Wakil Rektor UNIKI Telusuri Jejak Peradaban dan Nilai Keislaman di Jambi
Faisal Zamzami June 28, 2026 04:22 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Di sela pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) 2026 di Universitas Jambi pada 21–24 Juni 2026, Wakil Rektor III Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., CRP., CFRM., memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi dua ikon sejarah dan budaya Provinsi Jambi, yakni Candi Muaro Jambi dan Jembatan Gentala Arasy.

Dalam rilis yang diterima Serambinews.com, Jumat (26/6/2026), kunjungan tersebut disebut bukan sekadar wisata, melainkan perjalanan intelektual yang mempertemukan sejarah peradaban, nilai pendidikan, budaya lokal, dan semangat keislaman yang tumbuh harmonis di Tanah Pilih Pusako Batuah.

Sebagai akademisi yang membidangi kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama, Dr. Kamaruddin menilai setiap daerah memiliki nilai pembelajaran yang dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter mahasiswa.

"Jambi merupakan salah satu daerah yang mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan sejarah dengan perkembangan kehidupan masyarakat modern yang religius," ujarnya.

Perjalanan dimulai dari Kompleks Candi Muaro Jambi yang berjarak sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Jambi. Kawasan percandian seluas hampir 4.000 hektare itu merupakan salah satu cagar budaya terbesar di Asia Tenggara yang diperkirakan dibangun pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi pada masa Kerajaan Melayu dan Sriwijaya.

Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan Buddha, Muaro Jambi diyakini sebagai salah satu pusat pendidikan terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Berbagai penelitian arkeologi menunjukkan kawasan tersebut menjadi tempat belajar para biksu dan cendekiawan dari berbagai wilayah Asia.

Baca juga: Empat Dosen UNIKI Bireuen Lolos Inspiring Lecturer Program 2026, Ini Nama & Prodinya

Tokoh Buddhisme, Atisha Dipamkara, disebut pernah menimba ilmu kepada Guru Besar Dharmakirti Swarnadwipa di kawasan itu sebelum melanjutkan perjalanan intelektualnya ke India dan Tibet. Aktivitas pembelajaran ketika itu meliputi filsafat, pengobatan, arsitektur, seni, hingga ilmu keagamaan, sehingga banyak ahli menyebut Muaro Jambi sebagai "universitas" kuno Nusantara.

Menurut Dr. Kamaruddin, keberadaan Muaro Jambi menjadi bukti bahwa tradisi akademik di Nusantara telah berkembang jauh sebelum lahirnya perguruan tinggi modern.

"Perguruan tinggi saat ini memiliki tanggung jawab melanjutkan tradisi keilmuan tersebut melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, dalam perspektif Islam, semangat mencari ilmu merupakan perintah yang sangat luhur. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW diawali dengan kata Iqra' (bacalah), yang menegaskan bahwa peradaban dibangun melalui ilmu pengetahuan.

"Karena itu, Muaro Jambi bukan dipandang sebagai simbol perbedaan agama, melainkan bukti bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu telah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan yang patut dihormati dan dilestarikan," ujarnya.

Usai mengunjungi Muaro Jambi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jembatan Gentala Arasy yang membentang di atas Sungai Batanghari.

Jembatan pejalan kaki sepanjang sekitar 530 meter itu dibangun pada 2012 dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla. Di kawasan tersebut juga berdiri Menara Gentala Arasy yang berfungsi sebagai museum sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Jambi.

Menurut Dr. Kamaruddin, keberadaan Gentala Arasy menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya bertujuan memperlancar aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi media pelestarian sejarah dan pendidikan masyarakat.

"Menara museum yang berdampingan dengan jembatan menjadikan kawasan ini sebagai ruang belajar terbuka bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan Islam di Jambi," katanya.

Baca juga: Mahasiswa UNIKI Bireuen Lolos Final MTQ Mahasiswa Nasional 2026 Kategori Tilawah Al-Quran Putra

Sebagai perguruan tinggi Islam, UNIKI memandang proses pembelajaran tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Situs sejarah seperti Candi Muaro Jambi maupun kawasan Gentala Arasy dinilai sebagai laboratorium sosial yang mengajarkan pentingnya toleransi, penghargaan terhadap sejarah, pelestarian budaya, serta pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, pendidikan tinggi perlu mengintegrasikan pembelajaran berbasis kearifan lokal (local wisdom) agar mahasiswa memiliki wawasan global tanpa kehilangan identitas kebangsaan.

Ia juga menilai nilai-nilai masyarakat Jambi yang memegang teguh falsafah Melayu "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" menjadi contoh harmonisasi antara budaya dan ajaran Islam.

Meski Candi Muaro Jambi merupakan peninggalan masa Hindu-Buddha, masyarakat tetap merawat dan melestarikannya sebagai bagian dari identitas sejarah daerah tanpa mengurangi komitmen terhadap nilai-nilai Islam.

"Keharmonisan ini menjadi contoh nyata bagaimana sejarah dapat menjadi perekat persatuan. Islam mengajarkan pentingnya menjaga amanah, termasuk melestarikan peninggalan sejarah sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan identitas bangsa," ujarnya.

Bagi peserta MTQ Mahasiswa Nasional, kunjungan ke berbagai situs sejarah di Jambi menjadi pengalaman yang melengkapi kompetisi tilawah Al-Qur'an. Mereka tidak hanya belajar membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga menyaksikan bagaimana peradaban manusia berkembang melalui ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai moral yang diwariskan lintas generasi.

Di akhir kunjungannya, Dr. Kamaruddin menegaskan bahwa perjalanan ke Candi Muaro Jambi dan Gentala Arasy semakin menguatkan keyakinannya bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan antara ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai keislaman.

"Universitas tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang menghargai sejarah, mencintai budaya bangsa, serta mampu membangun masa depan dengan tetap berpijak pada akar peradaban," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.