5 Calon Manajer KDMP Meninggal, CELIOS: Buktikan Latsarmil Ada Hubungannya dengan Pengelolaan Kopdes
Facundo Chrysnha Pradipha June 28, 2026 11:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar, mengkritik keras terkait pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) setelah adanya lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang meninggal dunia.

Berkaca dari peristiwa pilu tersebut, Media meminta pemerintah untuk menjelaskan secara ilmiah terkait hubungan antara Latsarmil dengan tugas dari para calon setelah nantinya resmi menjadi manajer KDMP.

"Menurut saya ada satu pertanyaan yang lebih mendasar yaitu mengapa calon pengelola Kopdes Merah Putih ini harus mengikuti Latihan Dasar Militer? Itu pertanyaan yang harusnya dijawab terlebih dahulu."

"Apa hubungannya push up dengan menyusun laporan keuangan? Apa hubungan halang rintang dengan mengawasi stok barang? Apa hubungan latihan tempur dengan melayani anggota koperasi," katanya dalam program Kompas Petang di YouTube Kompas TV, Minggu (28/6/2026).

Media menuturkan ketika tidak bisa membuktikan secara ilmiah, dia mendesak agar pemerintah menghentikan pelaksanaan Latsarmil terhadap calon manajer KDMP.

Baca juga: 5 Kronologi dan Penyebab Calon Manajer KDMP Meninggal: Heat Stroke, Henti Jantung hingga Pneumonia

Menurutnya, tidak ada alasan untuk tetap melanjutkan Latsarmil jika pemerintah tidak bisa menjelaskan hubungan kegiatan tersebut dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari manajer KDMP.

"Kalau tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa peserta yang mengikuti militer kemudian menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat, maka hentikan saja kebijakan ini."

"Tidak bisa kebijakan dilakukan tanpa alasan yang jelas dan ada data dan bukti empiris yang menunjukkan bahwa itu kemudian sangat efektif," jelasnya.

Media lantas membandingkan jumlah korban meninggal dunia saat Latsarmil calon manajer KDMP dengan program wajib militer (wamil) di Korea Selatan (Korsel).

Dia menyebut, selama 10 tahun wamil digelar di Korsel, total ada empat orang meninggal dunia.

Adapun, kata Media, total warga Korsel yang mengikuti wamil dalam kurun waktu tersebut sekitar 2 juta orang.

Data tersebut berbanding terbalik dengan Latsarmil calon manajer KDMP yang sudah mengakibatkan lima orang meninggal dunia hanya dalam kurun waktu dua pekan. Dia menjelaskan total peserta yang ikut sebanyak 32 ribu orang.

"Lebih ironi lagi kalau di Korea Selatan itu pelatihan militernya untuk perang. Di Indonesia, pelatihan militernya untuk calon manajer toko kelontong. Ini absurd, ini aneh, ini tidak bisa diterima dengan akal sehat," tegasnya.

Media mengungkapkan ketimbang diberi pelatihan militer, para calon manajer KDMP seharusnya dilatih di lembaga pelatihan atau di koperasi-koperasi yang sudah ada.

"Saya berharap negara menyelesaikan masalah dengan cara yang benar bukan cara yang salah. Jadi menurut saya sebelum nyawa kembali hilang, hentikan ini (Latsarmil) dan kemudian duduk kembali."

"Pikirkan kembali bagaimana seharusnya koperasi itu dimaknai. Ini bukan koperasi menurut saya," tukasnya.

Baca juga: Penyebab 3 Calon Manajer KDMP Meninggal, DPR RI Minta Evaluasi Materi Pelatihan Militer

5 Calon Manajer KDMP Meninggal Dunia

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengumumkan bahwa total sudah ada lima orang calon manajer KDMP yang meninggal dunia saat menjalani Latsarmil.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMP) Kemenhan, Mayjeni TNI Ketut Gede Wetan Pastia membeberkan identitas kelima korban meninggal dunia tersebut.

Mereka adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.

"Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti pelatihan bela negara dan manajerial," kata Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ketut menjelaskan kronologi meninggalnya Nola yang menjadi korban meninggal dunia kelima di mana dirinya merupakan calon manajer KDMP yang mengikuti latsarmil di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan.

Dia mengatakan Nola meninggal dunia pada Jumat malam.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ketut mengatakan Nola masih sempat menjalani pembelajaran soal teknik perkebunan pada Jumat sore.

Namun, pada Jumat petang sekira pukul 18.45 WIB, Nola tiba-tiba mengeluhkan sesak napas disertai badan panas.

"Tim kesehatan satdik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang," kata Ketut. 

Baca juga: Mahasiswa Tuntut Stop MBG hingga KDMP, Elite PKB Desak Sosialisasi Program Pemerintah Lebih Maksimal

Nola tiba di IGD RS Singkawang sekira pukul 19.20 WIB dan langsung memperoleh perawatan medis.

Kemudian, dia dirujuk ke RSUD Abdul Azis Singkawang untuk memperoleh penanganan lebih komprehensif. Setibanya di rumah sakit, Nola langsung memperoleh penanganan intensif.

Namun, pada pukul 21.03 WIB, dia dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami henti jantung.

"Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan dan pada pukul 21.03 WIB almarhumah dinyatakan meninggal dunia," imbuh dia.

Di sisi lain, Ketut menjelaskan bahwa Nola telah dinyatakan memenuhi ketentuan saat pemeriksaan kesehatan. Hanya saja, ada catatan terkait kelebihan berat badan.

"Saat ini hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait kondisi yang dialami," ujar dia."

Sementara, empat calon manajer lainnya meninggal dunia dengan penyebab berbeda.

Adapun Yonanda Muhammad Taufiq wafat akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Lalu, Anisa Muyassaroh lantaran heat stroke. Kemudian Novia Ramadhani buntut komplikasi tuberkulosis (TB).

Sedangkan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.