POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kesedihan terpancar dari raut wajah Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten atau Afa menghadiri giat Wisuda TPA Santri XI di GOR Dispora, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur.
Bagaimana tidak, ia baru saja selesai mengunjungi rumah duka dari almarhumah Muslimah Hafsari, seorang legenda yang menjadi sosok inspirasi Laskar Pelangi di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Sabtu (27/6/2026).
Sekadar informasi, Afa baru saja mendarat di Belitung Timur setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta. Kedatangannya di rumah duka terasa sangat pas akan momen pelepasan jenazah almarhumah.
Namun, di balik itu, Afa menyimpan sebuah cerita personal yang sarat akan makna. Baginya, rangkaian peristiwa beberapa jam sebelum ia sampai di rumah duka terasa seperti diatur oleh takdir.
Dalam keterangannya, Afa mengungkapkan bahwa jadwal penerbangannya dari Jakarta menuju Tanjungpandan sempat hampir tertunda karena ia kehabisan tiket pada maskapai penerbangan yang awalnya ia rencanakan.
"Saya tadi sempat sedih. Sedihnya kenapa? Ini macam sudah ada janji dari Yang Maha Kuasa saja untuk saya bisa mengejar waktu melayat ke sini," ujarnya.
Afa menceritakan, dirinya secara terjadwal harusnya menumpangi pesawat dari maskapai Super Air Jet untuk bertolak pulang ke Belitung pada pagi hari itu.
Namun, sesampainya di loket pemesanan, tiket untuk jadwal penerbangan maskapai tersebut mendadak habis.
Karena itu, Afa akhirnya memutuskan untuk beralih membeli tiket penerbangan maskapai Sriwijaya Air.
"Tiba-tiba tiket maskapai yang pertama habis. Jadi karena habis, ya terpaksa saya beli tiket Sriwijaya Air saja yang masih tersedia," ucapnya.
Syukurnya, jadwal maskapai tersebut berjalan sangat mulus tanpa delay. Singkat cerita, begitu sampai, Afa langsung bergerak menuju kediaman keluarganya terlebih dahulu.
"Dan ternyata tepat waktu sekali penerbangannya, tidak ada kendala. Pas benar, langsung berangkat. Setelah sampai, tadi saya sempat ke rumah abang dulu sebentar. Setelah semua urusan di sana beres, baru saya langsung meluncur ke sini (rumah duka)," katanya.
Bagi Afa sendiri, dedikasi almarhumah Bu Mus selama puluhan tahun di Beltim adalah cerminan dari sosok guru yang sesungguhnya. Ia menempatkan Bu Mus sebagai figur pendidik yang luar biasa dan tiada bandingnya.
Satu hal yang membuat hati Afa terenyuh adalah kenyataan bahwa almarhumah berpulang tepat dua hari sebelum Pemkab Beltim memberikan penghargaan tertingginya.
Afa merasa sangat terpukul karena belum sempat menyerahkan secara langsung buku biografi A Story of Bu Muslimah yang dirancang sebagai kado apresiasi bagi almarhumah saat masih ada.
"Makanya saya itu sangat sedih sekali, kenapa? Belum sempat kita launching bukunya hari Senin besok, beliau sudah keburu pergi meninggalkan kita semua," ungkapnya.
Meski begitu, Afa mencoba ikhlas. Ia menyadari bahwa seluruh upaya medis dan rencana manusia akan selalu tunduk pada ketetapan Sang Pencipta.
"Ya, itu sudah janji dari Yang Maha Kuasa lah, kita pun sebagai manusia tidak bisa menduga langkah beliau akan secepat itu," katanya.
Terakhir, Afa menjelaskan bahwa seluruh masyarakat Beltim menaruh utang budi dan kehilangan yang teramat besar atas wafatnya Bu Mus. Ia menilai, tanpa adanya ketulusan Bu Mus mengajar, dunia tidak akan pernah membaca mahakarya Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata.
"Oh, iya, kami sangat merasa kehilangan. Karena berkat adanya Laskar Pelangi, sehingga Belitung Timur bisa dikenal luas seperti sekarang, dan itu adalah kontribusi beliau yang sangat luar biasa," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)