Bedah Buku Daqaiq Alquran di UIN Bandung: KH Miftah F Rakhmat Kritik Cara Pahami Terjemahan
Muhamad Syarif Abdussalam June 28, 2026 12:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Program Magister S2 Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar seminar dan bedah buku Daqāiq al-Qur'an karya KH. Miftah F. Rakhmat, Jumat (26/6/2026).

Mengusung tema "Moderasi Beragama dan Keajaiban Al-Qur'an: Menyelami Pesan Wasathiyah dalam Buku Daqāiq al-Qur'an", forum ilmiah ini dihadiri dosen, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati studi Alquran.

KH. Miftah F. Rakhmat mengkritisi kecenderungan umat yang sering menyamakan terjemahan Alquran dengan Alquran itu sendiri. Menurutnya, terjemahan merupakan hasil ijtihad manusia yang tidak mungkin sepenuhnya memindahkan seluruh kekayaan makna bahasa Alquran.

"Terjemahan Alquran bukanlah Alquran," katanya. 

Pasalnya, setiap penerjemahan selalu melibatkan pilihan kata, penafsiran, dan keterbatasan bahasa. Akibatnya, banyak lapisan makna yang tidak dapat dipindahkan secara utuh ke dalam bahasa lain.

Dia menjelaskan bahwa buku Daqāiq Alquran lahir dari upaya menyingkap daqāiq (seluk-beluk yang halus dan subtil) dalam bahasa Alquran. Buku ini menunjukkan kata-kata yang selama ini dianggap sinonim ternyata memiliki nuansa makna yang berbeda.

Setiap diksi dalam Alquran dipilih secara presisi, mempunyai fungsi, konteks, dan narasi masing-masing. Perbedaan sekecil apa pun dalam pilihan kata dapat melahirkan pesan yang berbeda pula.

Lebih jauh, buku ini mengajak pembaca meneliti pola-pola bahasa Alquran, pengulangan kata, distribusi istilah, hingga jumlah kemunculan kata-kata tertentu sebagai bagian dari struktur makna yang utuh. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kemukjizatan Alquran tidak hanya terletak pada kandungan ajarannya, tetapi juga pada ketelitian konstruksi bahasanya.

KH. Miftah juga menyoroti hilangnya sejumlah unsur kebahasaan dalam proses penerjemahan, termasuk kata ganti (dhamir) yang sering kali tidak dapat dipertahankan dalam bahasa Indonesia. Padahal, perubahan atau hilangnya kata ganti tersebut dapat memengaruhi arah penekanan, hubungan antarayat, bahkan keluasan makna yang ingin disampaikan Alquran.

"Memahami Alquran tidak boleh berhenti pada satu terjemahan atau satu penafsiran. Semangat yang dibangun Daqāiq alquran adalah menolak hegemoni dan monopoli makna, sekaligus membuka ruang dialog ilmiah terhadap berbagai kemungkinan makna yang tetap berpijak pada kaidah bahasa Arab, ilmu tafsir, dan tradisi keilmuan Islam," katanya 

Dengan menyadari keluasan makna Alquran, seseorang akan lebih rendah hati dalam memahami agama dan tidak mudah menyalahkan pendapat yang berbeda.

Pembedah buku, Prof. Dr. H. Badruzzaman M. Yunus, menilai Daqāiq Alquran sebagai kontribusi penting dalam bidang Dirasah Qur'aniyah.

Menurutnya, buku ini menggali kemukjizatan Alquran melalui kajian kebahasaan yang sistematis serta memperkaya khazanah studi Alquran dengan memadukan perspektif Ahlus Sunnah dan tradisi Ahlul Bait secara proporsional.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan dari peserta berkisar pada persoalan penerjemahan Alquran, makna sinonim dalam Alquran, metodologi tafsir, hingga relevansi pendekatan kebahasaan dalam membangun kehidupan beragama yang damai.

Melalui pendekatan tersebut, Daqāiq alquran menawarkan satu pesan penting, yakni semakin dalam seseorang memahami presisi bahasa Alquran, semakin terbuka kesadarannya bahwa wahyu Ilahi memiliki keluasan makna yang tidak bisa dimonopoli oleh satu terjemahan atau satu tafsir. 

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi lahirnya sikap wasathiyah atau moderasi beragama teguh pada prinsip, tetapi lapang dalam menyikapi perbedaan.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Eni Zulaiha mengaku gembira melihat tingginya antusiasme peserta mengikuti seminar dan bedah buku tersebut. Menurutnya, semangat mahasiswa dan masyarakat untuk mendalami kajian Alquran menjadi modal penting bagi pengembangan keilmuan Islam di masa depan.

"Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik mendalami Alquran melalui jalur akademik. Kita tidak ingin kajian Alquran kehilangan peminat. Jangan sampai 10 tahun ke depan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir justru mengalami kemunduran atau bahkan terancam kehilangan regenerasi karena minimnya mahasiswa yang menekuni bidang ini," ujarnya.

Dia berharap kegiatan seminar, bedah buku, dan forum-forum akademik serupa terus digelar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap studi Alquran sekaligus memperkuat tradisi riset dan pengembangan ilmu tafsir di lingkungan perguruan tinggi.

Menurutnya, semakin banyak orang yang mendalami Alquran secara ilmiah, semakin besar pula peluang lahirnya pemahaman keislaman yang mendalam, moderat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Acara bedah buku di UIN Sunan Gunung Djati ini rangkaian roadshow bedah buku Daqaiq Alquran 30 kota. Sebelumnya acara serupa diadakan di Yogyakarta dan Ciamis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.