Bina Remaja GMIM, Renungan 28 Juni - 4 Juli 2026, Didiklah Mereka di Dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan
Chintya Rantung June 28, 2026 05:50 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bina Remaja GMIM, Renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 28 Juni - 4 Juli 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada Efesus 6:1-9.

Tema perenungan adalah Didiklah Mereka di Dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan.

Khotbah:

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus,

Panggilan kita sebagai orang percaya dimulai dari keseharian kita. Itulah sebabnya bagaimana kita menjalani hidup secara 
pribadi, di dalam keluarga, dan bersama orang-orang terdekat, dapat mencerminkan apakah kita menghidupi panggilan dan identitas kita sebagai umat Allah atau sebaliknya. 

Sesudah Paulus membahas dasar doktrin di dalam surat Efesus yang meletakkan pang&n orang percaya yang telah dipihb 
Allah jauh sebelum dunia ada maka sekarang Paulus meletakkan hal-hal praktis yang dilakukan orang percaya berdasar pada keyakinan pemilihan Tuhan atas mereka. Di dalam Efesus 6:1-9.

Panggilan ini menjadi sangat spesifik, dimulai dari keluarga dan cara berinteraksi satu sama lain, termasuk di dalam hubungan kerja yang tercipta di dalam keluarga. 

Panggilan pertama adalah panggilan bagi semua orang. 

Walaupun ayat 1 menekankan panggilan kepada anak-anak, namun kita semua adalah anak-anak, bukan? Kita semua datang dari orang tua kita ayah dan ibu kita sehingga berapapun usia kita, kita akan selalu disebut anak-anak. 

Paulus berkata, "Hat anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan karena haruslah demilcian."

Panggilan sebagai umat Allah yang telah dan berada di dalam Kristus harus tercermin dari pelaksanaan hukum Tuhan, yakni menaati dan menghormati orang tua di dalam Tuhan. 

dari perintah ini adalah bahwa ia tercatat di dalam Keluaran 20 sebagai perintah pertama yang mendefinisikan 
Satu hal yang menarik hubungan kita dengan sesama.

Sesudah empat perintah pertama yang berbicara mengenai hubungan kita dengan Allah, maka perintah kelima 
menandai hal pertama yang harus kita lakukan dalam hubungan dengan sesama, yaitu: menghormati orang tua di dalam Tuhan karena haruslah demikian.

Hal menarik lainnya adalah perintah ini berbeda dari 9 perintah lainnya dalam Sepuluh Hukum Allah, karena perintah ini 
mengandung janji.

Saat dikatakan, "Hormatilah ayahmu dan lbumu," hal ini menjadi perintah yang sangat penting karena dilandasi janji. Paulus menegaskannya pada ayat 3: "supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi" 

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, 

Kita semua datang dari latar belakang keluarga yang berbeda. Masing-masing keluarga memiliki keunikan, kelebihan, dan 
kekurangan.

Tidak ada satu pun di antara kita yang datang dari keluarga yang sempurna. Demikian pula saat kita melihat orang tua kita, mereka pun adalah orang-orang yang terbatas.

Tetapi Tuhan tidak pernah salah tempatkan kita dalam sebuah keluarga.

Tuhan menghendaki agar kita menghidupi panggilan dan identitas kita sebagai umat Allah dari keluarga kita, dan cara yang dapat dilakukan adalah dengan menghormati orang tua kita.

Saat kita melakukannya, kita menunjukkan kepada dunia apa artinya menjadi umat Allah yang telah dipilih dan 
dikasihi oleh Allah, dan hal itu nyata pertama-tama dari keluarga kita. 

Penting untuk memahami bahwa perintah mengash sesama seperti dirimu sendiri perlu dilakukan pertama-tama mulai dari orang-orang terdekat.

Harus kita akui, sering kali kita bersikap berbeda antara orang-orang di luar keluarga dengan mereka yang ada di dalam keluarga. 

Kita bisa berkilah bahwa orang-orang terdekat sudah menerima diri kita apa adanya, dan ini sering dijadikan pembenaran 
untuk tidak menjaga sikap dalam mengasihi mereka.

Padahal, perintah mengasihi sesama dengan segenap hati harus dilakukan pertama-tama dari keluarga kita agar panggilan dan identitas sebagai umat Allah yang dipilih dan dikasihi Allah bisa dilihat oleh mereka yang dekat dengan 
kita.

Bukankah kita tidak mau menjadi batu sandungan? Jangan sampai keluarga kita melihat kita bersikap baik di luar rumah, namun bersikap lain ketika berada di dalam rumah.

Kita bisa saja terlihat sibuk melayani, memberkan yang terbak di sekolah atau di tempat kerja, namun gagal menjadi berkat di dalam rumah sendiri. 

Hal kedua yang ditegaskan Paulus adalah mengenai hubungan orang tua dan anak yang berjalan dua arah.

Sering kali orang tua bersikap acuh tak acuh, merasa bahwa karena mereka orang tua, maka segala tindakan mereka bahkan yang salah sekalipun dapat dibenarkan.

Ada banyak orang tua yang jatuh dalam skap egois, tidak mau berintrospeksi, dan tidak mau memperbaild diri sesuai kehendak Tuhan, Paulus menyentil hal ini dalam ayat 4 saat ia menekankan panggilan bagi bapak-bapak untuk menunjukkan kasih dengan "tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak."

Membangkitkan amarah di sini adalah sikap yang dapat memicu anak-anak untuk berontak dan tidak berskap sebagaimana mestinya. 

Sebagai contoh, seorang ayah yang hendak menegur anaknya untuk hal yang bak, namun melakukannya dengan cara yang salah. 

Niatnya mungkin benar, tetapi caranya keliru misalnya, saat memarahi atau meturuskan anak, ia melakukannya sambil membanding-bandingkan anaknya orang lain.

Hal ini dapat membangkitkan amararah dan kepahitan di dalam hati anak-anak.

Oleh karena itu, Paulus menegaskan bahwa didikan orang tua baik ayah maupun ibu haruslah didasarkan pada ajaran dan nasihat Tuhan.

Penting untuk menegaskan bahwa ajaran dan nasihat Tuhan bukanlah sekadar ajaran biasa.

Dunia ini juga membenkan banyak ajaran, namun banyak di antaranya jauh dari hikmat Tuhan. Karena itu, setiap bapak dan ibu perlu melakukan segala sesuatu di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 

Selanjutnya, Paulus berbicara tentang bagaimana menghidupi panggilan dan identitas sebagai umat Allah dalam konteks tugas pekerjaan.

Perlu diingat bahwa konteks masa Paulus sangat berbeda dengan kita hari ini; saat itu, status sebagai budak adalah realitas yang masif.

Kepada mereka yang berada dalam situasi ini dan telah menjadi Kristen, Paulus membenkan naskiat agar mereka tetap menghidupi identitas mereka sebagai umat Allah.

Paulus berkata, "Hai hambahamba, taatilah tuanmu dengan tulus hati.

Pengabdian mereka kepada tuan di dunia ini sebagai bentuk pelayanan kepada Kristus.

Kesadaran inilah yang membuat para hamba Kristen tidak hanya bekerja untuk mencari muka, tetapi melakukannya dengan segenap hati demi kehendak Allah. Dalam setiap pekerjaan tersebut, "Paulus menyamakan mereka sebenarnya sedang melayani Tuhan, bukan manusia. 

Kelak, identitas sebagai budak memang berangsur-angsur hilang seiring dengan kesadaran akan emansipasi dan kesetaraan hak asasi manusia.

Alkitab sendiri menunjukkan sumbangsih besar Kekristenan yang menolak perbudakan dan perlakuan tidak adil.

Hal ini juga Paulus dasarkan dalam nasihatnya kepada para tuan yang telah menjadi Kristen.

Paulus menasehati para tuan ini supaya memperlakukan budak mereka dengan penuh martabat karena mereka sadar Tuhan menliai segala sesuatu. 

Paulus menekankan agar mereka menjauhkan diri dari segala bentuk ancaman dan kekerasan, karena baik tuan maupun budak sama-sama memiliki Tuhan Yesus sebagai pemilik hidup mereka. 

Paulus mengingatkan, "Ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di surga dan Ia tidak memandang muka. " Baik  hamba yang bertindak dengan bak, maupun tuan yang memperlakukan hambanya dengan penuh kasih, semuanya akan menerima balasannya dari Tuhan yang sama-sama mereka layani. 

Kakak-kakak pernbina dan remaja yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Dalam hal inilah penerapan ajaran dan nasihat Tuhan diberlakukan dalam hidup orang percaya.

Penerapan iman tidak boleh dilthat pertama-tama dari hal yang jauh dari kita, melainkan harus dimulai dari hal-hal yang paling dekat: bagaimana kita berlaku di tengah rumah terhadap orang tua, anak, kakak, adik atau orang-orang di sekitar kita. 

Dunia ini menuntut keteladanan dari setiap orang percaya.

Kita sering menggunakan istilah bahwa orang percaya adalah "surat Kristus" yang dapat dibaca oleh semua orang. Maka, menerapkan ajaran dan nasihat Tuhan akan berdampak pada kesaksian kita di tengah dunia ini. 

Dalam ketaatan seperti inilah janji kebahagiaan dan panjang umur diberikan Tuhan kepada mereka yang mau taat kepada perintah-Nya. 

Biarlah hal ini mendorong kita semua untuk memperlakukan orang lain dengan cara yang bermartabat.

Seorang remaja seharusnya menjauhkan diri dari segala bentuk bullying, di mana seseorang diperlakukan jauh dari harkat dan martabatnya sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Kelak, apa yang kita biasakan di masa remaja akan terbawa sampai usia kita dewasa.

Sebagai umat Allah yang menghidupi panggilan dan identitas di tengah dunia ini, kita perlu menunjukkan bahwa kita melaksanakan ajaran dan nasihat Tuhan, pertama-tama dengan memperlakukan orang lain dengan baik.

Maukah kita melaksanakan hal ini dalam kehidupan kita setiap hari? Biarlah ajaran dan nasihat Tuhan tidak hanya berhenti di dalam khotbah atau penelaahan Alkitab, tetapi berwujud dalam sikap hidup kita sehari-hari, supaya Kristus senantiasa dimuliakan melalui hidup kita. Amin. 

Sumber: KPRS GMIM edisi Juni - Juli 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.