TRIBUNNEWS.COM - Jauh sebelum semerbak aroma jahe dan kencur menjadi napas kehidupan sebagian besar warga Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, ada jejak sunyi seorang abdi dalem Keraton Solo bernama Mbah Djoyo.
Di masa lampau, Mbah Djoyo terampil mengolah aneka rimpang dan rempah menjadi jamu murni berstandar Keraton Solo untuk sekadar menjaga kebugaran tubuh.
Aktivitas sederhana di pelataran rumahnya itu diam-diam diamati, dipelajari, dan ditiru oleh warga desa.
Siapa sangka, dari sekadar aksi coba-coba meniru racikan mbah Djoyo, warga Nguter kini bermetamorfosis menjadikan kawasan Nguter sebagai sentra jamu di Jawa Tengah.
“Cerita turun temurun yang saya tahu, Mbah Djoyo itu racik-racik buat jamu untuk pegel linu dan masuk angin saja, lalu ditiru tetangga dan berkembang sampai sekarang,” cerita Suwarsi Moertedjo, Ketua Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) pada Jumat (26/6/2026).
Setengah abad berlalu, kini Kecamatan Nguter dikenal sebagai sentra jamu tradisional maupun modern di Jawa Tengah.
“Sekarang mulai dari jamu gendongan yang masih tradisional hingga yang pabrikan ada semua,” ujar Moertedjo.
Bahkan di sudut wilayah paling selatan Kabupaten Sukoharjo itu, berdiri sebuah pasar yang khusus menjual jamu, bahan bakunya, dan segala ubarampe jamu.
Baca juga: Bikin Jamu Makin Lestari, Kafe Sangga Ramu Sajikan Ramuan Herbal Masa Kini dan Kemudahan Transaksi
Barisan bahan baku jamu tersusun rapi di ambalan kios yang membuat isi Pasar Nguter tampak warna-warni sekaligus berbau harum khas rempah yang menjadi pemandangan sehari-hari.
Aneka peralatan kebutuhan jamu seperti alu dan lumpang, botol jamu, tenggok, tampah, hingga caping tradisional juga semua tersedia.
Salah satu pedagang, Sri Ningsih mengatakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat jamu hampir dipastikan ada di Pasar Jamu Nguter.
"Di sini apa pun ada, tersedia buat pedagang jamu keliling," ujar Sri Ningsih, pedagang di pasar tersebut.
Dia mengatakan, meskipun barang dagangan di pasar ini hanya berkisar di produksi jamu, tetapi tidak menyurutkan asa para pedagang. Pasalnya, Pasar Nguter masih menjadi jujugan pembelian bahan baku jamu dari berbagai daerah.
Dari balik hingar bingar Pasar Jamu Nguter itu, kini ada ‘Mbah Djoyo’ era modern yang menjaga jamu Nguter tetap lestari sekaligus bernilai ekonomi.
Adalah Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI) yang berdiri sejak 1994 yang bekerja keras di balik layar untuk kesejahteraan anggotanya.
"Rata-rata semua pedagang di sini adalah anggota KOJAI. Jadi semua ada yang memperhatikan, ada yang ngurusi," ujar Sri Ningsih.
Urus Anggota Koperasi bak Anak Sendiri
Ketua KOJAI, Suwarsi Moertedjo mengatakan dari awal pembentukan koperasi ini untuk memberikan wadah bagi pelaku usaha jamu untuk berkembang.
Baginya mengurus pedagang jamu gendong, pejual bahan jamu hingga produsen jamu yang sudah memiliki ribuan karyawan, layaknya seperti mengurus anak-anaknya sendiri.
Sebab, Moertedjo, panggilan akrabnya, telah berkecimpung di KOJAI bahkan sebelum koperasi jamu itu terbentuk.
"Saya dari 1994 sudah mengurus pra-koperasi, sampai sekarang saya yang megang," terang Moertedjo di Kantor KOJAI.
Koperasi ini dibentuk atas amanah dari Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Republik Indonsia (BPOM RI) yang menunjuk Kabupaten Sukoharjo untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata jamu.
Dari hasil kunjungan BPOM, Kabupaten Sukoharjo mengalahkan beberapa kota lain yang ada di Jawa Timur hingga Jawa Barat sebagai kandidat Kota Jamu.
"Penilaian BPOM dulu seperti banyaknya sentra jamu dengan keunggulan tanpa campuran Bahan Kimia Obat (BKO). Tersedianya pasar jamu di Nguter juga jadi nilai plus. Terakhir banyak penjual jamu gendong di wilayah Sukoharjo," terang wanitia 77 tahun itu.
Setelah mendapatkan potensi tersebut, sang suami mendorong Moertedjo untuk terus berdedikasi kepada pelaku usaha jamu di wilayah Nguter.
Tantangan harus dihadapi Moertedjo ketika mengurus segala keperluan pra-koperasi pada tahun 1994.
Dia mulai mendata berbagai pelaku usaha jamu, dari pedagang jamu gendong maupun keliling, penjual empon-empon, hingga produsen jamu skala pabrik turut dirangkul dalam KOJAI ini.
Saat masih dalam proses, langkah Moertedjo makin berat karena harus kehilangan sang suami, yang juga praktisi jamu di perusahaan jamu ternama di Solo Raya.
"Saya cuman pegang pesan Bapak, 'Itu wong (orang) Nguter orang kecil-kecil, kamu harus bantu'. Sejak itu saya jorjoran membantu anggota," ujar wanita yang berdomisili di Sukoharjo Kota itu.
Meski kehilangan suami, dia tetap pada misinya menjadikan KOJAI sebagai wadah berserikat bagi ratusan pelaku usaha jamu di area Sukoharjo.
Terlebih pada urusan perizinan, Moertedjo mengaku getol menggiatkan legalitas agar tidak mencoreng citra baik Sukoharjo sebagai Kota Jamu.
"Keuntungan jadi anggota KOJAI tentu saja soal perizinan, apapun produknya kami mudahkan untuk mengurus izin bahkan sampai skala nasional," tegasnya.
Peran BRI Dukung Jamu Lestari
Berdampingan dengan usaha Moertedjo, dukungan datang dari berbagai arah. Satu di antaranya bermitra dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dia mengatakan, BRI memberikan pembinaan bisnis hingga turut serta memasarkan produk jamu ke berbagai instansi.
Tak hanya itu, Moertedjo bercerita BRI juga pernah memberikan bantuan berupa mesin pres dan mesin pengemas untuk anggota KOJAI.
"Sebelum pandemi Covid-19, BRI memberi mesin itu dan diserahkan secara simbolik oleh Bu Puan Maharani," kenang Moertedjo.
Diakui Moertedjo, hubungan baik dengan BRI juga berimbas positif terhadap urusan permodalan para anggota KOJAI.
Sebab secara tidak langsung, anggota KOJAI yang hendak mengajukan pinjaman modal akan mendapatkan perhatian khusus dari BRI.
"BRI kan hadir sudah lama, bank negara tertua juga, jadi anggota KOJAI tuh banyak yang jadi nasabahnya. Lalu ketika 'butuh' anggota itu lebih gampang dapat rekomendasi," ucap Moertedjo.
Tak hanya itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo juga terus aktif mempromosikan destinasi wisata jamu di Kecamatan Nguter.
KOJAI juga rutin mengirimkan 10 orang penjual jamu gendong tiap hari Jumat untuk menyediakan 250 porsi jamu kunyit asam dan beras kencur di acara mingguan yang rutin digelar Pemkab Sukoharjo.
Terbuka pada Modernisasi
Bagi Murtedjo keberhasilan KOJAI sebagai perisai pelaku usaha jamu tidak berhenti pada apresiasi lembaga terkait, tetapi juga kesejahteraan anggota.
Untuk itulah, dia menggalakkan urusan izin edar produk jamu yang dipastikan tanpa BKO dan juga mencegah duplikasi merk antaranggota.
Baca juga: Kisah Secangkir Ramuan Wedang Rempah Mahfinara: Tak Pedulikan Laba, Dewi Buat Sekitar Tetap Berdaya
"Kalau nanti kamu memakai BKO, saya keluarkan dari anggota KOJAI, urusan sendiri dengan hukum," tegasnya ketika menghadapi anggota yang nakal.
Meski bertahan dengan cara tradisional dalam bahan baku jamu yang tanpa bahan kimia, namun pedagang jamu di bawah naungan KOJAI tetap terbuka dengan modernisasi.
Satu di antaranya dengan mengikuti berbagai pelatihan terkait pengelolaan bisnis melalui pasar digital.
“Ketika ada undangan anggota KOJAI selalu antusias mengikuti pelatihan yang dibutuhkan saat ini, misalnya pembaruan kemasan sampai pemasaran di online,” kata Moertedjo.
Bahkan berkat kegigihannya melestarikan jamu, KOJAI berhasil melahirkan pengakuan dari UNESCO yang menobatkan minuman sehat ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2023.
Baca juga: Kisah Pedagang di Solo Adaptasi dengan Teknologi, QRIS BRI Bikin Cuan Makin Tinggi
Citra wisata jamu juga kian berkembang dengan adanya kafe jamu yang dipercayakan kepada KOJAI dan kini dikelola oleh GUJATI.
Kafe jamu yang bernama Sangga Ramu ini menawarkan cara baru dalam menikmati minuman herbal tradisional.
Di sini, berbagai macam jamu diracik ulang agar rasanya bersahabat dengan lidah generasi sekarang.
Koordinator Kafe Jamu Sangga Ramu dari GUJATI, Wulan Wahyu Ekowati mengatakan kafe ini tak hanya menjual minuman nikmat. Tetapi juga menawarkan kenyamanan bagi pelanggan untuk sekadar berkumpul maupun menjadi work space yang ideal.
"Target utama kafe ini adalah family, dari segi tempat kami sediakan yang nyaman untuk berkumpul bersama keluarga maupun rombongan wisatawan," terang Wulan saat dihubungi Tribunnews.com.
Wulan melanjutkan, inspirasi menu di Sangga Ramu memang berkiblat pada gaya hidup anak muda zaman sekarang yang hobi nongkrong di coffee shop.
Menariknya, mereka tidak ragu untuk bereksperimen.
Menu di kedai jamu ini dimodifikasi dengan bahan-bahan kekinian tanpa mengurangi kandungan nutrisi dan khasiatnya.
Yang unik adalah menu Kopi Subekti, berisi perpaduan jamu beras kencur dengan kopi dan susu.
Sentuhan Teknologi soal Transaksi
Meskipun yang dijual merupakan produk tradisional, kafe ini juga memberi sentuhan teknologi dalam urusan transaksi.
Membidik tujuan praktis, cepat, dan tanpa ribet, layanan pembayaran non-tunai ini memang jadi fasilitas yang paling dicari pelanggan.
Untuk itulah, Sangga Ramu sudah menyediakan layanan QRIS BRImo sejak pengelolaan diserahkan ke perusahaan jamu GUJATI.
"Dari awal dipegang GUJATI, kami langsung pakai QRIS BRI karena mengikuti operasional perusahaan," tutup Wahyu.
QRIS Beri Nilai Tambah bagi UMKM
Kabupaten Sukoharjo yang dikenal sebagai Kota Jamu memiliki peran penting untuk melestarikan minuman tradisional nusantara itu.
Tak hanya mempunyai pasar khusus jamu yang bersentra di Kecamatan Nguter, Pemkab Sukoharjo juga menyediakan alternatif minum jamu yang lebih nyaman dan praktis bagi wisatawan.
Dari segi pariwisata, UMKM yang menyediakan transaksi nontunai memberi nilai lebih untuk pengalaman pengunjung.
Koordinator Bidang Kerja Sama Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Daryono mengungkapkan penyediaan QRIS di UMKM atau tempat wisata, secara tidak langsung memberikan rasa aman dan praktis kepada wisatawan.
"Sekarang semua serba digital, booking hotel aman, kulineran dan belanja oleh-oleh tinggal scan QRIS, semua pihak senang dan wisatawan untuk kembali potensinya besar," kata Daryono ketika berbincang dengan Tribunnews.com, Senin (18/5/2026).
Tak hanya memudahkan pelanggan, menurut Daryono, QRIS juga bisa memberi manfaat untuk pelaku UMKM.
Terlebih untuk keberlanjutan bisnis, pelaku usaha mendapat track record otomatis dari QRIS sehingga akan memudahkan UMKM mendapatkan dukungan dari sektor perbankan.
Komitmen BRI Perkuat UMKM
Bank BRI berkomitmen memperkuat segmen UMKM sebagai core business.
Hal ini tercermin dari penyaluran kredit dan pembiayaan BRI yang terus tumbuh diiringi dengan penguatan fondasi bisnis yang berkelanjutan.
Dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan penyaluran kredit dan pembiayaan BRI menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan total kredit dan pembiayaan meningkat sebesar 13,7 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp1.562 triliun.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujar Hery.
Di saat bersamaan, sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, BRI secara konsisten menjadi penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia.
BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman pada periode Januari hingga Maret 2026.
Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp19,86 triliun atau setara 42,16?ri total KUR yang telah disalurkan.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” imbuh Hery.
Tidak hanya berperan sebagai penyalur pembiayaan UMKM terbesar di Indonesia, BRI juga secara konsisten menjalankan berbagai program pemberdayaan yang menyentuh langsung masyarakat dan pelaku usaha sebagai bagian dari upaya menggerakkan ekonomi kerakyatan.
(Tribunnews.com/Isti Prasetya)