Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ada satu kebenaran yang kerapkali kita alami dalam hidup: Tuhan sering datang kepada kita melalui orang lain. Kita kerapkali mengabaikan hal ini. Karena terlalu sederhana.
Sebab kita berharap Tuhan hadir dalam peristiwa-peristiwa yang luar biasa.
Ada orang doyan mengunjungi tempat-tempat yang sering ditunjuk sebagai tempat “penampakkan”.
Ada pula yang berharap cepat mendapat mukjizat sebagai jawaban doa, atau tanda-tanda yang menakjubkan.
Namun, Tuhan justru lebih sering mengetuk pintu hati kita melalui orang-orang yang kita jumpai setiap hari.
Inilah pengalaman yang dialami oleh seorang perempuan kaya di Sunem (2Raj. 4:8-11. 14-16a).
Baca juga: Opini: Wakil Rakyat, Algojo Senyap Mengadili Kekuasaan di Balik Kematian dr. Icha
Perempuan kaya itu melihat Nabi Elisa yang sering melewati daerahnya. Dan dengan kepekaan iman yang dimiliki, perempuan itu dapat mengenal Elisa bukan hanya sekadar seorang musafir biasa.
Maka ia berkata kepada suaminya, “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus” (2Raj. 4:9).
Pengakuan itu menggerakkan hatinya untuk mengundang Elisa makan di rumahnya, lalu mengusulkan pada suaminya untuk menyediakan sebuah kamar kecil yang dilengkapi tempat tidur, meja, kursi, dan pelita untuk Elisa. Agar setiap kali Elisa datang, ia mempunyai tempat untuk beristirahat.
Ketika menawarkan kebaikan kepada Elisa, Perempuan Sunem itu tidak mengharapkan imbalan. Ia hanya ingin menghormati seorang utusan Allah.
Namun, Allah memandang ketulusan itu. Maka melalui Nabi Elisa, Tuhan berjanji kepada perempuan kaya itu; “Tahun depan, pada waktu seperti ini, engkau akan menggendong seorang anak laki-laki.”
Janji itu menjadi kenyataan. Keramahtamahan yang lahir dari iman membuka jalan bagi hadirnya rahmat Allah.
Dalam Injil hari ini Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku” (Mat. 10:40).
Dengan kata-kata ini Yesus mengajarkan kita bahwa kehadiran-Nya tidak hanya dialami dalam doa atau ibadah, tetapi juga dalam diri orang-orang yang diutus-Nya dan dalam setiap sesama yang kita jumpai.
Lebih jauh lagi Yesus menambahkan, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mat. 10:42).
Secangkir air, merupakan pemberian yang sangat kecil. Namun Tuhan yang melihat hati, tidak pernah mengukur sebuah tindakan kasih dari besar kecilnya sebuah pemberian. Ia sebaliknya lebih memandang ketulusan hati dalam memberi.
Maka pengalaman perempuan kaya di Sunem dan kata-kata Yesus mengundang kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita masih mampu mengenali Kristus yang hadir melalui sesama?
Mungkin Kristus datang melalui seorang anggota keluarga yang membutuhkan perhatian kita. Mungkin Ia hadir dalam diri orang miskin yang meminta pertolongan.
Mungkin pula ia hadir sebagai orang sakit yang merindukan kunjungan, seorang anak yang membutuhkan pendampingan, atau seorang tetangga yang sedang memikul beban hidup.
Bahkan tidak jarang Tuhan datang melalui mereka yang menguji kesabaran kita, mengoreksi kita, atau mengajak kita keluar dari kenyamanan diri.
Menyambut Kristus tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Kadang-kadang menyambut Kristus berarti menyediakan waktu untuk mendengarkan, menghibur dan mengunujungi keluarga yang berduka, mengampuni yang bersalah, menemani mereka yang kesepian, atau memberikan perhatian kepada mereka yang sering diabaikan.
Tindakan-tindakan sederhana inilah yang menjadi tanda bahwa Kristus sungguh hidup dalam hati kita. Perempuan Sunem menyediakan sebuah kamar bagi Nabi Elisa. Kita pun dipanggil menyediakan “ruang” bagi Kristus: ruang di dalam hati yang tidak dipenuhi oleh egoisme, ruang di dalam keluarga yang dipenuhi kasih, ruang di dalam komunitas yang terbuka bagi mereka yang membutuhkan.
Ketika kita membuka ruang itu, Tuhan sendiri berkenan tinggal bersama kita dan mengubah hidup kita dari dalam.
Marilah kita mohonkan rahmat dari Tuhan agar kita juga memiliki mata hati yang peka untuk mengenali kehadiran Kristus dalam setiap orang yang kita jumpai; untuk mengenali hati yang murah untuk menyambut mereka dengan kasih; untuk mengenali dan memiliki tangan yang ringan melayani tanpa pamrih.