Kisah Boemi Tirta Tembus Pasar Italia: Jual Desain Lukis Tangan Orisinal Ratusan Euro
Muhamad Syarif Abdussalam June 28, 2026 08:47 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Selama lebih dari dua dekade, karya-karya lukis tangan buatan artisan Indonesia diam-diam menghiasi berbagai produk di mancanegara. 

Namun, sedikit yang mengetahui bahwa desain-desain tersebut lahir dari tangan-tangan kreatif di dalam negeri karena selama ini dipasarkan dengan sistem white label tanpa membawa identitas Indonesia.

Berangkat dari pengalaman itu, Founder & CEO Boemi Tirta, Bunda Neuneu, memutuskan mendirikan merek Boemi Tirta pada 2021. 

Langkah tersebut menjadi upaya agar karya artisan lokal tidak lagi hanya dikenal di luar negeri, tetapi juga mendapat tempat dan apresiasi di tanah air.

“Kami punya tagline “Membumi di Negeri Sendiri, Harum di Mancanegara”, kenapa ? Karena produk kami sebenarnya sudah lama ada di luar negeri, tetapi tidak dikenal di Indonesia,” ujar Bunda Neuneu saat ditemui di Sunda Karsa Fest di Trans Convention Center, Bandung, Sabtu (27/6/2026).

Sebelum membangun Boemi Tirta, Bunda Neuneu telah menjalankan Studio Anteprima sejak awal 2000-an. Melalui studio tersebut, ia rutin mengirimkan desain master lukisan tangan ke Como, Italia.

“Desain yang dikirim bukan berupa kain atau pakaian jadi, melainkan karya lukisan tangan yang menjadi desain master, kemudian dikembangkan kembali oleh studio maupun pabrik tekstil di Italia menjadi berbagai produk, mulai dari kain, busana, wallpaper hingga kap lampu. Satu desain di Italia harganya mencapai 300 euro,” ucapnya.

Seluruh desain tersebut dibuat secara manual menggunakan tangan tanpa bantuan teknologi digital. 

Menurutnya, nilai orisinalitas menjadi alasan utama karya-karya tersebut dihargai tinggi oleh pasar internasional.

“Kalau digital kan banyak referensinya, kalau ini benar-benar dari tangan. Setiap goresan berbeda, setiap gambar punya cerita,” ucapnya.

Meski telah lama dipercaya pembeli dari luar negeri, Bunda Neuneu mengaku pandemi Covid-19 menjadi titik terberat dalam perjalanan usahanya. 

Aktivitas bisnis menurun drastis karena terbatasnya kegiatan industri kreatif maupun perdagangan internasional.

Pengalaman tersebut membuat Boemi Tirta mulai melakukan diversifikasi usaha. Selain tetap mempertahankan ekspor desain master, perusahaan mulai menghadirkan produk jadi untuk pasar domestik.

“Buyer tetap kami masih ada, tetapi kami harus mengantisipasi kondisi ekspor. Sekarang kami juga bermain di pasar lokal melalui produk jadi,” jelasnya.

Salah satu produk yang kini dikembangkan adalah busana lukis dan scarf dengan harga mulai dari Rp275 ribu hingga Rp6 juta.

Menurutnya, scarf memiliki peluang pasar yang cukup besar karena dapat dipasarkan sebagai produk suvenir, sementara busana lukis menyasar konsumen yang mencari karya eksklusif.

Momentum memperkenalkan lini fashion tersebut diperoleh melalui dukungan Bank Indonesia dalam gelaran Sunda Karsa Fest.


Bunda Neuneu mengungkapkan, seluruh koleksi yang ditampilkan merupakan hasil produksi khusus untuk acara tersebut.

“Dua minggu kami membuat sekitar 20 pakaian, satu orang melukis satu pakaian,” katanya.

Proses tersebut melibatkan 17 orang artisan yang selama ini menjadi bagian dari tim kreatif Boemi Tirta.

Menariknya, seluruh anggota tim dibangun dari proses pembelajaran yang sama, yakni secara otodidak.

Selain menghadirkan motif geometris dan kontemporer, Boemi Tirta juga banyak mengangkat kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya-karyanya.

“Ada cerita di setiap gambar. Saya ingin memperkenalkan Indonesia lewat karya-karya ini,” tuturnya.

Menurut Bunda Neuneu, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi pelaku seni di Indonesia adalah rendahnya penghargaan terhadap karya orisinal.

Ia mengaku tidak jarang masih menemui permintaan pembuatan desain secara gratis, sesuatu yang sangat berbeda dengan penghargaan yang diterimanya di luar negeri.

“Di sini masih sering ada yang bilang, ‘Bu, desainnya gratis ya.’ Padahal di luar negeri satu desain saja bisa dihargai sekitar 300 euro. Mereka benar-benar menghargai karya orisinal,” katanya.

Apalagi, kata dia seluruh proses dikerjakan secara manual, waktu pengerjaan setiap karya pun tidak bisa disamakan.

Menurutnya, suasana hati seorang pelukis turut memengaruhi hasil akhir karya.

“Kalau lagi senang hasilnya luar biasa. Tapi kalau lagi tidak mood, satu gambar saja bisa sampai satu minggu,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski demikian, ia tetap menerapkan sistem target sebagai bentuk motivasi bagi tim.

Ia mencontohkan pengalaman ketika mendapat tantangan membuat 10 lukisan bertema tanaman langka hanya dalam waktu 10 hari. 

Tantangan itu berhasil diselesaikan, bahkan membuat komunitas tanaman tersebut terkejut karena biasanya satu lukisan membutuhkan waktu hingga satu setengah tahun.

“Bagi kami ini hobi yang dibayar, jadi ketika ada tantangan, kami coba kerjakan dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Melalui Boemi Tirta, Bunda Neuneu berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang bangga menggunakan karya artisan lokal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.