Ketika Alda Risma Tewas di Kamar Hotel Nomor 432 dengan Banyak Suntikan di Tubuhnya
Moh. Habib Asyhad June 27, 2026 10:34 PM

Kematian penyanyi Alda Risma pada Desember 2006 menghebohkan publik. Ferrry Surya Prakasa, sang kekasih, didakwa sebagai pelakunya.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Sungguh tragis perjalanan hidup Alda Risma. Baru berusia 24 tahun, tubuhnya ditemukan tak bernyawa di sebuah kamar hotel, dan beberapa saat “sendiri” di kamar mayat rumah sakit. Padahal dia sempat diramalkan bakal menjadi penyanyi masa depan.

Alda Risma ditemukan tewas di kamar 432 Hotel Grand Menteng pada 12 Desember 2006. Dia disebut mengalami overdosis.

Kehadiran Alda Risma Elfariani di blantika musik di tahun 1997 cukup mencengangkan. Mengusung lagu “Aku Tak Biasa” ciptaan Rudy Loho, Alda memang datang dengan tak biasa-biasa saja.

Sebagai pendatang baru, selain punya bakat dan penampilan yang bagus, Alda didukung "tim" yang andal. Hingga Iwan Sastrawijaya dari Blackboard, yang menjadi produser tak ragu-ragu melakukan promosi album Aku Tak Biasa secara maksimal.

Keyakinan Iwan terhadap Alda dapat dilihat dari tindakannya yang mengontrak Alda secara eksklusif. Dalam tempo terhitung singkat, kehidupan Alda pun berubah drastis.

Alda yang semula masih wara-wiri bersama ibunya, Halimah, dengan taksi, berubah bersedan BMW seri terbaru. Sebuah rumah mewah di perumahan Danau Bogor Raya Blok C3 No 1 tak lama menyusul jadi milik Alda.

Konon, rumah itu diberikan Iwan ketika Alda berulang tahun ke-16. Gara-gara kebaikan Iwan itu, maka muncul isu Alda dinikahi sang produser. Gosip itu dibantah mentah-mentah oleh Alda dan Iwan.

Kebintangan Alda yang kala itu masih berusia 15 tahun itu sempat pula membuat seniornya gigit jari.

Bagaimana tidak, nama seperti Krisdayanti (Menghitung Hari), Memes (Pesawatku), Mayangsari (Tiada Lagi) dan Rita Effendi (Januari di Kota Bali) kala itu harus kalah bersaing dengan Aku Tak Biasa milik Alda, untuk berebut gelar Penyanyi Pop Wanita Terbaik ajang Anugerah Musik Indonesia yang pertama, tahun 1998.

Tapi Aku Tak Biasa nampaknya jadi kesuksesan Alda yang pertama dan terakhir. Karena album kedua wanita kelahiran Bogor 5 23 November 1982 ini, Sampai Kapankah (1999),tidak terdengar gaungnya.

Alda pun sempat mencoba peruntungannya dengan bermain sinetron, di antaranya Kesucian Prasasti (1999). Tapi dunia ini bukan bidangnya.

Alda kembali berkonsentrasi sebagai penyanyi. Namun kiprahnya tak sekencang dulu lagi.

Karier Alda makin meredup. Publikasi tentang dirinya makin senyap, dan cenderung bernada miring.

Perekonomian Alda juga makin merosot. Rumah di perumahan Danau Bogor Raya Blok C3 No 1 yang merupakan lambang kesuksesan Alda, dijual.

Entah bagaimana nasib Alda dan keluarganya. Sebab, Alda yang merupakan anak sulung (alm) M Farid Riza-Halimah ini diketahui sebagai tulang punggung bagi ibu dan tujuh adiknya.

Keadaan ekonomi keluarga yang morat-marit tampaknya telah membuat Alda dan keluarga cerai-berai. Belakangan diketahui Alda dan Halimah sempat nhidup terpisah.

Keberadaan Alda menjadi misteri. Sebab, ketika Alda mengalami kecelakaan mobil 17 Juni 2006, Halimah mengaku sudah cukup lama tidak bertemu dengan putri kesayangannya itu.

Dia bersua Alda saat sudah dirawat di RS Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Dia pun tak tahu dengan siapa Alda kini tinggal.

Begitu juga dengan sang kakek, Dede Suwardi, yang tinggal di Bogor. Dia mengaku sempat sekitar dua tahun tak bertemu dengan cucunya itu sampai akhirnya bertemu lagi di RS PIK.

Diburu Banyak Orang

Dari keadaan ini ada indikasi Alda memang menghindari Halimah. Seperti diketahui, Halimah yang kabarnya senang dengan kemewahan ini selalu bikin masalah.

Seperti buronan, sejumlah orang mencari Halimah karena telah dikecewakan. Sedikit banyak, sepak terjang sang mama telah mencoreng reputasi Alda sebagai penyanyi. Beberapa kejadian telah menjadi bukti.

Di Juni 2005 saat penyanyi era 80-an, Dian Piesesha yang mengaku telah dikecewakan manajer Alda, yang tak lain Halimah. Cerita Dian yang berbisnis event organizer, dia pernah mengontrak Alda untuk tampil di sebuah acara di Ancol.

Tapi menjelang hari "H", tiba-tiba Halimah memberi kabar Alda tak bisa tampil. Alasannya Alda keseleo. Padahal Halimah telah menerima setengah dari uang kontrak, yang konon bernilai Rp20 juta. Untunglah, kata Dian saat itu, si pemilik acara dapat memahami.

Akhirnya, penampilan Alda dijadwal ulang untuk acara berikutnya. Tapi Halimah mangkir lagi dengan alasan bentrok dengan show Alda yang lain.

Rasa penasaran Dian terjawab setelah bertemu dengan Alda. Sambil bersumpah dan tak dapat menutupi keterkejutannya, Alda mengaku tak tahu menahu soal kontrak Dian dengan Halimah. Untunglah Dian percaya, dan tak memperpanjang urusan itu.

Kejadian serupa terjadi saat Alda dirawat di RS PIK Juni 2006. Seorang pria bernama Son Haji yang bekerja di event organizer Embun Pagi bermaksud bertemu dengan Halimah lantaran ingin meminta uang batal kontrak sebesar Rp10 juta.

Seperti kejadiannya dengan Dian, Halimah tidak memenuhi janjinya dengan Embun Pagi untuk show Alda di Makassar.

Pada saat hari pemakaman Alda pada 13 Desember 2006, malam harinya, Halimah dicokok Polsek Bogor Selatan karena kasus penipuan dan penggelapan mobil yang dituduhkan kepadanya. Polisi terpaksa menangkap Halimah di hari duka, karena selama ini dia sulit ditemui.

Namun, atas jaminan Habib Aan perwakilan pihak keluarga, dan alasan kemanusiaan, untuk sementara Halimah dilepas.

Menurut Kapolsek Bogor Selatan AKP Hardiansyah, kasus Halimah dengan wanita bernama Evi Supriatna terjadi di tahun 2004. Berawal dari sejumlah uang yang dipinjam Evi dari Halimah, dengan jaminan BPKB mobil Panther.

Namun dalam prosesnya, BPKB dijadikan jaminan kembali oleh Halimah. Urusan utang ini nampaknya belum selesai, hingga Evi akhirnya melaporkan Halimah ke polisi.

Hebatnya Halimah, kepada wartawan dia mengaku kasus ini hanya salah-paham dan telah diselesaikan secara kekeluargaan. Halimah mengaku kenal baik dengan Evi dan karena jarang berkomunikasi membuat peristiwa ini muncul. Akibat kejadian ini Halimah diancam hukuman 5 tahun.

Belum jelas apakah di luar kejadian-kejadian tadi, Halimah masih punya masalah lain. Dari berita yang beredar, tewasnya Alda ditengarai berlatar belakang urusan utang-piutang Halimah dengan Ferry Surya Perkasa, pria yang disebut-sebut bersama Alda sebelum meninggal.

Konon, karena Halimah tak kunjung membayar utang yang terhitung besar ke Ferry, maka Alda dijadikan sasaran.

Menurut Iwan Sastrawijaya, Halimah memang kenal dengan Ferry. Bahkan diketahui Halimah punya masalah dengan Ferry. "Kalau gak salah, Halimah sempat diancam Ferry," katanya.

Betulkah kehidupan Halimah selalu terlilit masalah keuangan?

Halimah: Ferry ngajarin Alda pakai obat terlarang

Saat jenazah Alda diturunkan ke liat lahat, Halimah berteriak-teriak histeris. Ibunda Alda itu seolah tak bisa terima takdir yang menimpa anaknya itu.

Namun sejumlah orang justru menuding dialah yang menyebabkan putrinya itu berusia pendek. Berikut penuturannya saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Sabtu, 16 Desember 2006, malam.

Kapan Alda kenal Ferry?

Sekitar lima tahun lalu, Alda diundang menyanyi di acara kantor Ferry. Selanjutnya, mereka berkawan baik. Tapi setelah saya tahu Ferry sudah punya istri dan kepercayaan yang dianutnya berbeda, saya larang Alda menjalin hubungan dengan Ferry. Sebagai Ibu tentu saya menginginkan Alda punya suami yang seiman. Rupanya Alda tidak terima. Tanpa sepengetahuan saya dia tetap menjalin hubungan dengan Ferry.

Dari mana Anda mengetahui hal itu?

Sekitar tahun 2005 lalu, Alda kan sempat masuk rumah sakit, karena terlalu banyak minum obat tidur. Dan, di dalam tasnya ada sekitar 100 butir obat tidur.

Saya kaget dan bingung sekali, dari mana dia dapat obat tidur sebanyak itu. Dan Alda tidak pernah bergaul, temannya tidak banyak.

Teman dekatnya saat itu hanya Ferry. Akhirnya saya tahu obat-obatan itu dari Ferry. Saya marah besar kepada Alda.

Sejak peristiwa itu, saya melarang keras Alda berhubungan lagi dengan Ferry. Dari mana anak saya mengenal obat tidur, sabu, tahu bagaimana menggunakannya, kalau bukan dari Ferry yang ngajak-ngajakin, yang ngajarin, pakai obat terlarang seperti itu.

Terlebih saat ini, ditemukan sabu-sabu sebanyak satu koper di lemari dia, kalau bukan pemakai, apa namanya.

Tapi Anda mengizinkan Alda pergi dengan Ferry hari Minggu (10/12) lalu...

Sekitar 10 hari sebelum Alda ulang tahun (23 November, Red) Ferry yang saat itu berada di Singapura sempat menghubungi anak saya. Saya dengar sendiri Alda mengatakan kepada Ferry kalau di antara mereka tidak ada lagi hubungan spesial. Dia bilang hubungan mereka sebatas teman saja.

Lalu...

Hari Minggu itu sebenarnya Alda berencana akan pergi dengan adik-adiknya. Tapi batal karena Ferry mengajaknya pergi ke pantai.

Saya sebenarnya kurang sreg. Tapi karena anak saya bilang, "Mama percaya aku, aku tidak pernah ada lagi hubungan dengan Ferry," tentu sebagai Ibu saya percaya dengan ucapan anak saya.

Malam harinya, sebelum saya peroleh kabar tentang Alda, hati saya rasanya galau sekali. Rasanya, sangat sedih, tapi saya tidak tahu apa sebabnya. Sudah dibawa menonton TV acara yang lucu-lucu, tetap saja sedih. Sampai akhirnya, saya bawa rasa sedih itu dengan banyak beristighfar.

Bagaimana Anda mendengar kabar tentang Alda?

Di handphone saya masuk nomor Alda. Tapi saat saya angkat, Ferry yang bicara dan bilang Alda masuk rumah sakit.

Saya kaget dan bingung, apa yang terjadi dengan anak saya. Ferry bilang Alda masuk rumah sakit karena terlalu banyak mengonsumsi obat tidur.

Lemes saya mendengarnya, dan saat saya tanya keadaannya Alda bagaimana, Ferry hanya meminta saya untuk cepat datang ke rumah sakit.

Sampai dirumah sakit, shock, prihatin, miris melihat keadaan anak saya seperti itu. Ada apa, dan kenapa anak saya jadi seperti ini.

Yang menjadi pertanyaan saya, juga banyak pihak, kenapa Ferry harus menghilang. Sebagai orangtua, saya tentu tidak bisa merasa tenang, dan terus merasa penasaran, ada apa dengan anak saya.

Apa penyebab kematian anak saya itu. Sampai hati Ferry meninggalkan anak saya begitu saja dalam kondisi seperti itu.

Benar enggak sih Alda pecandu narkoba?

Tidak benar, Alda kan tinggal dengan saya dan saya tidak pernah melihat Alda memakai narkoba. Karena itu saya tidak percaya Alda meninggal karena overdosis. Merokok saja, tidak kok.

Anda menaruh curiga ada sesuatu di balik ini?

Saya sebagai orangtua, menaruh tanda tanya besar. Ada apa di balik ini semua. Dan, mengapa, Ferry yang mengajak anak saya pergi menghilang.

Beberapa nomor telepon Ferry yang saya ketahui, tidak ada yang aktif. Lalu telepon genggam, tas dan dompet Alda yang berisikan KTP dan beberapa kartu kredit dibawa Ferry. Kenapa harus dibawa, kenapa HP Ferry tidak aktif, dan kenapa harus menghilang kalau tidak berbuat dan tidak merasa bersalah.

Memang ada indikasi Ferry pelaku di balik kematian Alda?

Bahwa Ferry adalah orang yang bersama anak saya, sebelum menghembuskan napas terakhirnya memang iya. Tapi apakah dia pelakunya atau bukan, wallahualam.

Saya hanya berdoa dan memohon pada Allah, agar segala dosa dan kesalahan anak saya memperoleh ampunan dari-Nya agar anak saya tenang di alam sana.

Ada kabar yang bilang kasus Alda meninggal ada kaitannya dengan utang Anda dengan Ferry?

Jangankan utang, pernah terjadi konflik antara saya dengan Ferry pun tidak pernah.

Ada juga yang bilang kalau Alda bunuh diri karena stres melihat Anda kerap menghabiskan uang Alda, akibat berutang dengan banyak orang dan kerap bermain judi?

Kalau benar stres, mungkin sudah tahun-tahun lalu bunuh diri, tidak benar berita itu. Alda memiliki rekening sendiri, demikian juga saya. Alda sudah besar, sudah dapat mengatur keuangannya sendiri.

Orang hidup punya utang, punya masalah, itu biasa. Apalagi orang seperti saya yang menjalankan bisnis. Tuduhan penipuan ataupun tertipu saya pun pernah mengalaminya. Akan tetapi, setiap permasalahan kan, dapat dimusyawarahkan, dapat diselesaikan secara baik-baik.

Saat orangtua dihadang masalah, lalu anak berusaha membantu, itu hal yang wajar, kan? Bukan berarti makan uang anak, kan? Lalu kalau tuduhannya saya suka berjudi, astaghfirullah.... Silahkan saja sebutkan di mana saya berjudi, dengan siapa, kapan dan jam berapa. Bisa main judi aja, tidak, kok dikatakan suka judi.

Soal saya banyak utang, urusan pribadi saya, biarlah cukup saya saja yang mengetahui. Tidak ada hubungannya dengan kematian anak saya.

Ini namanya politik, masalah utamanya dikesampingkan dengan memasukkan masalah lainnya, yang bukan masalah inti. Fokus kita dikacaukan, bukan lagi membuka tabir, apa, mengapa, kenapa ada apa dan siapa pihak-pihak di balik kematian anak saya itu.

Bagaimana sikap Anda menghadapi berita miring seperti ini?

Sabar dan berserah diri pada Yang Di Atas saja. Sebab selama ini saya tidak pernah berpikir negatif pada siapa pun, tidak pernah menaruh rasa dendam pada orang yang telah menzalimi dengan menyebarkan berita fitnah seperti itu.

Berita lebih buruk dari ini pun, sudah pernah saya dengar. Tapi, saya tidak pernah peduli, karena saya tidak pernah berbuat seperti fitnah yang dituduhkan pada saya itu.

Saya berprinsip, mereka yang menyiarkan fitnah, berita buruk, maka keburukan itu akan kembali pada orang itu sendiri.

Demikian, juga mereka yang selalu menyiarkan warta kebaikan maka kebaikan pun juga akan berbalik pada orang tersebut.

Kabarnya ibu almarhum Nike Ardila bertandang ke rumah Ibu?

Alhamdulillah, mamanya Nike memberi support dan meminta saya untuk bersabar dan tegar. Pengalaman yang sama, kan pernah dialaminya juga saat Nike meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Nike dan Alda berteman dan pernah rekaman lagu bersama-sama. Alda pun sudah dianggap Mamanya Nike seperti anaknya sendiri.

Ferry divonis 15 tahun penjara

Pada sidang putusan, Kamis, 9 Agustus 2007, majelis hakim yang diketuai oleh Slamet A Rachman akhirnya memvonis Ferry Surya dengan 15 tahun penjara. Dia didakwa telah melakukan pembunuhan berencana kepada Alda Risma.

Menurut keterangan ahli forensik RSCM Zulhasmar Samsu, Alda tewas karena keracunan psikotropika. Di dalam tubuhnya ditemukan sekitar 20 bekas suntikan, yang mengandung benzodiazepine, propofol, petidin, morfin, dan pil analgetik.

Campuran obat-obatan itulah yang kemudian menyerang sistem saraf pusat dan saluran pernapasan Alda Risma.

Obat-obatan itu, mengutip keterangan yang beredar, disuntikkan atas perintah Ferry Surya, kekasih Alda, sejak 10 Desember 2006, atau tiga hari sebelum Alda ditemukan tewas.

Semua bermula pada Minggu, 10 Desember 2006. Di hari itu, Ferry menjemput Alda di rumahnya di Bekasi. Mereka kemudian menuju ke hotel tapi sebelumnya mampir dulu ke toko obat Era Baru di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

Setidaknya ada 29 botol obat yang dibeli Ferry saat itu. Terdiri atas obat tidur, obat penenang, infus, vitamin, tisu alkohol, dan alat suntik. Ferry juga meminta dicarikan suster yang bisa membantu memasang infus dan menyuntikkan cairan obat ke kantong infus.

Setelah itu, mereka check in di kamar 432. Suster pun mulai memasukkan cairan infus yang bercampur obat tidur ke dalam tubuh Alda. Hal semacam itu berulang lagi keesokan harinya dan keesokannya lagi di hari ketiga.

Di hari itu, Ferry menyuntik Alda di beberapa bagian tubuh seperti tangan dan kaki. Setelah suntikan terakhir, Alda sempat berusaha bangun tapi tak sanggup. Ferry pun meminta dua orang karyawan toko obat untuk tutup mulut dengan imbalan emas 10 gram.

Sekitar pukul 18.00 WIB di tanggal 12 Desember itu, Ferry menghubungi petugas hotel untuk dicarikan taksi. Ketika itu, tubuh Alda sudah terbujur kaku dan dari mulutnya keluar busa sekaligus darah.

Ferry kemudian membawa tubuh Alda ke Rumah Sakit Mitra Jatinegara. Tapi RS Mitra kemudian merujuk Alda ke RSCM. Di RSCM, Alda dinyatakan tewas sementara Ferry menghilang.

Bukan menghilang, Ferry sebenarnya kembali ke hotel untuk membereskan segala pembayaran. Baru setelah itu dia benar-benar menghilang hingga kemudian Ferry ditangkap di Singapura.

Nama Alda meledak pada 1997. Pada 2000, dia menjalin hubungan dengan Ferry — yang statusnya menikah dan punya dua anak. Halimah, ibu Alda, menentang hubungan itu, terutama karena keduanya beda keyakinan.

Menurut keterangan dari pengadilan, Ferry dan Alda sering menginap bareng, entah di hotel atau di rumah Alda. Intensitasnya semakin meningkat pada satu tahun terakhir menjelang kematian Alda. Keduanya juga disebut punya kebiasaan menyuntikkan obat tidur.

Pada 2011, Ferry dinyatakan bebas bersyarat setelah melalui masa hukuman 4,5 tahun penjara. Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan Ferry. Alasannya, salah satunya karena Ferry tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.