TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN – Warga Berokan, Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penutupan lokalisasi Gembol jika hal tersebut telah menjadi keputusan resmi dari pemerintah daerah.
Kendati demikian, masyarakat mendesak adanya langkah penataan kawasan yang matang pascapenutupan agar wilayah tersebut tidak terbengkalai dan mampu bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru yang sehat.
Warga menilai ketergantungan ekonomi masyarakat lokal terhadap aktivitas di Lokalisasi Gembol relatif sangat kecil. Pasalnya, mayoritas pelaku usaha maupun pekerja di dalam kawasan prostitusi tersebut didominasi oleh warga pendatang, bukan penduduk asli setempat.
Ketua RT 5 RW 6 Berokan, Junardi, mengungkapkan bahwa di wilayah yang dipimpinnya, warga pribumi yang memiliki usaha di dalam lokalisasi bisa dihitung dengan jari.
"Persentasenya yang pribumi hanya beberapa. Yang punya usaha di lokalisasi, warga pribumi cuma ada tiga orang. Itu pun yang dua dikontrakkan ke orang lain, dan hanya satu yang dikelola sendiri," ujar Junardi, Rabu (24/6/2026).
Junardi menambahkan, keberadaan warung-warung makan yang mengitari area tersebut juga tidak akan lumpuh total jika penutupan dilakukan.
Baca juga: Hadirkan Akrobat Asal Chile hingga Spanyol, The Park Semarang Manjakan Pengunjung Libur Sekolah
Mengingat lokasinya yang strategis di tepi jalan raya, warung-warung tersebut selama ini tetap bisa mengandalkan pemasukan dari para pengguna jalan atau pengendara yang melintas, bukan hanya dari pengunjung lokalisasi.
Usulkan Pembangunan RTH dan Alun-Alun Mini
Guna menghapus citra negatif yang telah melekat selama bertahun-tahun di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang ini, warga berharap pemerintah tidak sekadar menghentikan aktivitas prostitusi, melainkan langsung melakukan alih fungsi lahan.
Dalam pertemuan resmi bersama pihak kecamatan beberapa waktu lalu, perwakilan warga telah melayangkan usulan konkret agar eks lokalisasi tersebut diubah menjadi fasilitas publik yang bermanfaat.
"Saat pertemuan dengan pihak kecamatan, saya mengusulkan agar lokasi tersebut dibikin seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau alun-alun mini. Kalau dibangun seperti itu, justru malah bisa mendongkrak perekonomian di lingkungan sekitar," kata Junardi.
Menurut warga, kehadiran RTH atau alun-alun mini di masa depan diyakini mampu menciptakan magnet keramaian baru yang jauh lebih positif. Hal ini dinilai akan membuka peluang usaha baru yang lebih ramah keluarga dan memberikan dampak ekonomi warga sekitar secara lebih merata dan bermartabat.(eyf)