TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung memutuskan untuk membatasi kunjungan terhadap YTR (29), korban dugaan penyekapan dan penganiayaan berat yang diduga dilakukan Taufik Hidayat.
Kebijakan tersebut diterapkan karena korban saat ini tengah menjalani tahapan penting dalam proses pemulihan, yakni persiapan operasi rekonstruksi wajah akibat kerusakan serius yang dialaminya.
Direktur Utama RSHS Bandung, dr Rachim Dinata Marsidi, menjelaskan bahwa fokus utama tim medis saat ini adalah menangani infeksi pada area luka sebelum operasi rekonstruksi dapat dilakukan oleh dokter spesialis bedah plastik.
Menurutnya, kondisi korban harus benar-benar steril agar proses penyembuhan berjalan optimal dan tindakan rekonstruksi dapat dilakukan sesuai rencana.
"Sampai saat ini dan mungkin beberapa hari ke depan, akan memperketat tidak boleh dijenguk."
"Karena yang datang nanti akan membawa kuman," ujar Rachim, Sabtu (27/6/2026).
Baca juga: Misteri Tato Ikan Milik Pelaku Penyekapan di Bandung, Keterangan Korban Masih Diverifikasi Psikiatri
Rachim menegaskan, pembatasan kunjungan dilakukan demi melindungi kondisi kesehatan korban.
Kehadiran banyak pengunjung dikhawatirkan meningkatkan risiko infeksi yang dapat memperlambat proses penyembuhan.
"Karena kalau ada infeksi, pasti tidak akan bisa sembuh," katanya.
Saat ini, tim dokter terus memantau perkembangan kondisi YTR sembari mempersiapkan tahapan rekonstruksi wajah yang diperkirakan membutuhkan penanganan medis secara bertahap dan dalam jangka waktu panjang.
Rachim menjelaskan, rekonstruksi wajah YTR akan dilakukan secara bertahap dan diperkirakan berlangsung lebih dari tiga bulan.
Penanganan tersebut, difokuskan untuk memperbaiki sejumlah bagian wajah yang mengalami kerusakan serius.
"Itu kurang lebih lebih dari 3 bulan, kami akan bertahap melakukan rekonstruksi di wajah ini. Karena dari mulai mulut, hidung, pipi ya," ucapnya.
Baca juga: Luka Fisik & Trauma, Caddy Golf Korban Penganiayaan di Tangerang Tempuh Jalur Hukum: Tak Mau Damai
Meski demikian, Rachim mengakui hasil rekonstruksi nantinya tidak mudah mengembalikan kondisi wajah korban seperti semula.
Namun, tim dokter akan berupaya memberikan penanganan terbaik.
"Yang paling berat adalah di bagian wajah, dan ini direncanakan bertahap, namanya rekonstruksi ya."
"Jadi bukan kecantikan, ini adalah mengembalikan, rekonstruksi itu supaya bisa lagi mendekatilah. Kalau sempurna, sangat-sangat sulit," katanya.
Untuk menangani YTR, RSHS telah membentuk tim khusus yang terdiri dari 40 tenaga medis lintas disiplin.
Tim tersebut melibatkan dokter penyakit dalam, bedah mulut, bedah plastik, psikiater hingga ahli gizi.
"Hasan Sadikin sudah membentuk 40 orang tim untuk menangani ibu (YTR) ini," ucapnya.
Sebelum memasuki tahap rekonstruksi, tim dokter akan memastikan seluruh infeksi yang dialami korban dapat ditangani terlebih dahulu agar proses pemulihan berjalan maksimal.
(Tribunnewsmaker.com/TribunJabar.id/Nazmi Abdurrahman)