Daya Tampung Sekolah Negeri di Bandung Turun, Kadisdik Ungkap Kurang 2.800 Guru
Ravianto June 27, 2026 06:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berkurangnya kuota penerimaan siswa di sekolah negeri menjadi persoalan yang dihadapi Kota Bandung pada pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. 

Dinas Pendidikan Kota Bandung menyebut pengurangan rombongan belajar (rombel), keterbatasan fasilitas, dan kekurangan sekitar 2.800 guru menyebabkan daya tampung sekolah negeri terus menurun.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron mengatakan pemerintah sebenarnya ingin mengakomodasi sebanyak mungkin peserta didik, namun kondisi di lapangan tidak memungkinkan.

Ia menjelaskan kebijakan pemerintah pusat yang mengurangi jumlah rombongan belajar menyebabkan kapasitas penerimaan siswa baru ikut menurun.

“Kuota sekarang berbeda dengan tahun sebelumnya karena ada pengurangan rombel. Otomatis penerimaan siswa baru di sekolah negeri juga berkurang. Contohnya, SMPN 8 yang sebelumnya dapat membuka 8 rombel kini hanya diperbolehkan menerima 4 rombel,” ujar Asep saat dihubungi, Sabtu (27/6/2026).

Selain itu, lanjut Asep, sekolah negeri juga tidak lagi diperbolehkan membuka tiga shift pembelajaran sebagaimana beberapa tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat ruang belajar yang tersedia menjadi semakin terbatas.

“Kalau dulu ada tiga shift, sekarang tidak ada lagi. Itu kehilangan kuota yang cukup besar,” ujarnya.

Asep mengungkapkan Kota Bandung juga masih mengalami kekurangan sekitar 2.800 guru, sedangkan sekolah dasar masih membutuhkan sekitar 381 guru.

Menurut Asep, banyak guru aparatur sipil negara yang memasuki masa pensiun sementara penggantinya belum tersedia.

Akibatnya, pemerintah daerah tidak bisa begitu saja menambah rombongan belajar ataupun membuka kelas baru karena harus mempertimbangkan kecukupan tenaga pendidik, ruang kelas, dan dukungan anggaran.

Baca juga: Daftar SMA/SMK Swasta Kerja Sama di Subang, Purwakarta, dan Karawang, Alternatif SPMB Jabar 2026

“Kita ingin menambah rombel, tetapi harus didukung fasilitasnya ada, gurunya ada, anggarannya juga ada. Guru itu kewenangan pemerintah pusat,” katanya.

Pemerintah Kota Bandung telah mengusulkan penambahan guru kepada pemerintah pusat sekaligus mulai merencanakan pembangunan ruang kelas baru untuk mengantisipasi kebutuhan pendidikan pada tahun-tahun mendatang.

Asep mengakui setiap tahun selalu muncul keluhan masyarakat yang berharap anaknya diterima di sekolah negeri, khususnya sekolah-sekolah favorit seperti SMPN 2, SMPN 5, SMPN 7, dan beberapa sekolah lainnya.

Menurutnya, tingginya minat terhadap sekolah tertentu membuat persaingan semakin ketat.

Ia juga meluruskan kesalahpahaman masyarakat mengenai mekanisme seleksi antara SD dan SMP.

Untuk jenjang SD, seleksi tidak didasarkan pada jarak rumah dengan sekolah, melainkan usia calon peserta didik.

Jarak baru digunakan apabila terdapat peserta dengan usia yang sama dan kuota tidak mencukupi.

Sebaliknya, pada jenjang SMP, faktor jarak menjadi prioritas terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan usia apabila terdapat peserta dengan kondisi yang setara.

“SD itu berdasarkan umur, bukan berdasarkan jarak. Banyak yang salah paham karena rumahnya dekat tetapi usianya belum memenuhi syarat sehingga ditolak sistem,” jelasnya.

Meski berbagai keterbatasan masih dihadapi, Asep memastikan sistem SPMB tetap berjalan secara transparan dan terus dievaluasi setiap tahun.

Ia mengatakan masyarakat dapat memantau perubahan peringkat secara langsung melalui sistem sehingga seluruh proses berlangsung otomatis sesuai ketentuan.

Asep juga mengajak masyarakat untuk tidak memandang sekolah swasta sebagai pilihan kedua.

Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh status negeri atau swasta, tetapi juga dipengaruhi kemampuan siswa, dukungan keluarga, dan proses pembelajaran yang dijalani.

Ia bahkan menilai sekolah swasta memiliki sejumlah keunggulan, salah satunya pembelajaran yang umumnya berlangsung penuh tanpa sistem dua shift.

“Saya mengimbau bagi masyarakat yang secara ekonomi mampu, lebih baik memberikan kesempatan kepada warga yang kurang beruntung untuk bersekolah di negeri."

"Di swasta juga sama bagusnya. Prestasi anak tidak ditentukan sekolahnya negeri atau swasta, tetapi ditentukan oleh potensi anak dan dukungan orang tuanya,” ujarnya.(*)

Baca juga: Daftar 38 SMA Hybrid Se-Bandung Raya pada SPMB Jabar 2026, Sekolah Online Sabtu dan Minggu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.