisa melihat Pak Jokowi dari dekat, itu sudah senang," ujarnya.
Hal senada disampaikan Rahmat. Rasa penasaran mendorongnya datang ke lokasi meski harus berdesakan dengan ribuan warga lainnya.
Selama prosesi berlangsung, aparat gabungan dari Polresta Bandar Lampung dan Polda Lampung melakukan pengamanan di sejumlah titik untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib.
1. Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak
Wilayah: Berpusat di dataran tinggi Belalau, lereng Gunung Pesagi, Kabupaten Lampung Barat.
Adat: Penganut payung adat Lampung Saibatin (Peminggir).
Kerajaan ini diyakini sebagai asal-usul keturunan suku bangsa Lampung. Kerajaan purba ini bertransisi menjadi kesultanan Islam pada abad ke-13 melalui kepemimpinan empat Umpu (pangeran).
Hingga kini, kerajaan ini terbagi menjadi empat Kepaksian (wilayah adat otonom): Kepaksian Pernong, Kepaksian Nyerupa, Paksi Buay Belunguh, dan Paksi Buay Bejalan Diway. Kepemimpinan tertingginya dipegang oleh Sultan/Saibatin.
2. Kerajaan Adat Buay Lima (Way Kanan)
Wilayah: Berpusat di aliran Way Kanan, mencakup wilayah Kabupaten Way Kanan, Lampung Barat, hingga Tanggamus.
Adat: Penganut hukum adat Lampung Pepadun.
Kerajaan ini merupakan federasi adat tradisional yang secara genealogis terbentuk dari migrasi keturunan Sekala Brak. Dinamakan "Buay Lima" karena konon digagas oleh keturunan lima bersaudara yang membentuk lima kebuayian (marga besar) di sepanjang aliran sungai Way Kanan.
Sistem kepemimpinannya bercorak demokratis khas Pepadun, di mana status adat dapat dicapai melalui upacara adat (Begawi Cakak Pepadun).
3. Kerajaan Adat Buay Bulan (Tulang Bawang)
Wilayah: Berpusat di sepanjang bantaran Way Tulang Bawang, mencakup wilayah Kabupaten Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat.
Adat: Penganut hukum adat Lampung Pepadun.
Buay Bulan adalah salah satu dari pilar utama Mego Pak Tulang Bawang (Empat Marga Besar Tulang Bawang), yang memiliki keterkaitan historis erat dengan sejarah kuno Kerajaan Tulang Bawang.
Pemerintahan adatnya dijalankan oleh para Punyimbang Marga (pemimpin adat tertinggi) yang mengatur jalannya tatanan sosial, kepemilikan tanah ulayat, dan pelestarian ritual adat bagi masyarakat di tiyuh-tiyuh (kampung).
4. Kerajaan Adat Buay Bahuga (Way Kanan)
Wilayah: Wilayah adatnya mendiami bagian hilir Kabupaten Way Kanan (Kecamatan Bahuga dan sekitarnya) yang berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan.
Adat: Penganut hukum adat Lampung Pepadun.
Buay Bahuga merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat Way Kanan yang memiliki otonomi kebuayian tersendiri.
Sebagai bagian dari masyarakat Pepadun, tatanan sosialnya mengedepankan musyawarah mufakat antar sesepuh adat.
Wilayah ini terkenal sebagai salah satu benteng pelestarian sastra lisan Lampung, arsitektur rumah panggung tradisional, serta hukum adat perkawinan yang masih ditaati hingga sekarang.
5. Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
Wilayah: Berpusat di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Adat: Penganut payung adat Lampung Saibatin.
Keratuan Darah Putih memiliki latar belakang historis dan genealogi yang sangat kuat dengan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.
Menurut naskah kuno, pendiri keratuan ini adalah keturunan langsung dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dengan Putri Sinar Alam dari Keratuan Pugung.
Keratuan Darah Putih merupakan asal-usul garis keturunan pahlawan nasional dari Lampung, Radin Inten II, dan hingga kini posisi kepemimpinan tertingginya diwariskan secara turun-temurun
Penyematan gelar adat kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Kedatun Keagungan Lampung pada Sabtu (27/6/2026) pagi, dipastikan bukan sekadar seremoni kosmetik atau simbol pemanis belaka.
Masyarakat adat marga Lampung rupanya menitipkan untaian doa mendalam, penghargaan tertinggi, sekaligus pengakuan kultural yang sah atas rekam jejak pengabdian Jokowi selama satu dekade menakhodai Republik Indonesia.
Sultan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, menegaskan bahwa ornamen gelar tersebut murni mencerminkan penghormatan tulus atas kiprah kepemimpinan nasional Jokowi.
"Baginda Pemuka Bangsa itu tanda penghormatan kepada beliau sebagai Presiden RI ke-7, sebagai pemuka bangsa," ungkap Mawardi saat ditemui usai mendampingi Jokowi menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi adat, dilansir kompas.com.
Mawardi menguraikan bahwa setiap lembar gelar yang dikeluarkan oleh Keraton Keagungan Lampung selalu dibalut oleh nilai filosofis yang diwariskan ketat secara turun-temurun, bukan diputuskan secara instan.
"Tentu ada doa-doa di balik gelar itu. Keraton Kagungan memiliki banyak doa yang menyertai setiap pemberian gelar adat," imbuhnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ritual pengangkatan saudara (angkat batin) dan penganugerahan gelar ini merupakan pengejawantahan nyata dari falsafah hidup fundamental masyarakat Lampung, yakni Piil Pesenggiri.
Secara khusus, prosesi ini memotret nilai Nemui Nyimah, sebuah doktrin moral yang mengajarkan keluhuran budi dalam menghormati tamu, mempererat tali persaudaraan, serta menjaga tiang persatuan.
Di mata Mawardi, tradisi luhur yang dulunya hanya digelar secara privat dan sederhana di lingkup internal kampung adat, kini telah bertransformasi menjadi instrumen diplomasi budaya yang perkasa.
Skema ini dinilai efektif untuk melambungkan nama Lampung ke panggung nasional sekaligus merekatkan kembali retakan persatuan bangsa.
Dirinya tidak menampik bahwa rekam jejak politik Jokowi kerap memicu pro-kontra dan membelah persepsi di tengah masyarakat luas.
Namun, jika ditakar menggunakan kacamata dan timbangan hukum adat, keberhasilan Jokowi menuntaskan mandat kepemimpinan selama dua periode berturut-turut adalah sebuah prestasi sosiologis yang wajib diapresiasi secara jantan.
"Kalau penilaian masyarakat tentu bermacam-macam. Tapi beliau berhasil memimpin Indonesia selama 10 tahun. Penilaian kami secara budaya tentu baik," tegas Mawardi meluruskan sudut pandang.
Mawardi juga sempat mengenang momen hangat saat dirinya bersua langsung dengan Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu silam.
Kala itu, ia melobi sang kepala negara untuk menggulirkan program revitalisasi keraton-keraton adat di seantero Nusantara demi menyelamatkan benteng terakhir warisan budaya bangsa.
Merespons ketulusan karpet merah kebudayaan tersebut, Jokowi menyampaikan rasa takzim dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku adat Lampung yang dinilainya tetap teguh memeluk erat tradisi di tengah gempuran modernisasi digital.
"Atas nama pribadi, saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran perangkat adat yang terus merawat dan memelihara kebudayaan," tutur Jokowi hangat.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menaruh harapan besar agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Bumi Lampung tidak layu digilas zaman, melainkan sanggup diestafetkan dengan mulus kepada generasi z dan alfa.
"Semoga kebudayaan ini terus diteruskan oleh anak cucu kita sehingga budaya Lampung dan budaya Nusantara tetap lestari di tengah zaman yang semakin modern. Saya sangat menghargai dan sangat menghormati kebudayaan yang terus kita rawat dan pelihara bersama," tandasnya menutup sambutan.
Sebelum sah menyandang gelar "Baginda Pemuka Bangsa", Jokowi terpantau khusyuk mengikuti ritual maraton di Kedatun Keagungan.
Mulai dari upacara pengangkatan saudara, mendengarkan pembacaan titah juknis adat, duduk di kursi keramat Panca Haji, melakukan gerakan tari Ngigel bersama para penyimbang adat, hingga menyempatkan diri mengitari Museum Kedatun Keagungan Lampung. (kompas.com/tribun lampung/wikipedia)