Ia meninggal mengakhiri hidup di rumah orang tuanya.
Sebelum meninggal, dr Icha didiagnosis mengalami depresi berat.
Kemudian ada moment Taufik Hidayat (30), pelaku penyekapan YTR (29), meminta maaf di Polda Jabar.
Keluarga korban menolak, menilai penderitaan terlalu berat ditebus ucapan.
Kasus penyiksaan selama tiga tahun di Bandung masih diselidiki, korban alami luka serius dan berharap pelaku dihukum berat sesuai hukum.
1. Kronologi Dokter Icha Akhiri Hidup usai Diduga Diintimidasi Anggota DPRD TTU, Alami Depresi Berat
Intimidasi adalah tindakan menakut-nakuti, menggertak, atau memberikan ancaman kepada seseorang atau sekelompok orang.
Tujuan utama tindakan ini adalah untuk mendominasi, menekan, atau memaksa korban agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak mereka.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) diduga melakukan intimidasi kepada dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona.
Insiden itu dialami oleh Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha.
Akibat dugaan intimidasi itu, dr Icha mengalami guncangan psikologis yang hebat.
Ia kemudian ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026) sekira pukul 17.55 Wita.
Paman almarhumah, Fabianus Banase mengatakan, keponakannya ditemukan meninggal mengakhiri hidup di lantai dua rumah.
“Dia ditemukan tergantung di lantai dua sekitar pukul 17.55 Wita,” katanya, Sabtu (27/6/2026), dilansir Kompas.com.
Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.
Fabianus menerangkan, dari hasil pemeriksaan dokter, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.
“Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan otopsi. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Baumata untuk disemayamkan,” ujarnya.
dr Icha sebelumnya sempat menjalani perawatan medis selama enam hari sejak 15 Juni 2026.
Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan menjalani perawatan.
Baca selengkapnya.
2. Soal Kematian ASN Bangkalan di Mobil Dinas, Kadin Sebut Korban Lebih Sering Gunakan Mobil Pribadi
Seorang perempuan ditemukan tewas di dalam mobil dinas di dalam parkiran Bandara Juanda Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (24/6/2026).
Perempuan yang diketahui bernama Ruly Yunis Setiawati (50) tersebut merupakan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemkab Bangkalan.
Korban ditemukan meninggal di dalam mobil Toyota Innova bernopol M 1090 GP yang merupakan mobil dinas PRKP Pemkab Bangkalan.
Kepala Dinas (Kadis) PRKP Pemkab Bangkalan, Roniyun Hamid menuturkan, mobil dinas tersebut saat ini jadi barang bukti dan berada di Polsek Sedati, Polres Sidoarjo.
"Mobil dinas itu sekarang masih di Juanda untuk barang bukti. Setelah nanti ada informasi dari pihak kepolisian, kami akan berkomunikasi untuk mengambil mobil tersebut," ujarnya, dikutip dari TribunJatim.com.
Fakta baru pun muncul saat Roniyun menyebut bahwa korban selama menjabat sekretaris lebih dari satu tahun jarang menggunakan mobil dinas tersebut.
Korban lebih sering menggunakan mobil pribadinya karena lebih ringkas.
"Jadi ketika Rabu kemarin dapat informasi awal tentang nopol M 1090 GP, saya masih bingung karena tidak hafal dan bertanya ke beberapa staf."
"Tapi benar itu kendaraan dinas sekretaris, almarhumah tidak pernah membawanya karena bodi Innova terlalu bongsor, Bu Ruly biasa Brio warna hitam," jelas Roniyun.
Diketahui, korban meninggalkan rumah pada Kamis (18/6/2026) dan mobil dinas tersebut terpantau memasuki parkir Bandara Juanda pada Sabtu (20/6/2026) pukul 16.00 WIB.
Baca selengkapnya.
3. Gempa M 5,6 di Pacitan Jatim Tak Berpotensi Tsunami, Getarannya Dirasakan sampai Karanganyar
Gempa bumi baru saja terjadi di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Pacitan, Sabtu (27/6/2026).
Gempa dengan magnitudo 5,6 tersebut, berada di kedalaman 10 Km, 86 km Tenggara Pacitan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gempa terjadi pada Sabtu sore, pukul 14.47 WIB.
Gempa bumi ini, dipastikan tidak berpotensi tsunami.
"Gempa Mag:5.6, 27-Jun-26 14:47:21 WIB, Lok:8.96 LS,111.16 BT (86 km Tenggara PACITAN-JATIM), Kedlmn:10 Km, tdk berpotensi tsunami," tulis akun X (Twitter) BMKG, @infoBMKG.
Meski berpusat di Pacitan, gempa bumi turut dirasakan oleh warga Jawa Tengah, termasuk di Kabupaten Karanganyar.
Winda, seorang karyawan swasta yang berkantor di area Kecamatan Colomadu, mengaku merasakan getaran ketika bekerja.
"Aku di kantor kerasa banget," ucapnya kepada Tribunnews Solo, Sabtu.
Winda menceritakan, getaran yang dirasakan kurang lebih selama 10 detik.
"Aku ngerasa agak lama, hampir 10 detik," imbuhnya.
Meski demikian, kondisi masih aman dan tidak terjadi kerusakan.
Sementara itu, Dwi, warga yang tinggal indekos di Sukoharjo tak merasakan gempa.
"Enggak merasakan, mungkin pas lagi di jalan," ungkapnya.
Baca selengkapnya.
4. Emak-emak Turun ke Jalan Tolak Kedatangan Jokowi di Lampung, Ratusan Personel Gabungan Diterjunkan
Aparat kepolisian mengerahkan ratusan personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa yang digelar Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML) di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).
Aksi yang didominasi oleh peserta dari kalangan emak-emak tersebut digelar untuk menyampaikan aspirasi terkait penolakan terhadap kedatangan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Lampung.
Selain itu, massa juga menyinggung kembali polemik mengenai ijazah Jokowi yang belakangan ramai diperbincangkan di sejumlah daerah.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, Polresta Bandar Lampung mengerahkan 206 personel yang diperkuat bantuan dari Polda Lampung.
Pengamanan tambahan terdiri atas dua SSK Brimob, dua SSK Direktorat Samapta, serta satu peleton Polisi Wanita (Polwan) negosiator yang disiapkan untuk mengedepankan pendekatan persuasif selama aksi berlangsung.
Kasi Humas Polresta Bandar Lampung AKP Agustina Nilawati mengatakan seluruh personel telah ditempatkan di sejumlah titik strategis guna memastikan kegiatan penyampaian pendapat berjalan aman dan tertib.
"Sebanyak 206 personel Polresta Bandar Lampung kami kerahkan, dibantu dua SSK Brimob, dua SSK Dit Samapta, dan satu peleton Polwan negosiator dari Polda Lampung untuk mengamankan jalannya penyampaian pendapat di muka umum," kata Agustina, Sabtu (27/6/2026).
Baca selengkapnya.
5. Momen Pelaku Penyekapan di Bandung Tertunduk di Polda Jabar, Hanya Ucap: Saya Minta Maaf
Taufik Hidayat (30), pelaku penyekapan dan penyiksaan terhadap kekasihnya berinisial YTR (29), akhirnya menyampaikan permintaan maaf saat dihadirkan dalam konferensi pers di Polda Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).
Dengan kepala terus tertunduk, Taufik mengaku menyesali perbuatannya yang telah membuat korban mengalami penderitaan.
"Saya salah, saya menyesal, saya minta maaf," ucap Taufik dengan suara pelan di hadapan awak media.
Usai menyampaikan pernyataan singkat tersebut, sejumlah wartawan langsung melontarkan pertanyaan kepada pelaku terkait alasan dirinya tega melakukan penyekapan dan penyiksaan terhadap korban.
Meski beberapa kali polisi berupaya mengangkat wajahnya, Taufik tetap memilih menundukkan kepala dan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Kenapa kau tega banget sih? Bagaimana pikirannya, coba dijelasin sekarang? Coba jelasin, ngomong sekarang. Kenapa diam aja?" tanya salah seorang wartawan.
Namun Taufik hanya mengulang kalimat yang sama.
"Saya minta maaf," katanya singkat.
Tak lama kemudian, polisi langsung menggiring Taufik meninggalkan lokasi konferensi pers.
Baca selengkapnya.
(Tribunnews.com)