Harga Kopi Rejang Lebong Naik ke Rp55 Ribu per Kilogram, Petani Berharap Tak Turun Lagi
Ricky Jenihansen June 28, 2026 05:54 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Harga kopi di Kabupaten Rejang Lebong kembali mengalami kenaikan pada akhir Juni 2026.

Saat ini, harga jual kopi di tingkat pengepul berkisar antara Rp 54 ribu hingga Rp 55 ribu per kilogram, tergantung kualitas biji kopi yang dijual petani.

Harga tersebut meningkat dibandingkan beberapa waktu sebelumnya yang berada pada kisaran Rp 49 ribu hingga Rp 51 ribu per kilogram.

Salah satu tauke kopi di Rejang Lebong, Yongki, membenarkan adanya kenaikan harga kopi dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, peningkatan harga tersebut mulai dirasakan oleh para pelaku usaha kopi maupun petani yang menjual hasil panennya.

Harga kopi bisa mencapai Rp 55 ribu per kilogram jika kualitasnya bagus dan kering.

"Iya benar, dalam beberapa hari terakhir harga kopi kembali naik. Saat ini kisarannya Rp 54 ribu sampai Rp 55 ribu per kilogram, tergantung kualitas kopi yang diterima," sampai Yongki kepada TribunBengkulu.com pada Minggu (28/6/2026).

Meski demikian, Yongki mengaku belum dapat memastikan bagaimana pergerakan harga kopi pada waktu mendatang.

Menurutnya, fluktuasi harga kopi sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga di pasar internasional.

"Kami tidak bisa memastikan apakah nanti akan naik lagi, bertahan, atau justru turun. Karena harga kopi memang mengikuti perkembangan harga dunia," ujarnya.

Petani Berharap Harga Tetap Tinggi untuk Menutup Biaya Produksi

Sementara itu, salah seorang petani kopi di Rejang Lebong, Dasman, menyambut baik kenaikan harga kopi yang terjadi saat ini.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi angin segar bagi para petani setelah menghadapi meningkatnya biaya produksi pertanian.

Ia berharap harga kopi dapat terus bertahan pada level saat ini atau bahkan kembali mengalami kenaikan sehingga pendapatan petani dapat meningkat.

"Kenaikan harga kopi ini tentu menjadi angin segar bagi kami para petani. Harapannya harga bisa tetap tinggi atau bahkan naik lagi dan tidak kembali turun," ujar Dasman.

Ia menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir harga pupuk serta obat-obatan pertanian mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya perawatan kebun kopi semakin besar.

Menurut Dasman, apabila harga kopi tetap tinggi, hasil penjualan panen dapat membantu petani memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga biaya perawatan tanaman agar produktivitas kebun tetap terjaga.

"Kalau harga kopi bagus, tentu keuntungan yang kami peroleh bisa mencukupi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, sekaligus untuk membeli pupuk dan obat-obatan agar tanaman tetap dirawat dengan baik," tuturnya.

Dengan kembali meningkatnya harga kopi pada akhir Juni 2026, para petani di Rejang Lebong berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kopi.

Harga Pupuk Non-Subsidi Alami Kenaikan

Sebelumnya, salah satu penjual pupuk di Rejang Lebong, Saropi, mengatakan kenaikan harga pupuk non-subsidi sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

Hal ini tentu saja berdampak terhadap daya beli masyarakat, khususnya petani kopi.

Kenaikan terjadi pada sejumlah jenis pupuk, seperti Urea, HCL, dan NPK Mutiara, serta beberapa jenis obat-obatan pertanian.

Menurutnya, harga pupuk Urea yang sebelumnya berada di kisaran Rp 685 ribu per karung dengan berat 50 kilogram kini naik menjadi Rp 725 ribu per karung.

Sementara itu, pupuk NPK Mutiara dengan berat 50 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp 880 ribu per karung kini mencapai Rp 925 ribu per karung.

Selain pupuk, berbagai jenis obat-obatan pertanian atau racun juga mengalami kenaikan harga.

Besaran kenaikannya bervariasi, yakni sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per kemasan, tergantung jenis produk.

"Sudah naik sejak beberapa pekan terakhir. Untuk pupuk dan obat-obatan pertanian sama-sama mengalami kenaikan harga," ungkap Saropi saat diwawancarai wartawan TribunBengkulu.com pada Selasa (2/6/2026) lalu.

Saropi mengungkapkan, kenaikan harga tersebut turut memengaruhi jumlah pembeli yang datang ke tokonya.

Dibandingkan sebelumnya, jumlah pembelian saat ini cenderung menurun.

Menurutnya, sebagian petani memilih mengurangi pembelian atau menunda pembelian pupuk karena harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan mereka.

"Lumayan jauh menurun, soalnya banyak yang mengurangi penggunakan pupuk karena harganya lumayan mahal," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.