Curhat Yuvita 3 Tahun Disiksa Taufik Hidayat, Gubernur Dedi Mulyadi: Ya Allah!
Noval Andriansyah June 27, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandung - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dibuat bergidik ngeri sekaligus tak mampu membendung rasa prihatinnya, saat mendengar langsung testimoni pilu mengenai aksi penyekapan dan penganiayaan sadis yang dialami Yuvita Tri Rezeki (29).

Baca juga: Sisi Gelap Taufik Hidayat, Pasang Selang Infus Sendiri Seusai Hantam Yuvita

Selama tiga tahun lamanya, Yuvita dipaksa hidup dalam 'neraka jahanam' akibat siksaan brutal yang dilakukan oleh kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat.

Pelarian Taufik Hidayat sendiri dipastikan telah berakhir setelah dirinya diringkus oleh penyidik Polda Jabar usai berhari-hari menjadi buronan nomor satu di wilayah hukum Jawa Barat.

Seiring dijebloskannya Taufik ke sel tahanan dan resmi menyandang status tersangka, tabir kekejaman yang dilakukannya perlahan mulai terkuak ke publik.

Melalui penuturan ayah kandung Yuvita, Irin, serta kakak iparnya, Melanie, Dedi Mulyadi mendengarkan secara runtut bagaimana kondisi fisik korban yang nyaris hancur tak berbentuk saat pertama kali dievakuasi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

"Sekarang udah sembuh, sebagian dijahitin semua. Ini di sini (telinga) masih bolong tapi udah kering enggak keluar (nanah). Cuma kuping ini yang satu kan bekas pemukulan jadi tulang-tulangnya udah rapat," ungkap Irin di hadapan Dedi Mulyadi.

Mendengar detail kondisi telinga korban yang mengalami kelainan anatomi akibat trauma benda tumpul secara konstan, mantan Bupati Purwakarta itu langsung meringis kesakitan.

"Kupingnya nempel karena?" tanya Dedi Mulyadi dengan raut wajah tegang, dilansir TribunnewsBogor.com.

"Karena sering dipukul, di sini kan rada memar," jawab Irin pelan.

"Karena sering dipukul jadinya (telinga) nempel? Ya Allah..." sahut Dedi Mulyadi sembari mengusap wajahnya, tak percaya ada manusia setega itu.

Kondisi Tragis: Kepala Membusuk Penuh Belatung

Irin menahan buncahan air mata saat mengingat kembali momen kelam saat sang putri pertama kali diselamatkan. Akibat siksaan keji bertahun-tahun, bagian kulit kepala Yuvita sempat mengalami pembusukan parah hingga dipenuhi nanah dan belatung.

Tak berhenti sampai di situ, bagian wajah Yuvita juga dipenuhi luka sayatan mendalam. Bibir bagian atasnya hilang, sementara rahang dan tulang hidungnya patah total akibat hantaman benda-benda keras.

"Katanya banyak lah (Taufik) mukulnya, pertama pakai helm, kursi juga pernah, pakai tangan kosong, sampai pakai gantungan besi," urai Irin getir.

Meskipun saat ini kondisi Yuvita berangsur membaik pasca-operasi besar dan rangkaian jahit tak berbilang di RSHS, cacat permanen pada fungsi penglihatan dan beberapa struktur wajahnya tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.

Motif Pelaku: Kuras Harta Korban, Dijadikan Jaminan Pinjol

Rasa penasaran Dedi Mulyadi mengenai apa yang mendasari Taufik Hidayat begitu gelap mata menyiksa kekasihnya akhirnya terjawab melalui penjelasan Melanie.

Berdasarkan curhatan Yuvita, eskalasi penyiksaan itu dimulai secara berdarah-darah tepat setelah harta benda milik korban habis tak bersisa.

Selama masa penyekapan, Taufik rupanya secara bertahap menguras seluruh isi tabungan Yuvita, merampas dan menjual perhiasan emasnya, hingga mencairkan saldo BPJS Ketenagakerjaan milik korban secara sepihak dengan total kerugian fisik mencapai Rp52 juta.

Lebih biadab lagi, Taufik menyalahgunakan data identitas pribadi Yuvita tanpa izin untuk mengajukan pinjaman online (pinjol) serta limit paylater di berbagai aplikasi digital.

Setelah korban jatuh miskin dan terlilit utang di mana-mana, amarah Taufik justru memuncak karena tidak ada lagi materi yang bisa diperas dari sang kekasih.

"Waktu itu mungkin dalam keadaan cinta, mungkin dijanjiin sesuatu di awal. Begitu habis tabungan dan tidak ada lagi yang bisa diambil, barulah tumbuh emosi setan itu," analisis Dedi Mulyadi mencoba mencerna psikologis hubungan toksik tersebut.

Irin sendiri mengaku sangat heran dan mengutuk jalan pikiran Taufik Hidayat yang enggan melepaskan putrinya secara baik-baik.

"Saya kepenginnya kalau udah gitu (tidak cinta) pulangin aja Vita ke rumah," sesal Irin.

"Ya, mungkin dia (Taufik) ketakutan kalau dipulangkan dalam kondisi penuh luka begitu, dia takut langsung dituntut dan dilaporkan ke polisi oleh pihak keluarga," pungkas Dedi Mulyadi, seraya menegaskan komitmennya untuk mengawal kasus keji ini hingga tersangka dijatuhi hukuman maksimal di pengadilan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.