Titik Terang Kematian Ruly ASN Bangkalan yang Ditemukan Meninggal di Juanda, Hasil Pemeriksaan Organ
Putra Dewangga Candra Seta June 28, 2026 07:32 AM

 

SURYA.co.id, SIDOARJO – Teka-teki penyebab meninggalnya Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati, mulai menemukan titik terang.

Hasil autopsi yang dilakukan tim forensik mengungkap sejumlah temuan penting yang mengarah pada dugaan adanya tindak kekerasan sebelum korban ditemukan meninggal di dalam mobil Toyota Innova yang terparkir di Terminal 1 Bandara Juanda, Sidoarjo.

Temuan tersebut kini menjadi dasar bagi penyidik kepolisian untuk memperdalam penyelidikan.

Selain mendalami indikasi asfiksia atau kekurangan oksigen sebelum meninggal, polisi juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Hasil Autopsi Mengarah pada Dugaan Kekerasan

Perkembangan terbaru dalam penyelidikan muncul setelah tim forensik menemukan tanda-tanda yang diduga berkaitan dengan kekerasan fisik pada tubuh korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, ditemukan luka robek pada cuping telinga kiri Ruly Yunis. Luka tersebut diduga terjadi akibat benturan atau kekerasan menggunakan benda tumpul.

FAKTA-FAKTA - Penemuan jenazah Sekretaris Dinas PRKP Bangkalan, Ruly Yunis, di area parkir Terminal 1 Bandara Juanda menyisakan sejumlah kejanggalan. Rekaman CCTV, posisi jasad, hingga temuan luka pada tubuh korban kini menjadi fokus penyelidikan polisi.
FAKTA-FAKTA - Penemuan jenazah Sekretaris Dinas PRKP Bangkalan, Ruly Yunis, di area parkir Terminal 1 Bandara Juanda menyisakan sejumlah kejanggalan. Rekaman CCTV, posisi jasad, hingga temuan luka pada tubuh korban kini menjadi fokus penyelidikan polisi. (Surya.co.id)

Selain luka tersebut, hasil autopsi juga mengungkap adanya indikasi asfiksia, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen sebelum seseorang meninggal dunia.

Kepala Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, menjelaskan sejumlah ciri medis yang ditemukan selama proses autopsi.

"Ditemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata. Yang ketiga, ditemukan kebiruan pada selaput lendir bibir atas maupun bawah. Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia," terang AKBP Ni Made Wiatini pada Sabtu (27/6/2026).

Organ Dalam Perkuat Dugaan Korban Meninggal karena Kekurangan Oksigen

Dugaan asfiksia tidak hanya terlihat dari pemeriksaan luar tubuh korban, tetapi juga diperkuat oleh kondisi sejumlah organ vital.

Tim dokter menemukan adanya kongesti atau pembendungan darah pada beberapa organ, yang merupakan salah satu tanda seseorang mengalami kekurangan oksigen sebelum meninggal dunia.

Baca juga: Kebaikan Hati Ruly ASN Pemkab Bangkalan Ditemukan Meninggal di Juanda, Membekas di Ingatan Rekannya

Beberapa temuan tersebut antara lain:

  • Lidah dan epiglotis berwarna merah kehitaman akibat kongesti.
  • Saluran pernapasan bagian atas mengalami pembendungan darah.
  • Dinding lambung korban ditemukan berwarna merah kehitaman.

Temuan-temuan tersebut kini menjadi salah satu petunjuk penting yang sedang dianalisis penyidik bersama tim forensik.

Polisi Pastikan Korban Tidak Hamil

Autopsi juga menjawab sejumlah spekulasi yang sempat berkembang terkait kondisi korban saat ditemukan.

Tim dokter memastikan Ruly Yunis tidak dalam keadaan hamil. Kondisi perut yang tampak membesar ketika jenazah ditemukan dipastikan merupakan akibat proses pembusukan alami.

Selain itu, hasil pemeriksaan swab vagina juga menunjukkan hasil negatif dari jejak sperma.

Korban diperkirakan telah meninggal sekitar dua hingga tiga hari sebelum proses autopsi dilaksanakan.

Uji Toksikologi Jadi Kunci Mengungkap Penyebab Kematian

Meski hasil autopsi telah memberikan sejumlah petunjuk, penyebab pasti kematian Ruly Yunis masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.

Penyidik telah mengirim sejumlah sampel organ dalam korban ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur untuk menjalani uji toksikologi.

Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan apakah kondisi asfiksia dipicu oleh paparan zat beracun, penyumbatan saluran pernapasan secara paksa, atau faktor medis lainnya.

Kepolisian menegaskan proses penyelidikan masih berlangsung secara intensif untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Hasil autopsi menjadi perkembangan signifikan dalam penyelidikan karena memberikan dasar ilmiah mengenai kondisi korban sebelum meninggal.

Temuan indikasi asfiksia serta adanya luka pada bagian tubuh memperkuat alasan penyidik untuk mendalami kemungkinan adanya unsur kekerasan.

Namun demikian, temuan tersebut belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab pasti kematian maupun memastikan adanya tindak pidana.

Hasil uji toksikologi, pemeriksaan laboratorium forensik, serta alat bukti lain seperti rekaman CCTV, keterangan saksi, dan hasil penyelidikan kepolisian tetap menjadi faktor penting untuk membangun kronologi secara utuh.

Dengan demikian, arah penyelidikan memang mulai menemukan titik terang, tetapi kesimpulan final masih menunggu hasil investigasi menyeluruh dari aparat penegak hukum.

Terungkap Perjalanan Terakhir 

Tabir perjalanan terakhir Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur (Jatim), Ruly Yunis Setiawati (50), sebelum ditemukan meninggal dunia di dalam mobil dinas di area parkir Bandara Juanda Sidoarjo mulai terungkap.

Pihak instansi menegaskan bahwa korban tidak sedang mengemban tugas dinas saat bepergian ke luar kota.

Kepala Dinas PRKP Kabupaten Bangkalan, Roniyun Hamid, memberikan klarifikasi resmi mengenai status keberangkatan bawahannya tersebut.

Roniyun menegaskan bahwa pihak dinas sama sekali tidak mengetahui agenda kepergian Ruly Yunis ke luar kota.

"Tidak berpamitan ke luar kota, penugasan kantor juga tidak," ujar Roniyun saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Jumat (26/6/2026).

Terkait mobil Toyota Innova hitam bernomor polisi M 1090 GP yang menjadi tempat ditemukannya jasad korban, Roniyun membenarkan bahwa kendaraan tersebut adalah mobil dinas operasional jabatan sekretaris.

Namun, ia menjelaskan bahwa almarhumah sebenarnya jarang menggunakan mobil tersebut untuk mobilitas harian.

Sebagai pejabat yang baru sekitar enam bulan menjabat, Roniyun mengaku sempat tidak mengenali nomor polisi kendaraan tersebut hingga polisi melakukan konfirmasi.

Ia menambahkan bahwa korban biasanya lebih memilih mengendarai mobil pribadi jenis Honda Brio hitam, karena ukuran Innova dianggap terlalu besar untuk penggunaan sehari-hari.

Saat ini, mobil dinas tersebut masih diamankan di Mapolsek Juanda sebagai barang bukti.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.