TRIBUNNEWS.COM - Timnas Iran kembali mengalami kejadian tak menyenangkan pasca-menjalani pertandingan Piala Dunia 2026 kontra Mesir di Amerika Serikat.
Iran tak diizinkan bermalam di hotel yang memang menjadi tempat menginap mereka menjelang pertandingan.
Otoritas Amerika Serikat mendesak Iran segera pergi meninggalkan Fairmont Olympic Hotel yang ditinggali Mehdi Taremi dan kawan-kawan untuk sementara.
Ini menambah catatan negatif soal penyelenggaraan Piala Dunia 2026, utamanya soal kejadian di luar lapangan setelah sebelumnya persoalan visa juga menjadi sorotan.
"Cuma memang kondisi AS yang banyak perubahan aturan, terutama imigrasi (visa) yang beberapa negara diblacklist," kata Adrian Binafsihi, Wakil Ketua Umum Oranje Indonesia, dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Ya, ini cukup kontroversial, ditambah hubungannya dengan Iran dengan AS yang belum membaik," jelasnya.
Baca juga: Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026: Argentina Ditantang Tim Debutan, Prancis Hadapi Swedia
Tim Melli harus segera kembali ke Tijuana, Meksiko, yang menjadi markas utama mereka selama mengikuti Piala Dunia 2026.
Alhasil, para pemain dan staf Iran akan menghabiskan malam di atas pesawat.
Rencananya, para pemain dan staf Iran akan berangkat ke Tijuana menggunakan penerbangan yang dijadwalkan berangkat pada tengah malam.
Untuk diketahui, pertandingan antara Iran melawan Mesir di matchday ketiga Piala Dunia 2026 digelar pada Jumat (26/6/2026) pukul 20.00 waktu Seattle, Amerika Serikat.
Sekiranya pertandingan berakhir pada pukul 22.00 waktu setempat atau pukul 12.00 WIB pada Sabtu (27/6).
Dengan demikian, Iran hanya punya waktu sangat singkat untuk bersiap kembali terbang ke Tijuana, Meksiko.
Pihak Tim Melli sebenarnya berharap ada kelonggaran bagi mereka menghabiskan malam di hotel sembari beristirahat.
Namun otoritas AS benar-benar tak mengizinkan wakil Asia itu menginap lebih lama.
Pemain depan Iran, Mehdi Taremi, mengungkapkan perasaannya soal ini.
"Ini adalah Piala Dunia yang penuh dengan bencana. Benar-benar bencana besar," kata Taremi dikutip dari ESPN.
Mereka juga mengalami kejadian yang sama saat menjalani dua pertandingan sebelumnya.
Para pemain dan staf Iran harus segera beranjak dari Amerika Serikat untuk bergegas masuk Meksiko.
Bahkan saat akan menjalani pertandingan matchday kedua melawan Belgia, Iran juga mengalami kesulitan.
Meskipun aturan visa yang ketat diberlakukan terhadap tim sepak bola Iran, Tim Melli, julukan Iran, ingin terbang ke Amerika Serikat pada hari Jumat—dua hari sebelum pertandingan melawan Belgia yang dijadwalkan pada hari Minggu waktu setempat.
Namun, permintaan mereka ditolak oleh satuan tugas Piala Dunia, dengan Ghalenoei mengecam perlakuan yang diterima negaranya tersebut.
"Kami seharusnya mendapatkan waktu 24 jam [di Los Angeles], tetapi mereka memberi kami kurang dari 16 jam. Karena itulah kami harus menghentikan sesi latihan kami di tengah jalan," kata Ghalenoei dikutip dari talkSPORT.
"Pembatasan-pembatasan ini telah membuat situasi menjadi sangat sulit bagi kami," sambungnya.
Ia juga mengklaim FIFA telah memberi tahu Iran bahwa mereka mungkin dapat melakukan perjalanan pada Jumat sore waktu setempat.
Namun hal itu tidak pernah terjadi.
FIFA bahkan hanya bisa mengucapkan maaf lantaran tak bisa menepati janjinya itu kepada Iran.
"Kami menunggu hingga jam 7 malam, tidak ada yang terjadi," lanjut Ghalenoei.
"Mereka hanya mengatakan, 'maaf kami tidak bisa menolong Anda.'
"Ini akan berimbas kepada kami secara mental, terutama saya sebagai pelatih kepala, karena saya sebenarnya ingin fokus kepada hal-hal teknis," paparnya.
(Tribunnews.com/Guruh)