Kenapa Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin Meski Suhu Mencapai 50 Derajat? Ternyata Bukan karena AC
Abd Rahman June 27, 2026 05:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM- Jutaan umat Islam yang datang ke Masjidil Haram di Makkah setiap tahun kerap dibuat heran dengan suhu lantai di area Mataf, tempat jemaah melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah.

Meski suhu udara pada musim panas bisa menyentuh 50 derajat Celsius, lantai marmer di kawasan tersebut tetap terasa sejuk saat dipijak tana alas kaki.

Banyak yang menduga kesejukan itu berasal dari sistem pendingin yang dipasang di bawah lantai. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak benar.

Baca juga: Pasha Ungu, Eko, Desi dan Verrell Bramasta Dijadwalkan Hadir di Mamuju, Temani Zulkifli Hasan

Baca juga: 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal saat Latsarmil, Pengamat Sebut Konsepnya Sudah Salah Sejak Awal

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ustaz Ahmad Musyaddad, menjelaskan bahwa tidak ada teknologi pendingin yang dipasang di bawah lantai Masjidil Haram.

Menurutnya, rahasia lantai yang tetap dingin terletak pada material marmer yang digunakan.

"Lantai Masjidil Haram menggunakan marmer khusus jenis Thassos yang didatangkan dari Yunani," ujar Ahmad Musyaddad kepada tim Media Center Haji (MCH), Minggu (21/6/2026).

Ia menjelaskan, marmer tersebut dipilih setelah para insinyur dan arsitek melakukan pencarian material yang mampu memberikan kenyamanan bagi jutaan jemaah yang beribadah setiap hari.

Pilihan akhirnya jatuh pada marmer putih yang berasal dari Pulau Thassos, Yunani.

Marmer ini dikenal memiliki kemampuan memantulkan sinar matahari lebih baik dibandingkan jenis batu lainnya.

Karena hanya menyerap sedikit panas, permukaannya tetap terasa relatif dingin meski terpapar matahari dalam waktu lama.

"Tidak ada teknologi tambahan seperti pendingin di dalam lantai. Kemampuan itu berasal dari karakteristik marmernya sendiri," jelasnya.

Dikutip dari Arab News, marmer Thassos merupakan marmer dolomit putih yang telah ditambang selama ratusan tahun di Pulau Thassos, Laut Aegea, Yunani.

Material tersebut memiliki warna putih yang sangat cerah sehingga mampu memantulkan sebagian besar radiasi matahari.

Sifat inilah yang membuat suhu permukaannya tidak mudah meningkat meski cuaca sedang sangat panas.

Pemerintah Arab Saudi telah menggunakan marmer Thassos selama puluhan tahun untuk pelataran Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

Pemilihan material itu dilakukan karena kedua masjid suci tersebut setiap hari dipadati jemaah yang berjalan dan beribadah tanpa menggunakan alas kaki.

Dengan karakteristik marmer yang mampu menjaga suhu permukaan tetap nyaman, jemaah dapat menjalankan ibadah tawaf maupun salat dengan lebih khusyuk, bahkan saat musim panas ekstrem melanda Kota Makkah dan Madinah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.