Telan 5 Korban Dosen Unsulbar Wahyu Maulid Pertanyakaan Urgensi Latsarmil Calon Manajer Kopdes
Ilham Mulyawan June 28, 2026 01:47 PM


TRIBUN-SULBAR.COM - Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dr. Wahyu Maulid Adha menyayangkan insiden wafatnya lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Kelimanya meninggal saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) yang dilaksanakan TNI, yang dikemas dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

Mereka meninggal di antaranya Yonanda Muhammad Taufik, Anisa Muyassaroh, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, Novia Rahmadhani dan Nola Dya Sari.

Baca juga: Kader IMM Kecam Pernyataan Provokatif Diduga Diucapkan Warek I Universitas Muhammadiyah Mamuju

Baca juga: Polisi di Pinrang Tidak Tahan Kakek Cabul Lecehkan Anak di Bawah Umur Alasannya Pelaku Sakit

Mereka meninggal usai mendapat gemblengan fisik Latsarmil.

TNI beralasan Latsarmil ini untuk membentuk kedisiplinan dan karakter para calon manajer kopdes.

Wahyu menilai, manajer kopdes tidak penting dilatih militer walau dengan dalih melatih kedisiplinan dan loyalitas.

"Harusnya tidak diarahkan ke latihan fisik," kata Wahyu, Minggu (28/6/2026).

Jauh lebih penting kata dia, para calon manajer kopdes diberikan pemahaman relevan dengan ilmu kompetensi bisnis dan ilmu manajerial yang terukur.

"Seperti Manajemen Operasional & Strategi pemasaran, ​Transformasi digital dalam pelayanan koperasi agar lebih efisien, ​manajemen Risiko dan
​Community Development," ujarnya.

Dia menyesalkan kejadian ini, padahal mereka yang mendaftar banyak anak-anak muda yang yang sedang mencari pekerjaan.

Ditambah kondisi fisik tiap individu berbeda-beda.

"Kenapa harus dipaksakan sekali Latsarmil ini, seakan-akan kalau tidak dilatih militer mereka tidak kompeten menjadi manajer kopdes," sesalnya.

Kronologi Kematian Lima Calon Manajer Kopdes

1. Yonanda Muhammad Taufik

Yonanda Muhammad Taufik mengembuskan napas terakhirnya di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, pada Rabu (17/6/2026).

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan Yonanda meninggal akibat mengalami henti jantung (cardiac arrest).

2. Anisa Muyassaroh

Anisa mengikuti diklat di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.

Ia dilaporkan meninggal dunia akibat heat stroke saat berjuang mengikuti program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tersebut.

Pada 18 Juni 2026, kondisi kesehatannya menurun dan langsung mendapatkan penanganan dari tenaga medis di fasilitas kesehatan satuan.

3. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan sempat mengeluhkan sesak napas pada 25 Juni 2026 dan mendapat penanganan awal dari tim kesehatan satuan.

Setelah kondisinya kembali menurun, ia dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Di rumah sakit, Rifki menjalani perawatan intensif, termasuk di ruang Intensive Care Unit (ICU).

Setelah menjalani perawatan intensif, Rifki dinyatakan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.

4. Novia Rahmadhani

Novia Rahmadhani Sihotang meninggal saat mengikuti Latsarmil (Latihan Dasar Kemiliteran) di Jakarta pada Selasa (23/6/2026) sore.

Sejak keberangkatan hingga tiba di lokasi pelatihan, keluarga menyebut tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.

Pihak keluarga juga menegaskan Novia tidak memiliki riwayat penyakit serius dan dikenal dalam kondisi sehat sebelum mengikuti program tersebut.

Tim kesehatan satuan kemudian memberikan penanganan awal sebelum akhirnya merujuknya ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa di Jakarta.

Meski telah mendapatkan perawatan intensif, Novia dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026.

5. Nola Dya Sari

Nola Dya Sari, peserta dari Satuan Pendidikan (Satdik) Dodik Bela Negara Kalimantan menjadi orang kelima yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil Kopdes Merah Putih.

Sebelum dinyatakan meninggal dunia, Nola masih mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas tanpa menunjukkan keluhan kesehatan.

Pada Jumat 26 Juni 2026, almarhumah mengikuti kegiatan pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan di dalam kelas.

Namun, sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mulai mengeluhkan sesak napas yang disertai badan terasa panas.

Tim kesehatan satuan pendidikan kemudian segera memberikan penanganan awal sebelum merujuk Nola ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Singkawang.

Pada pukul 19.20 WIB, Nola tiba di IGD dan langsung menjalani pemeriksaan serta penanganan medis.

Setelah kondisinya distabilisasi, tim medis memutuskan merujuknya ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif.

Dalam proses penanganan, kondisi Nola memburuk hingga mengalami henti jantung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.