SURYA.co.id – Nama Siswanto menjadi sorotan publik setelah video yang memperlihatkan dirinya berdebat dengan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Siswanto yang menjabat sebagai Wakil Rektor UNY Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum melontarkan pernyataan yang menyebut spanduk mahasiswa sebagai "sampah", sehingga memicu beragam tanggapan dari masyarakat.
Perdebatan itu terjadi saat Aliansi Mahasiswa UNY menggelar aksi di Rektorat UNY pada Rabu (24/6/2026).
Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan penolakan terhadap keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan kampus.
Di tengah ramainya perbincangan mengenai insiden tersebut, rekam jejak Siswanto sebagai akademisi dan pejabat kampus ikut menjadi perhatian.
Selama lebih dari dua dekade, ia dikenal berkarier di lingkungan UNY dengan menempati sejumlah jabatan strategis.
Latar belakang pendidikannya pun seluruhnya ditempuh di kampus yang kini dipimpinnya bersama jajaran rektorat. Berikut profil dan perjalanan karier Siswanto yang kini menjadi sorotan publik.
Dalam video yang beredar, Siswanto terlihat menunjuk spanduk yang dibawa mahasiswa sambil menyampaikan penilaiannya terhadap atribut aksi tersebut.
Spanduk berwarna putih itu bertuliskan:
"REKTOR KAMPUS PENDIDIKAN TIDAK PAHAM PENDIDIKAN. KAMPUS DIJADIKAN TEMPAT MEMASAK MAKANAN BUKAN MEMASAK PIKIRAN. KAMI MAHASISWA UNY MENOLAK SPPG."
“Sampah itu, Mas. Sampah,” kata Siswanto sembari menunjuk-nunjuk spanduk.
“Tanya aja sama teman-teman, itu bersih atau kotor. Kotor. Hanya orang yang mengatakan bersih itu yang enggak waras menurut saya."
Saat mahasiswa meminta penjelasan mengenai maksud ucapannya, Siswanto kembali memberikan penjelasan.
“Kotor. Lihat, mengotori lantai, mengotori pandangan. Enggak pantas untuk ditaruh di sini," ucap Siswanto.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, Andri, mengatakan aksi tersebut sengaja digelar bersamaan dengan pelaksanaan wisuda agar aspirasi mahasiswa dapat diketahui lebih banyak orang.
"Kami pikir itu ketika wisuda ada lebih banyak orang sehingga ketika kita melakukan aksi, pesan yang kita sampaikan bisa tersampaikan ke lebih banyak orang," kata Andri, Jumat (26/6/2026).
Mahasiswa menolak kampus mengelola SPPG karena menilai Program Makan Bergizi (MBG) memiliki perencanaan yang buruk, berpotensi membuka celah korupsi, dan berisiko menyebabkan keracunan.
"Kampus seharusnya sebagai kekuatan moral, sebagai kontrol sosial dari kebijakan publik karena kampus itu kan isinya para intelektual. Ketika kampus tidak menjadi ruang kritik atau penghasil gagasan untuk menjaga kepentingan publik, yang ada kampus hanya menjadi stempel penguasa untuk mendukung program-programnya," katanya.
Andri juga mengaku terkejut dengan respons yang diberikan Siswanto saat aksi berlangsung.
"Kita kaget aja sih, khususnya saya sendiri syok dan diam gitu. Harusnya kan misal nggak boleh, bisa berkomunikasi lah dengan baik. Jangan sampai menghina aksi kami atau menghina peraga aksi. Itu (peraga aksi) juga kita buat, kita lelah, dan mengeluarkan biaya juga," katanya.
Menanggapi viralnya video tersebut, Siswanto menyatakan aksi mahasiswa dilakukan tanpa izin di area hall Rektorat yang saat itu masih dipadati peserta wisuda beserta keluarga.
"Kemarin ada beberapa mahasiswa yang mau melakukan teatrikal di hall Rektorat tanpa izin, padahal hall Rektorat sedang banyak mahasiswa dan orang tua setelah wisuda. Material teatrikal mengotori lantai dan ada tulisan tidak pantas. Nggih (pernyataan sampah merujuk pada atribut yang mengotori lantai)," katanya.
Ia juga membantah tudingan bahwa UNY telah mengelola SPPG.
"Mereka menuduh UNY punya SPPG padahal sampai saat ini belum ada. Foto mobil SPPG itu sedang mengantar MBG ke TPA (tempat penitipan anak) UNY yang memang diberi MBG," ujarnya.
Berdasarkan curriculum vitae (CV) yang diunggah di Scribd, Siswanto lahir di Klaten pada 20 September 1978.
Seluruh pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Negeri Yogyakarta.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) Akuntansi pada 2001, kemudian meraih gelar Magister (S-2) Penelitian dan Evaluasi Pendidikan pada 2006.
Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikan doktor (S-3) Ilmu Pendidikan di kampus yang sama pada 2017.
Karier akademiknya dimulai sejak 2002 sebagai dosen di Jurusan Akuntansi jenjang D-3 dan S-1 serta Jurusan Pendidikan Akuntansi.
Selain aktif sebagai dosen, Siswanto juga dipercaya mengisi berbagai jabatan strategis di lingkungan UNY, antara lain:
Dengan perjalanan karier tersebut, Siswanto termasuk salah satu pejabat yang cukup lama berkiprah di lingkungan internal UNY sebelum dipercaya menduduki posisi wakil rektor.
Viralnya video perdebatan antara Siswanto dan mahasiswa menunjukkan bahwa perhatian publik tidak hanya tertuju pada pernyataan yang disampaikan seorang pejabat kampus, tetapi juga pada rekam jejak serta kapasitas kepemimpinannya.
Di era media sosial, setiap pernyataan pejabat publik dapat dengan cepat menjadi konsumsi masyarakat luas. Kondisi tersebut membuat rekam jejak pendidikan, pengalaman organisasi, hingga riwayat jabatan ikut menjadi bahan penilaian publik.
Terlepas dari perbedaan pandangan antara pihak kampus dan mahasiswa terkait aksi penolakan SPPG, peristiwa ini memperlihatkan pentingnya komunikasi yang efektif dalam merespons aspirasi di lingkungan perguruan tinggi agar dialog tetap berlangsung secara konstruktif.