TRIBUNBATAM.id, LINGGA - Sebuah kapal pengangkut pisang, KM Andayani GT 06, tenggelam di perairan Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, akibat dihantam cuaca ekstrem, Jumat (26/6/2026).
Tiga nelayan yang berada di dalam kapal berhasil selamat, setelah bertahan selama dua hari di atas kelong sebelum akhirnya dievakuasi.
Kapolres Lingga, AKBP Pahala Martua Nababan, melalui Kasatpolairud Polres Lingga, Iptu Lundu Herryson Sagala, mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai kecelakaan laut tersebut, sekira pukul 09.30 WIB dari Pemerintah Desa Batu Berdaun.
Mendapat laporan itu, personel Polres Lingga yang dipimpin Ipda M. Ridwansyah bersama personel Satintelkam, Satpolairud, dan personel Polsek Dabo Singkep, langsung menuju lokasi.
Dari tiga korban tersebut, lanjut Lundu, tiga orang lebih dulu tiba di daratan dan sempat mendapatkan pemeriksaan medis di Puskesmas Dabo Lama.
Baca juga: Tangis Haru Pecah, Nenek Nurhayati Ditemukan Selamat Setelah Hilang Tiga Hari di Hutan Lingga
Sementara dua korban lainnya berhasil dievakuasi beberapa jam kemudian.
Ia menjelaskan, kapal tersebut dinakhodai H. Ase (54), warga Kota Jambi, dengan dua anak buah kapal (ABK), yakni Sawaludin Harefa (34), warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan Sudesmita (47), warga Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Berdasarkan keterangan nahkoda, KM Andayani GT 06 berangkat dari Pelabuhan Sungai Jambat, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, pada Selasa (23/6/2026), sekira pukul 21.00 WIB menuju Kampung Tua Bagan Punggur, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.
Kapal tersebut mengangkut sekitar delapan ton buah pisang, untuk dipasarkan ke Batam.
Namun, di tengah perjalanan kapal diterjang angin kencang disertai gelombang tinggi.
Karena tidak mampu menghadapi cuaca buruk, nahkoda memutuskan mengalihkan pelayaran menuju Pelabuhan Umum Dabo Singkep sebagai tempat berlindung.
Saat kapal mulai tenggelam, nahkoda dan kedua ABK berusaha menyelamatkan diri menggunakan jeriken bekas oli dan solar sebagai alat bantu apung.
Dalam kondisi malam yang gelap, ketiganya terpisah dan masing-masing berhasil naik ke kelong yang berbeda.
Mereka bertahan di atas kelong selama sekitar dua hari mulai Rabu (24/6) hingga Kamis (25/6) tanpa bantuan.
"Karena tak kunjung ada pertolongan, pada Jumat sekira pukul 05.00 WIB, H. Ase nekat berenang menuju daratan dengan memanfaatkan tiga botol air mineral kosong sebagai pelampung," jelas Lundu.
Sekira pukul 08.00 WIB, Ase berhasil mencapai pesisir Desa Batu Berdaun dan meminta bantuan kepada warga setempat.
Informasi itu kemudian diteruskan kepada Ketua RT setempat, hingga akhirnya dilaporkan kepada pemerintah kecamatan dan aparat kepolisian.
Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Dabo Lama menggunakan mobil dinas Camat Singkep Barat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi Ase dalam keadaan sehat dan tidak mengalami gangguan medis serius," ucapnya.
Setelah memperoleh keterangan dari nahkoda, tim gabungan bersama personel Satpolairud bergerak melakukan pencarian terhadap dua ABK yang masih bertahan di atas kelong menggunakan KM Bahtera Fishing Tour.
Hingga pukul 12.25 WIB, kedua ABK berhasil dievakuasi dan tiba dengan selamat di Pelabuhan Umum Dabo Singkep.
Iptu Lundu mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Namun, kapal beserta muatan sekitar delapan ton pisang tenggelam sehingga kerugian diperkirakan mencapai Rp200 juta.
Selain itu, seluruh dokumen identitas milik para korban, termasuk KTP, turut hanyut bersama kapal.
"Seluruh korban berhasil diselamatkan dan situasi selama proses evakuasi berlangsung aman, kondusif, serta terkendali," katanya.
( tribunbatam.id/febriyuanda )