Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketergantungan pada impor membuat harga obat di Indonesia rentan terdampak gejolak geopolitik global.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga obat.
Perusahaan farmasi asal Korea Selatan, Daewoong Pharmaceutical Indonesia, memastikan belum berencana menaikkan harga produknya.
Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengakui harga obat di Indonesia memang masih relatif tinggi, terutama untuk produk yang masih bergantung pada impor.
"Memang harga obat-obatan masih cukup tinggi, apalagi kalau produknya masih full impor. Kami berkomitmen ke depannya mengurangi harga dengan membangun pabrik di Indonesia sehingga produksinya benar-benar dilakukan di dalam negeri, bukan hanya repackaging," ujar dr. Wicak saat ditemui di Forum Endokrinologi Nasional ke-14 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2026 di Hotel Aryaduta, Kota Bandung, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, fasilitas produksi yang sedang dibangun di Cikarang menjadi strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus menekan biaya produksi.
Di tengah gejolak nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, pihaknya juga memastikan belum akan melakukan penyesuaian harga produknya.
"Kami belum berpikir untuk menaikkan harga. Kami tahu produk obat saat ini sudah memiliki beban biaya yang cukup tinggi, termasuk pajak. Harga yang kami tetapkan sekarang pun masih lebih murah dibandingkan produk lain di kelas yang sama," katanya.
Sebagai salah satu contoh, dia menyebut produk enavogliflozin 0,3 mg, obat golongan (Sodium-Glucose Cotransporter 2) inhibitor untuk terapi diabetes melitus tipe 2, dipasarkan sekitar 5 hingga 10 persen lebih rendah dibandingkan produk sejenis.
Menurutnya, upaya menjaga harga obat tetap kompetitif menjadi penting mengingat jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta penyandang diabetes pada 2024 dan menempati peringkat kelima dunia. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta orang pada 2050.
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, mengatakan kehadiran enavogliflozin memberikan alternatif terapi baru sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk meningkatkan kualitas penanganan diabetes di Indonesia.
"Indonesia menghadapi beban diabetes yang terus meningkat, sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri menjadi penting untuk meningkatkan kualitas terapi serta luaran jangka panjang pasien," ujarnya.
Dalam forum yang sama, Korean Diabetes Association (KDA) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk memperkuat pertukaran akademik, hingga pendidikan medis terkait diabetes.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat kemitraan dengan komunitas medis di Indonesia, termasuk melalui pengembangan penelitian dan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan tata laksana diabetes.