Mahasiswa Unair dan Warga Mojokerto Garap Lahan  untuk Ketahanan Pangan
Fatkhul Alami June 27, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id - Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) terjun langsung ke masyarakat di Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Mereka mengabdi dan melakukan pemberdayaan masyarakat melalui inovasi Karangkitri sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga di Desa Bendunganjati, 8-13 Juni 2026.

Kegiatan ini didukung dan didanai oleh UNAIR Sustain. Melalui kegiatan Karangkitri, masyarakat diajak memanfaatkan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan.  

“Tujuan dari Karangkitri sendiri adalah pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk dijadikan lahan tani serbaguna, nantinya lahan pekarangan ini dapat ditanami tanaman kebutuhan pokok rumah tangga seperti cabai, sawi, terong, dan tomat,” sebut Nickolas Ivan Palevi selaku penanggung jawab program Langkah Lestari 3.0.

Harapannya hasil tanaman ini dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ataupun dijual kembali ke masyarakat karena sekali manfaat dan kegunaan dari konsep Karangkitri sendiri. Mengoptimalkan Pekarangan untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Desa.

Sebelum melaksanakan kegiatan pengabdian, panitia Langkah Lestari 3.0 melakukan observasi dan koordinasi dengan perangkat serta masyarakat Desa Bendunganjati.

Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, panitia menemukan bahwa sebagian besar rumah warga memiliki lahan pekarangan yang cukup luas. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan pangan rumah tangga maupun penghijauan lingkungan.

Program ini berfokus pada pemanfaatan lahan pekarangan sebagai media budi daya tanaman pangan  yang dapat memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan bagi masyarakat.

Pada 11 Juni di lahan pekarangan Kepala Desa Bendunganjati, mahasiswa bersama ibu-ibu PKK melakukan sosialisasi, praktik penanaman bibit, serta edukasi mengenai konsep karangkitri yaitu pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman antara lain bibit terong, cabai besar, cabai rawit, tomat, timun, dam jagung manis.

Kegiatan ini didampingi Sekawan Bumi sebagai kolaborator dalam program ini.  

Muhammad Gofarromdan Wibisana dari Sekawan Bumi menjelaskan pentingnya menghidupkan  kembali konsep ini.

 “Sekarang budaya tentang Karangkitri itu sudah mulai dilupakan. Jadi Karangkitri itu sebuah budaya pertanian atau budidaya tanaman, khususnya untuk tanaman komoditas pangan seperti untuk kebutuhan dapur yang biasanya digunakan, ditanam di sekitar pekarangan rumah, di depan, dibelakang ataupun di sekitar rumah. Gunanya memang untuk menunjang kebutuhan ekonomi kemandirian pangan di setiap rumah tangga masing-masing,” jelasnya.

Antusiasme disampaikan perangkat desa setempat yang melihat langsung manfaat jangka panjang dari program ini bagi pemenuhan kebutuhan dapur harian.  

“Sebenarnya sangat bermanfaat. Kalau punya tanaman pangan sendiri, saat harga cabai naik kita masih punya persediaan di rumah. Selain itu, hasil tanam sendiri juga lebih sehat dan bisa membantu menghemat pengeluaran keluarga. Tapi semuanya bermanfaat karena itu kebutuhan pokok di dapur. Buat bumbu, buat masakan. Tadi saya minta cabai sama tomat. Minimal buat nyambel karena harga lombok naik ya,” tutur Ilmiah Hidayati, Kepala Dusun Kedok Panteng, Desa Bendunganjati.

Penulis:
Aisya Izzati Ramadhani & Aqila Rasya Putri
Mahasiswa FISIP Unair

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.