BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Akses pembiayaan yang mudah dan tepat sasaran masih menjadi salah satu kebutuhan utama pelaku usaha di daerah, terutama bagi sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, peran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menunjukkan kontribusi signifikan dalam menopang usaha masyarakat hingga ke pelosok.
Sepanjang tahun 2025, BRI Branch Office (BO) Pangkalpinang mencatat realisasi penyaluran KUR mencapai Rp281.507.513.147. Pembiayaan tersebut disalurkan kepada 6.022 debitur yang tersebar di berbagai wilayah kerja BRI Pangkalpinang.
Branch Office Head (BOH) BRI Pangkalpinang, Yosef Mahardika, mengatakan penyaluran KUR tersebut menjadi bagian dari komitmen BRI dalam memperluas akses pembiayaan produktif, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Yosef, dari berbagai sektor usaha penerima pembiayaan, sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar, terutama pada subsektor perkebunan kelapa sawit.
"Sepanjang 2025, sektor usaha yang paling mendominasi penyaluran KUR di wilayah BRI BO Pangkalpinang adalah sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit," ujar Yosef kepada Bangkapos.com, Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, dominasi sektor pertanian, khususnya sawit, tidak terlepas dari karakteristik ekonomi masyarakat Bangka Belitung yang masih banyak bergantung pada sektor perkebunan. Luasnya lahan yang tersedia untuk pengembangan kebun sawit membuka peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat.
Selain itu, kelapa sawit dinilai memiliki prospek usaha yang cukup kuat karena hasil produksinya relatif mudah diserap pasar. Keberadaan sejumlah pabrik kelapa sawit yang siap menampung hasil panen petani juga menjadi faktor pendorong meningkatnya minat masyarakat dalam mengembangkan usaha di sektor tersebut.
"Komoditas sawit memiliki prospek usaha yang baik. Hasil panennya mudah dipasarkan, ditambah harga jual yang kompetitif dan banyak pabrik yang siap membeli hasil produksi masyarakat," katanya.
Tak hanya fokus pada penyaluran pembiayaan, BRI Pangkalpinang juga memastikan dana KUR benar-benar digunakan untuk aktivitas usaha produktif. Hal ini dilakukan melalui serangkaian proses analisis usaha, monitoring penggunaan dana, hingga pendampingan langsung kepada nasabah.
Peran mantri dan tenaga pemasar BRI, lanjut Yosef, menjadi ujung tombak dalam memastikan pembiayaan tersebut memberikan dampak nyata terhadap perkembangan usaha nasabah.
"BRI tidak hanya menyalurkan kredit, tetapi juga melakukan pendampingan secara berkala. Mantri BRI rutin turun ke lapangan untuk melihat perkembangan usaha nasabah dan memastikan pembiayaan dimanfaatkan sesuai tujuan," ujarnya.
Pendampingan tersebut dinilai penting agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh modal kerja, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas usahanya secara berkelanjutan.
Dengan pembiayaan yang tepat dan pendampingan yang konsisten, KUR diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas, memperluas skala usaha, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Memasuki 2026, BRI Pangkalpinang mencatat tren penyaluran KUR yang terus bertumbuh. Hingga Triwulan I 2026, penyaluran KUR menunjukkan peningkatan baik dari sisi nominal maupun jumlah debitur dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa kebutuhan pembiayaan di kalangan pelaku usaha produktif masih tinggi, terutama di sektor-sektor unggulan daerah.
Ke depan, BRI Pangkalpinang menargetkan perluasan akses KUR ke lebih banyak pelaku UMKM produktif, khususnya pada sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan perdagangan.
"Strategi yang disiapkan antara lain memperkuat pemasaran melalui jaringan unit kerja dan mantri BRI, meningkatkan literasi masyarakat terhadap manfaat KUR, serta mempererat sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan" kata Yosef.
Melalui langkah tersebut, BRI berharap KUR tidak sekadar menjadi instrumen pembiayaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu menjangkau masyarakat hingga pelosok desa.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus bergerak dinamis, keberadaan KUR menjadi bukti bahwa akses permodalan yang inklusif dapat membuka ruang tumbuh bagi usaha-usaha kecil dan produktif, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah dari akar rumput.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)