Wisata Hiu Paus Ubah Nasib Pemuda Botubarani, Dari Nelayan Menjadi Pilot Drone
Wawan Akuba June 27, 2026 07:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Laut masih menjadi sumber penghidupan bagi Ewin Latief (24), warga Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango.

Namun cara pemuda itu mencari rezeki kini tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.

Jika dahulu kesehariannya dihabiskan menjala ikan di perairan Teluk Tomini, kini Ewin lebih sering terlihat berdiri di kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani dengan sebuah remote controller di tangannya.

Ia bekerja sebagai pilot drone yang membantu wisatawan mengabadikan momen saat berinteraksi dengan hiu paus dari udara.

Meski telah memiliki pekerjaan baru, Ewin mengaku belum sepenuhnya meninggalkan profesi lamanya sebagai nelayan.

Baca juga: Nama-Nama Peserta Latsarmil Calon Manajer Koperasi Merah Putih yang Meninggal Dunia, Total 5 Orang

"Kalau tidak ada tamu, saya masih turun ke laut mencari ikan," kata Ewin kepada Tribun Gorontalo, Sabtu (27/6/2026).

Perjalanan Ewin menjadi pilot drone bermula ketika Wisata Hiu Paus Botubarani mulai ramai dikunjungi wisatawan.

HIU PAUS--Suasana di Wisata Hiu Paus Botubarani Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Sabtu (27/6/2026). Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga.
HIU PAUS--Suasana di Wisata Hiu Paus Botubarani Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Sabtu (27/6/2026). Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. (TribunGorontalo.com)

Melihat peluang usaha yang muncul, ayahnya menyarankan agar ia mencoba mempelajari cara mengoperasikan drone.

"Ayah suruh saya coba dulu jadi operator drone, awalnya saya masih pikir-pikir," ujarnya.

Tanpa mengikuti kursus atau pelatihan khusus, Ewin belajar secara otodidak. Ia mengandalkan latihan mandiri dan sesekali meminta bantuan teman-temannya ketika mengalami kesulitan.

"Belajar sendiri, kadang teman juga mengarahkan, tapi secara keseluruhan otodidak," katanya.

Keinginan memiliki drone sendiri membuat Ewin mulai menyisihkan hasil kerjanya sebagai nelayan.

HIU PAUS-- Suasana objek wisata Hiu Paus Botubarani di Desa Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo pada Sabtu (30/5/2026)
HIU PAUS-- Suasana objek wisata Hiu Paus Botubarani di Desa Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo pada Sabtu (30/5/2026) (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Sedikit demi sedikit uang yang diperoleh dari menjala ikan dikumpulkan hingga akhirnya cukup untuk membeli drone pertamanya.

"Modalnya dari hasil tabungan turun menjala ikan. Sekitar Rp10 juta," ungkapnya.

Drone tersebut menjadi titik awal perubahan dalam kehidupannya.

Pada awal 2023, Ewin mulai menawarkan jasa dokumentasi udara kepada wisatawan yang datang ke Botubarani.

Saat itu, jumlah operator drone di kawasan wisata tersebut masih sangat terbatas.

"Awalnya masih sekitar enam pilot drone, termasuk saya," katanya.

Seiring meningkatnya popularitas Wisata Hiu Paus Botubarani, kebutuhan dokumentasi udara pun ikut meningkat.

Banyak wisatawan ingin mengabadikan pengalaman berenang bersama hiu paus atau menikmati pemandangan laut dari atas perahu dengan sudut pandang berbeda.

Peluang itu dimanfaatkan Ewin untuk menambah penghasilan.

Pada masa awal menjalankan usaha, pendapatan kotor yang diperolehnya bahkan bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hari.

Namun pendapatan tersebut harus dibagi dengan pihak lain yang terlibat dalam pelayanan wisata, seperti pemandu dan operator perahu.

Kini, jumlah pilot drone di kawasan wisata terus bertambah. Tercatat sekitar 37 unit drone beroperasi melalui 11 pilot pelayanan.

WISATA GORONTALO -- Suasana wisata Hiu Paus Botubarani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo ramai dikunjungi wisatawan selama libur Lebaran 2026, Minggu (29/3/2026). Dalam periode 18–29 Maret, kunjungan di salah satu pangkalan tercatat sekitar 900 orang, didominasi wisatawan lokal hingga mancanegara.
WISATA GORONTALO -- Suasana wisata Hiu Paus Botubarani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo ramai dikunjungi wisatawan selama libur Lebaran 2026, Minggu (29/3/2026). Dalam periode 18–29 Maret, kunjungan di salah satu pangkalan tercatat sekitar 900 orang, didominasi wisatawan lokal hingga mancanegara. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Menurut Ewin, meningkatnya jumlah operator memang membuat persaingan semakin ketat.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak warga lokal yang merasakan manfaat ekonomi dari berkembangnya sektor pariwisata.

Saat ini, rata-rata penghasilan yang diperolehnya berkisar Rp500 ribu per hari, meski jumlahnya sangat bergantung pada banyaknya wisatawan yang datang.

"Sekarang sekitar Rp500 ribu per hari, tapi tidak pasti. Tergantung tamu," ujarnya.

Ketika kunjungan wisata ramai, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk melayani wisatawan yang ingin menggunakan jasa drone.

Sebaliknya, saat jumlah pengunjung menurun, ia kembali menjalani aktivitas lamanya sebagai nelayan.

Bagi Ewin, kedua profesi tersebut sama-sama bergantung pada kondisi alam.

Cuaca yang baik menentukan apakah ia bisa melaut ataupun menerbangkan drone.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Ewin mengaku bersyukur atas perkembangan Wisata Hiu Paus Botubarani yang membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, banyak warga yang sebelumnya hanya bergantung pada hasil tangkapan laut kini memperoleh tambahan penghasilan dari sektor pariwisata.

Sebagian menjadi pemandu wisata, operator perahu, penyedia perlengkapan snorkeling, hingga pilot drone seperti dirinya.

Bagi Ewin, perubahan profesi itu bukan berarti meninggalkan identitasnya sebagai nelayan.

Laut tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Jika dulu ia mencari rezeki dengan menjala ikan, kini laut yang sama memberinya peluang baru melalui jasa dokumentasi udara bagi wisatawan yang datang menikmati keindahan Hiu Paus Botubarani. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.