TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan untuk wanita Kaum ibu kristen.
Pembacaan alkitab terdapat pada Kejadian 9:1-17.
Dalam isi renungan ini dikhususkan untuk para kaum ibu kristen dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Agar hidup sesuai dengan firman Tuhan.
Renungan ini pun bisa digunakan para wanita kaum ibu yang akan memimpin ibadah.
Ataupun dalam pertemuan kelompok kecil kaum ibu.
Tema perenungan adalah Inilah Tanda Perjanjian yang Kuadakan Antara Aku dan Segala Makhluk yang Ada di Bumi.
Khotbah:
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kita masih berada di bulan Juni ini, yang bagi warga GMIM dirayakan sebagai Bulan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen, mengenang peristiwa 12 Juni 1831 saat Riedel dan Schwarz menginjakkan kaki di tanah Minahasa.
Sebagaimana kedua penginjil itu membawa "tanda" keselamatan ke tanah ini, hari ini kita diajak untuk merenungkan "tanda" janji Allah melalui perikop Kejadian 9.
Pasal ini, merupakan bagian dari narasi pasca-air bah yang sering disebut sebagai Perjanjian Nuh.
Di sini kita menemukan poin-poin teologis untuk dipahami, yaitu: Ayat 1-7, berisikan tentang Restorasi Mandat Budaya.
Allah memberikan berkat yang hampir identik dengan mandat penciptaan di Taman Eden.
Kata kerja "Berartakcuculah dan bertambah banyaklah" menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang pro-kehidupan.
Namun, ada pergeseran hubungan antara manusia dan ciptaan lainnya akibat dosa, dimana ketakutan menjadi bagian dari relasi tersebut.
Ayat 8-11, berisikan sifat dari perjanjian, yaitu satu arah. Allah mengambil inisiatif penuh tanpa menuntut syarat dari manusia.
la berjanji tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah.
Ini adalah teologi anugerah (Sola Gratia) yang paling awal, dimana keselamatan bergantung sepenuhnya pada kesetiaan Allah, bukan moralitas manusia.
Ayat 12-17, berbicara tentang tanda pelangi. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk "busur" adalah qeshet, yang berarti "busur panah perang".
Secara teologis, Allah meletakkan senjata-Nya di awan-awan. Pelangi adalah simbol bahwa murka Allah telah diteduhkan oleh kasih setia-Nya.
Allah memutar busur itu ke arah langit (diri-Nya sendiri), bukan ke arah manusia, sebagai tanda perdamaian.
Jika di zaman Nuh, Allah memberikan Pelangi sebagai tanda bahwa "Badai telah berlalu dan harapan baru telah datang", maka bagi kita di tanah Minahasa, kedatangan Riedel dan Schwarz pada 12 Juni 1831 adalah "Pelangi" rohani dari Tuhan.
Sebelum Injil masuk, tanah ini berada dalam kegelapan, namun Injil membawa terang perjanjian keselamatan.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Beberapa hal sebagai pelajaran berharga dari perikop ini adalah:
1. WKI GMIM adalah Tiang Doa Perjanjian. Sejarah mencatat bahwa pekabar Injil bisa bertahan karena ada komunitas yang menopang. Dalam keluarga, ibu adalah sosok yang paling dekat dengan "tanda perjanjian" itu.
Ketika ibu berdoa bagi anak-anak yang mulai menjauh dari Tuhan, atau bagi suami yang sedang bergumul. Ibu sedang menarik garis pelangi harapan di atas atap rumah tangga ibu. Jangan pernah berhenti berdoa, karena doa ibu adalah kekuatan yang menjaga perjanjian Allah tetap hidup dalam keluarga.
2. Seorang ibu adalah Pengajar Iman di dalam keluarga. Bulan Juni adalah bulan Pendidikan Kristen. Perjanjian Allah bersifat kekal, turun temurun ("turun temurun untuk selama-lamanya" ay.12).
Tugas kita bukan hanya memberi makan fisik, tetapi juga memberi makan rohani. Sebagaimana Riedel dan Schwarz membangun sekolah-sekolah di Langowan dan Tondano, setiap rumah harus menjadi -sekolah pertama- di mana anakanak mengenal Yesus. Jangan biarkan gadget atau
pergaulan dunia menghapus "tanda" salib di dahi dan hati anak-anak kita.
3. WKI sebagai Pemersatu. Pelangi indah karena banyak warna yang menyatu. WKI GMIM juga terdiri dari berbagai latar belakang sosial yang berbeda.
Teks Kejadian 9 mengingatkan kita bahwa perjanjian Allah itu untuk semua mahluk. Mari kita buang rasa iri hati atau perpecahan.
Jadilah ibu-ibu yang mempersatukan, yang membawa damai di tengah jemaat dan masyarakat, agar dunia melihat bahwa "Pelangi Kasih Allah benar-benar ada di dalam GMIM. Mari torang semua baku-baku sayang, baku-baku bantu, karena torang adalah anak-anak perjanjian.
4. Menjadi pembawa berkat bagi kehidupan. Ibu adalah benteng keluarga. Di era digital ini, banyak "air bah" modern yang mengancam anak-anak kita: narkoba, judi online, hingga hilangnya etika (sopan santun).
Seorang ibu dipanggil untuk tidak hanya melahirkan secara biologis, tetapi melahirkan nilai-nilai Injil. Ingatlah, Riedel dan Schwarz berhasil karena
mereka mendidik; kita pun dipanggil untuk menjadi "pendidik utama" di rumah.
5. Memegang Janji Allah di tengah badai. Pelangi muncul setelah hujan. Mungkin saat ini ada ibu-ibu yang berada di tengah "hujan" pergumulan ekonomi, sakit penyakit, atau masalah rumah tangga. Ingatlah: Tuhan tidak pernah lupa pada janji-Nya.
Jika 195 tahun yang lalu Tuhan menyertai masuknya Injil ke Minahasa melalui tantangan berat. Dia juga akan menyertai setiap
tetes air mata dan doa-doa Ibu di dalam kamar doa. Jangan menyerah, pelangi kasih-Nya pasti terbit.
6. Tanggung jawab terhadap alam. Perjanjian Allah mencakup "segala makhluk yang hidup" (Ayat 10). Sebagai WKI, jagalah alam sekitar kita.
Jangan membuang sampah sembarangan di selokan atau sungai.
Menjaga kelestarian alam adalah bentuk penghormatan kepada Allah Sang Pencipta yang telah memberikan bumi ini untuk kita diami. Lingkungan yang asri dan bersih adalah cerminan hati yang menghargai anugerah Allah.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ibu-ibu sekalian, tanda perjanjian Allah adalah pelangi. Tanda Pekabaran Injil di Minahasa adalah gereja yang bertumbuh.
Dan hari ini, biarlah tanda kehadiran Kristus terpancar melalui karakter kita sebagai wanita yang sabar, setia, dan penuh kasih.
Jadilah "pelangi" bagi suami, anak-anak, dan sesama. Biarlah melalui kehidupan kita, orang lain melihat bahwa Tuhan itu setia dan penuh anugerah. Amin.